jatimnow.com

Puncak HUT ke-17, Sanggar Daun Tampilkan Karya 2 Pelukis Cilik Gresik

Editor : Zaki Zubaidi Reporter : Sahlul Fahmi
Pengunjung menikmati karya yang dipamerkan Art Journey Into The Future di Galeri Icon Mall Gresik, Sabtu (18/12/2021). (Foto: Sahlul Fahmi/jatimnow.com) 🔍
Pengunjung menikmati karya yang dipamerkan Art Journey Into The Future di Galeri Icon Mall Gresik, Sabtu (18/12/2021). (Foto: Sahlul Fahmi/jatimnow.com)

Gresik - Sanggar Daun menggelar even puncak peringahatan HUT ke-17 tahun bertajuk Art Journey Into The Future di Galeri Icon Mall Gresik, Sabtu (18/12/2021) petang. Menampilkan karya lukisan 2 siswanya yang berasal dari Gresik, Annisa Nismara Halimah (6 ) dan Isabell Nufail Roses (10 ).

Pendiri dan pembina Sanggar Daun, Arik S. Wartono mengatakan, pameran lukisan ini adalah even ke-6 yang digelar Sanggar Daun untuk merayakan HUT ke-17. Tak hanya itu, pameran ini juga menjadi agenda Biennale Jatim IX 2021.

Dalam pameran duet Annisa dan Isabell ini menyuguhkan 40 karya lukis media cat air dan akrilik dengan beragam teknik, mulai realis hingga ekspresif-naif painting. Ada 12 karya berukuran 1x1 meter, sedang 28 karya lainnya memiliki ukuran yang lebih kecil.

“Dua seniman ini asli dari Kabupaten Gresik yang sudah menyabet penghargaan nasional bahkan internasional,” kata Arik S. Wartono

Loading...

Arik menjelaskan jika Annisa Nismara Halimah merupakan siswi kelas 1 SD Al Islam Cerme itu telah telah mengoleksi 2 penghargaan nasional dan 7 penghargaan internasional. Putri kedua dari pasangan Hendro Karyono, dan Nurul Febriyanti ini mulai belajar di Sanggar Daun sejak berusia 4 tahun.

“Kemampuan terbaik Annisa adalah dalam teknik melukis ekspresif naif painting,” ujar Arik

Sedangkan Isabell Nufail Roses yang tercatat sebagai siswi kelas 4 SDN Ngabetan Cerme saat ini telah mengoleksi 2 penghargaan nasional dan 10 penghargaan internasional. Putri pertama dari pasangan Fakhrudin Mawardi dan Dian Handayani ini mulai belajar di Sanggar Daun sejak berusia 5 tahun.

“Kalau Isabell ini terbaik dalam teknik melukis realisme,” ucapnya.

Lebih jauh Arik menyampaikan, dalam metode mengajar, Sanggar Daun Gresik selalu berupaya mengembangkan apa yang anak bisa, dengan idak melakukan intervensi lebih pada anak.

“Kalau sudah kelihatan bisa melukis, baru kami arahkan. Annisa dan Isabell berkarya secara alami dari dirinya sendiri,” ujarnya.

Sementara orang tua Ayah Isabell, Fahruddin mengaku bangga dengan apa yang dihasilkan anak pertamanya itu. Dalam karya-karya yang ditampilkan Isabell banyak yang menceritakan kebudayaan dan Gaya hidup di masa lampau.

“Isabell bisa mengekspresikan gaya hidup dan kebudayaan masa lampau dalam lukisannya. Seperti petan, membatik, penjual jamu tradisional dan banyak aneka lukisan bertema permainan anak di masa lampau,” jelas Fahrudin.

Ditanya mengenai alasannya melukis tema-tema tersebut, Isabell menjawab jika dirinya ingin teman-teman sebayanya yang kini lebih banyak bermain gadget bisa mengenal budaya masa lalu termasuk permainan tradisional.

“Agar bisa mengangkat budaya lama dalam lukisan,” ucap Isabell polos.