Satu Bulan Jabat Kapolres, Ini Cerita AKBP Radiant Soal Ponorogo

Editor: Arif Ardianto / Reporter: Mita Kusuma

Kapolres Ponorogo AKBP Radiant.

jatimnow.com - Sebulan menjadi Kapolres Ponorogo, AKBP Radiant sudah mulai bisa menyesuaikan diri. Permasalahan kota Reog itu perlahan diurai oleh suami dari Dewi Arnita Ivan ini.

Siapa sebenarnya sosok AKBP Radiant? Yang mampu menguraikan masalah sosial satu demi satu ini. Jatimnow.com, sempat berbincang secara khusus dengan AKBP Radiant, Kamis (19/4/2018) pagi.

AKBP Radiant menceritakan masa kecilnya hingga bisa duduk menjadi Kapolres Ponorogo penuh liku. Ia menjelaskan, bahwa lahir di Jawa tapi besar di Makassar.

"Saya lahir di kota Metropolitan Surabaya. Tapi besar di Makassar. Asli saya Bugis. Kedua orang tua asli sana. Termasuk saya bertemu jodoh juga di Makassar dan dari Makassar," cerita bapak tiga orang anak ini.

Sebelum resmi menjadi Kapolres Ponorogo, AKBP Radiant bertugas di Ditreskrimsus Polda Jatim. Tidak hanya itu, selama 20 tahun mengabdi, pria kelahiran 28 Mei 1974 ini dihabiskan di unit Reskrim.

"Dari kejahatan jalanan sampai kejahatan ekonomi pernah saya tangani. Menjadi Kapolres merupakan amanah tersendiri. Karena semua persoalan harus selesai," kata lulusan AKPOL 1998 ini.

Ia menjelaskan, saat pertama mendengar mendapat amanah menjadi Kapolres Ponorogo malah dari teman lettingnya. Saat itu, dirinya mengaku sudah mau beristirahat.

"Saat ada TR turun yang tahu malah teman letting saya. Banyak ucapan selamat karena telah menjadi Kapolres Ponorogo," katanya.

Ia pun mencari tahu tentang kota Reog ini. Karena sepanjang karirnya di Polda Jatim, AKBP Radiant tidak pernah menginjakkan kaki di Ponorogo.

Bahkan, kasus yang ditangani hanya sampai Madiun Kabupaten. "Jadi saya buta tentang Ponorogo. Saya menangani mutilasi tapi di Madiun," katanya.

Dan semua permasalahan tentang Kabupaten Ponorogo mulai terjawab satu per satu. Ia mengatakan, belajar banyak dari Kapolres yang menjabat sebelum dirinya.

Ia membeberkan, seperti konflik bentor yang melanggar undang-undang, ia mulai tengahi.

"Saya uraikan satu per satu. Tentang becak kemarin ada lomba ketangkasan ya," katanya.

Lantas, untuk permasalahan sosial lainnya? Ia berjanji akan lebih mendalami kembali. Seperti masalah waduk bendo, pedagang kaki lima, pabrik Sampung dan lain-lain.

Ia pun berharap, jika memang ada aksi unjuk rasa, sebaiknya hanya dilakukan saat jam kerja. Dan selama lima hari.

"Kalau bisa paling tidak demo nya sampai Jumat saja. Biar anggota saya juga bisa istirahat," pungkasnya.

Reporter: Mita Kusuma
Editor: Arif Ardianto

Tinggalkan Komentar

jatimnow.com menyajikan pemberitaan di daerah Jawa Timur dan sekitarnya, menyajikan berita yang dikemas dengan apik tanpa mengabaikan nilai-nilai jurnalisme.

Jalan Jimerto No. 17a Surabaya

Call:  (031) 99248116

Email: jatimnow@gmail.com

Newsletter