Pixel Code jatimnow.com

Serahkan Bantuan, Khofifah Minta Warga Pasuruan Tak Gunakan untuk Judi

Editor : Sandhi Nurhartanto   Reporter : Moch Rois
Penyerahan bantuan oleh Gubernur Khofifah di Pasuruan
Penyerahan bantuan oleh Gubernur Khofifah di Pasuruan

jatimnow.com - Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mengunjungi Desa Randugong, Kecamatan Kejayan, untuk menyerahkan bantuan keuangan dan permodalan kepada warga Kabupaten Pasuruan, Senin (28/9/2020).

Didampingi Wakil Bupati Pasuruan, A Mujib Imron, Khofifah minta agar uang bantuan keuangan untuk pemulihan ekonomi Jawa Timur ini dimanfaatkan sebaik-baiknya dan tidak digunakan untuk bermain judi online.

"Pak Wabup (wakil bupati), saya itu terima banyak link. Ternyata sekarang ini banyak togel online, banyak lotre online, judi toto online. Saya khawatir bansos dipakai itu (judi). Saya khawatir BLT dipakai itu. Saya khawatir PKH dipakai itu. Ini ngeri sekali, karena awal itu sepuluh ribu. Sekarang ini seribu totoane iso sewu," jelas Khofifah Indar Parawansa.

Mendapati keresahan itu, Khofifah pun melontarkan pertanyaan terkait apakah warga di Desa Randugong banyak yang ikut judi online.

"Saya tanya, disini ada apa ada (judi online)?," tanya Khofifah

Menanggapi itu, warga pun kompak teriak menyangkalnya.

Baca juga:
Polres Kediri Serahkan Bantuan Sumur Bor Untuk Musala

"Tidak..., tidak ada," jawab kompak peserta.

Mendengar jawaban itu, gubernur perempuan pertama di Jawa Timur ini mengucap kalimat syukur.

"Alhamdulillah," balasnya.

Baca juga:
15 Penerima Bansos di Kota Kediri Ajukan Reaktivasi Usai Dicoret karena Indikasi Judol

Selain penyerahan simbolis 1.900 sertifikat tanah gratis dan meninjau rumah warga bersama petugas sensus penduduk, Khofifah juga memberikan bantuan 1.000 masker serta mengingatkan warga agar terus menerapkan protokol kesehatan.

Saat Harapan Berubah Menjadi Tekanan
Catatan atas Kasus Viral “Pramugari” Khairun Nisa

Saat Harapan Berubah Menjadi Tekanan

Kisah viral tentang seorang perempuan muda yang berpura-pura menjadi pramugari Batik Air justru membuka lapisan persoalan yang jauh lebih dalam