Tolong! Bayi 5 Bulan Penderita Hidrosefalus ini Butuh Bantuan

Editor: Redaksi / Reporter: Sandhi Nurhartanto

Dina Oktavia bersama bayinya yang didiagnosa penyakit Facial Cleft Tessier Hidrosefalus Myelomeningocele

jatimnow.com - Muhammad Pandhu Firmansyah, seorang bayi yang berusia lima bulan sesuai dengan yang tertulis di rekam mediknya didiagnosa mengidap penyakit Facial Cleft Tessier Hidrosefalus Myelomeningocele.

Putra pasangan Dina Oktavia (21) dan Muhammad Abdul Aziz (23) ini kini tinggal di sebuah rumah petak di Jojoran STAL 5B, Kelurahan Airlangga, Kecamatan Gubeng, Surabaya.

Bayi ini kini dirawat oleh Dina Oktavia karena suaminya M Abdul Aziz meninggalkan dirinya saat mengetahui kondisi putra pertama mereka mengalami kelainan sejak lahir.

Bahkan mertuanya juga merasa malu dan tidak mau mengakui cucunya dengan kondisi memprihatinkan itu.

"Sejak lahir sampai sekarang, mertua tidak pernah sekalipun menengok anak saya. Katanya, malu punya cucu seperti ini," kata Dina, Minggu (1/2/2019).

Dina yang saat itu didampingi Isa Anshori (Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak Jawa Timur) dan Daniel Lukas Rorong (Ketua Komunitas Tolong Menolong), baru saja pulang dari rumah sakit setelah bayinya baru saja menjalani operasi pemasangan selang untuk saluran cairan di kepalanya di Rumah Sakit Umum dr Soetomo Surabaya.

Menurutnya, dengan kondisi seperti ini anaknya tidak bisa memakai dot untuk minum susu formula. Bahkan, untuk minum ASI pun, Pandhu tidak bisa dan harus disuapi sedikit demi sedikit dengan memakai sendok.

"Sebenarnya saya ingin memberinya ASI, namun ASI saya tidak keluar. Pernah saya coba pompa, namun tetap tidak keluar," ujarnya sambil menggendong Pandhu yang saat itu sedang rewel.

Derita Dina tidak berhenti sampai disitu. Suaminya sudah menyuruh dirinya untuk mengurus surat cerai.

"Asal itu membuatnya bahagia, saya tidak masalah. Karena yang terpenting adalah kesembuhan anak saya, Pandhu," ujar Dina yang berencana akan mengurus surat cerainya setelah kondisi Pandhu sudah stabil pasca operasi.

Ia menceritakan, di rumah petaknya yang berukuran 2x6 meter ini, dirinya pernah dua kali digigit tikus di bagian kaki saat usia kehamilan menginjak 5 bulan.

Bahkan sampai berdarah. Sempat diperiksakan ke dokter, hanya diberi obat oles luar saja.

"Di rumah saya memang banyak tikusnya. Maklum, lingkungannya kumuh. Bahkan saat hujan turun, ya banjir lantainya karena atapnya ada yang bocor," katanya.

Gara-gara digigit tikus saat hamil, kemungkinan besar penyebab bayinya lahir dengan kondisi seperti ini.

"Kata dokter yang pernah memeriksa saya serta Pandhu, demikian," ungkapnya.

Selama hamil, Dina mengaku tidak pernah meminum obat-obatan saat sakit.

"Untuk makan sehari-hari saja susah," ujarnya.

Bahkan saat hamil, ia pun tidak pernah ngidam yang aneh-aneh.

Sejak awal berhubungan pasangan ini tidak mendapatkan restu dari orangtua suaminya. Faktor ekonomi dan strata sosial keluarga Dina menjadi penyebab utamanya.

"Saya sudah seringkali mengingatkan untuk menyudahi hubungan ini namun dia tidak mau. Bahkan, dia pernah teriak-teriak di depan rumah agar saya bersedia untuk menikah dengannya, akhirnya saya pun luluh," kenangnya.

Mantan customer service di toko elektronik terbesar di Surabaya dan karyawan toko ini akhirnya menikah pada tahun 2018 di usianya yang masih 20 tahun.

Setelah menikah dan akhirnya hamil, maka Dina pun memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus pada kehamilan pertamanya tersebut.

Berharap Bantuan Rumah Susun

Anak terakhir dari empat bersaudara ini hanya berharap agar Pandhu anaknya bisa sembuh. Menurut jadwal, operasi selanjutnya yakni operasi plastik akan dilakukan lima bulan ke depan.

Sambil menunggu jadwal operasi selanjutnya, Pandhu juga harus rutin kontrol. Dina juga berencana akan membuka usaha di bidang minuman yakni es juice dan es puding susu.

Bantuan donasi yang diterimanya dari para donatur seperti Komunitas Tolong Menolong, Yayasan Hidayatullah dan Komunitas Bendino Masak akan dipakainya untuk menyambung hidup.

Karena sejak melahirkan sampai sekarang, suaminya tidak pernah memberinya nafkah. Ditambah kondisi dirinya yang tidak bisa bekerja dikarenakan fokus merawat anaknya.

"Saya sempat diterima kerja sebagai kasir di perusahaan retail di kawasan Rungkut, pertengahan November ini. Tapi baru sehari masuk kerja, saya tidak bisa masuk lagi dikarenakan Pandhu rewel saat itu sehingga saya putuskan untuk mengundurkan diri saja," ungkap mantan Sales Promotion Girl (SPG) ini.

"Untuk saat ini, saya ingin bekerja di rumah saja, seperti membuat es juice atau puding susu yang dijual melalui online. Supaya saya bisa fokus merawat Pandhu," imbuh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Jurusan Pariwisata ini.

Dina berharap ada bantuan rumah susun dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur dan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, dikarenakan rumah petak yang ditinggalinya saat ini merupakan milik dari adik ibunya, yang akan dijual dalam waktu dekat.

"Semoga Bu Khofifah (Gubernur Jawa Timur) dan Bu Risma (Wali Kota Surabaya) mendengar harapan saya ini", ujar Dina.

Daniel Lukas Rorong, relawan pendamping dari Komunitas Tolong Menolong berencana akan mencarikan rumah kontrakan yang lebih layak ditempati untuk sementara waktu.

"Sembari menunggu bantuan rumah susun dari pemerintah, kami Komunitas Tolong Menolong akan berupaya untuk mencarikan tempat tinggal yang lebih layak untuk Ibu Dina dan Bayi Pandhu," kata Daniel yang juga Humas "Perhimpunan Driver Online Indonesia" (PDOI) Jawa Timur.

"Kami juga akan mendampingi dari segi finansial termasuk membantu rencana Ibu Dina untuk membuka usaha agar beliau bisa mandiri ke depannya dan memiliki penghasilan," imbuhnya.

Hal senada juga diucapkan Isa Ansori, Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur.

"Pihak kami (LPA Jawa Timur) akan mendampingi Bayi Pandhu dan ibùnya agar mendapatkan bantuan rumah susun serta kebutuhan yang diperlukan lainnya. Kami tidak akan tinggal diam dan main-main dengan kondisi yang dialami keluarga tidak mampu ini," kata Isa Ansori.

Loading...

jatimnow.com menyajikan pemberitaan di daerah Jawa Timur dan sekitarnya, menyajikan berita yang dikemas dengan apik tanpa mengabaikan nilai-nilai jurnalisme.

Jalan Jimerto No. 17a Surabaya

Call:  (031) 99248116

Email: jatimnow@gmail.com

Newsletter