Pixel Code jatimnow.com

Pilwali Surabaya 2020

Tokoh NU ini Sesalkan Histeria Pilwali di Kantor PCNU Surabaya

Editor : Narendra Bakrie Reporter : Jajeli Rois
Tangkapan layar video viral Pengurus PCNU Kota Surabaya dan sejumlah orang berfoto di depan layar bergambar Ketua DPP PDIP Bidang Politik, Puan Maharani
Tangkapan layar video viral Pengurus PCNU Kota Surabaya dan sejumlah orang berfoto di depan layar bergambar Ketua DPP PDIP Bidang Politik, Puan Maharani

jatimnow.com - Salah satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU), KH Ahmad Dzul Hilmi menyesalkan histeria para pengurus PCNU dan tamunya yang melakukan histeria di Kantor PCNU Surabaya saat nonton bareng (nobar) pengumuman bakal calon wali kota dan wakil wali kota dari PDIP.

"Saya paling tidak setuju NU dikait-kaitkan dengan dukung-mendukung calon bupati, calon wali kota atau calon kepala daerah. Kalau sekarang ini tempatnya di PCNU, kemudian ada eforia (histeria) seperti itu, sehingga seolah-olah NU masih terlibat politik praktis," ujar KH Dzul Hilmi, Kamis (3/9/2020).

"NU sebetulnya sudah kembali ke Khittah 1926. NU tidak mengurusi masalah politik praktis, termasuk pilkada. Kalau secara pribadi dan tidak membawa organisasi, silahkan. Malah warga NU harus ikut mensukseskan pemilu," tuturnya.

Baca juga:  Viral Video Histeria di Kantor PCNU Surabaya saat PDIP Umumkan Rekom

KH Dzul Hilmi yang pernah menjadi Rois Syuriah PCNU Kota Surabaya periode 2010-2015 ini menegaskan, pembicaraan mengenai pemilu atau pilkada tidak boleh bertempat di kantor PCNU atau kantor pengurus NU. Kalau membicarakan politik praktis, harus di luar kantor dan tidak membawa nama organisasi NU.

Ketua PCNU Surabaya Muhibbin Zuhri (paling kanan) disalami dan ikut gembira saat PDIP umumkan rekomendasi untuk Eri Cahyadi sebagai bakal calon wali kotaKetua PCNU Surabaya Muhibbin Zuhri (paling kanan) disalami dan ikut gembira saat PDIP umumkan rekomendasi untuk Eri Cahyadi sebagai bakal calon wali kota

"Pembicaraan sedikit saja mengenai politik tidak boleh di situ. Meskipun orangnya sedikit saja, juga tidak boleh membicarakan di kantor NU. Apalagi ini nonton bareng, eforia melibatkan orang banyak. Itu berarti melanggar aturan organisasi NU sendiri," tegasnya.

Menurutnya, tidak bisa dijadikan alasan kalau acara nobar hingga histeria dari pengurus PCNU dan beberapa tamu dari Citraland itu karena Eri Cahyadi yang diakui sebagai kader NU mendapatkan rekomendasi dari PDIP sebagai bakal calon wali kota Surabaya. Juga tidak bisa menjadi alasan, kalau nobar pengumuman itu tidak direncanakan.

"Kalau tidak direncanakan berarti tidak ditonton. Kalau sudah nonton barengan berarti sudah direncanakan. Padahal membicarakan pencalonan saja tidak boleh di kantor," terangnya.

Menurutnya, Ketua PCNU Surabaya harus bisa memberikan arahan kepada pengurus lainnya untuk tidak membicarakan pencalonan atau politik praktis di kantor. Bukan malah ikut nonton bareng.

"Harusnya (Ketua PCNU) memberikan arahan yang baik kepada pengurus lainnya bahwa di kantor tidak boleh membicarakan pencalonan atau politik praktis. Ini disengaja nonton bareng. Berarti sudah tahu dan sudah direncanakan. Itu bukan spontanitas," tambah KH Dzul Hilmi.

Baca juga:
Machfud Arifin Ikhlas dan Doakan Eri Cahyadi-Armudji

Pengumuman rekomendasi bakal calon wali kota dan wakil wali kota dari PDIP disambut histeria pengurus PCNU dan tamu dari Citraland di Kantor PCNU SurabayaPengumuman rekomendasi bakal calon wali kota dan wakil wali kota dari PDIP disambut histeria pengurus PCNU dan tamu dari Citraland di Kantor PCNU Surabaya

KH Dzul Hilmi yang juga Imam Masjid Agung Sunan Ampel ini berharap kejadian itu tidak terulang lagi. Dan menjadikan PCNU Surabaya menjadi percontohan yang baik bagi NU daerah lainnya.

"Kami sebetulnya ingin NU di Surabaya menjadi percontohan, karena mengingat sejarahnya bahwa kantor ini pertama kali berkantor PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama)," paparnya.

"NU di Surabaya harusnya menjadi contoh teladan, patuh pada AD ART yang ada, kembali ke khittah. Jangan sampai menyimpang dan melanggar aturan sendiri," tambahnya.

KH Dzul Hilmi menceritakan, ketika dirinya menjadi pengurus di PCNU Surabaya, tetap pendirian tidak mau terlibat dalam politik praktis dan pencalonan di Piwali Surabaya 2010 lalu.

"Dulu kami menjabat selama 5 tahun di PCNU. Saya betul-betul pegang erat AD ART dan Khittah 1926. Banyak yang menginginkan kami bergeser membantu pencalonan, tapi saya tetap tidak mau. Karena kami tegaskan NU kembali ke khittah 1926 dan tidak bisa dukung-mendukung salah satu calon yang ada," terangnya.

Baca juga:
Kuasa Hukum MAJU Sayangkan Dana Kampanye Erji Nol Rupiah Tak Ditindak

"Tidak boleh membawa nama organisasi. Secara pribadi, warga NU harus mensukseskan pemilihan kepala daerah. Warga nahdliyin terserah memilih siapa sesuai pilihannya," jelas KH Dzul Hilmi.

Video pengurus PCNU Surabaya sorak sorai di kantornya Jalan Bubutan, Surabaya saat PDIP mengumumkan bakal calon wali kota dan wakil wali kota di Pilwali Surabaya 2020 itu viral.

Histeria di Kantor PCNU Surabaya pada Rabu (2/9/2020) itu dilakukan setelah pengurus dan orang-orang yang ada di sana melihat dan mendengar bahwa yang ditunjuk PDIP adalah Eri Cahyadi dan Armudji.

Ketua PCNU Surabaya Muhibbin Zuhri menyebut bahwa nonton bareng (nobar) pengumuman calon PDIP untuk Pilwali Surabaya 2020 itu digelar tidak disengaja.

"Tadi memang ada acara penyerahan pengelolaan masjid dari Citraland ke PCNU. Setelah acara bubaran, ada teman-teman yang mendapatkan informasi tentang pengumuman rekomendasi. Kemudian nonton bareng," ujar Muhibbin saat dikonfirmasi jatimnow.com, Rabu (2/9/2020).