jatimnow.com

Guru Besar Unesa Teliti Biji Karet Jadi Bahan Bakar Diesel

Editor : Arina Pramudita Reporter : Farizal Tito
Guru Besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof Dr I Wayan Susila. (Foto: Humas Unesa/jatimnow.com) 🔍
Guru Besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof Dr I Wayan Susila. (Foto: Humas Unesa/jatimnow.com)

Surabaya - Guru Besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof Dr I Wayan Susila, menemukan inovasi bahan bakar alternatif berbahan baku biji karet.

Inovasi itu merupakan hasil risetnya yang berjudul Biodiesel dari Bahan Baku Biji Karet. Biodiesel merupakan bahan bakar mesin diesel yang sebagian atau seluruhnya berasal dari bahan organik.

Prof Wayan mengungkapkan, selain bahan baku biodiesel berupa biji karet mudah ditemukan dan melimpah, temuan ini merupakan langkah strategis menghasilkan sumber energi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sebagai bahan bakar minyak (BBM).

Loading...

Berdasarkan data yang dihimpunnya, Indonesia merupakan negara pengahasil karet terbesar di dunia dengan total produksi mencapai 3,55 juta ton pada 2019. Luas perkebunan karet mencapai 3,4 juta hektar. Dengan demikian limbah biji karet pun melimpah.

Selain itu, setiap hektar ada 550 pohon karet dan setiap satu pohon bisa menghasilkan sekitar 100 buah. Sekitar 75% buah karet jatuh ke tanah dan biji segarnya ada sekitar 70%. Sementara yang dapat dipungut sekitar 80%.

Jika dirinci, berat biji karet segar setiap butirnya sekitar 3 gram. Dalam setahun, Indonesia bisa menghasilkan sekitar 689.834 ton biji karet segar. Dari data tersebut, setidaknya bisa menghasilkan biodiesel sekitar 137.966.000 liter pertahun.

“Indonesia punya perkebunan karet yang luas, tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal," ujar Prof I Wayan Susila, Rabu (15/12/2021).

Biji karet memiliki kelebihan karena mengandung karbohidrat tinggi yang dapat dijadikan bahan biodiesel. Proses produksi biji karet sebagai biodiesel non katalis memiliki metode yang lebih sederhana dibanding metode produksi biodiesel katalis.

Prosesnya dimulai dari pemungutan biji karet yang masih segar, lalu dilakukan proses pengupasan kulit dan dipress pada mesin hingga menghasilkan minyak biji karet yang memiliki asam lemak bebas tinggi, tetapi dapat diproses secara langsung karena tanpa menggunakan katalisator.

“Sedangkan dalam produksi biodiesel dengan metode katalis, tidak dapat langsung diproses karena dapat menyebabkan penyabunan. Ini juga yang menjadi keunggulan dari metode non katalis karena dapat dilakukan dengan lebih cepat,” tambahnya.

Menurutnya, metode non katalis memiliiki beberapa kelebihan sekaligus untuk mengatasi kelemahan metode katalis, kadar airnya rendah dan pun waktu produksi lebih singkat.

Penelitian lanjutan biodiesel dari bahan biji karet telah disesuaikan dengan standar Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi No 189 K tahun 2019.

“Ke depannya, Unesa diharapkan dapat bekerja sama dengan PTPN XII untuk pengembangan lebih lanjut biodiesel dengan bahan baku biji karet ini. Unesa sebagai penyedia teknologi dan PTPN XII sebagai penyedia bahan baku. Kami juga berharap ke depannya dapat mematenkan penemuan ini,” tutupnya.