Pixel Code jatimnow.com

Mas Dhito Apresiasi Keberhasilan Kelompok Tani Mengolah Limbah Sapi

Editor : Narendra Bakrie Reporter : Bramanta Pamungkas
Bupati Kediri, Hanindhito Himawa Pramono (Mas Dhito) saat melihat kondisi sapi yang diternak kelompok tani (Foto-foto: Dok Humas Pemkab Kediri)
Bupati Kediri, Hanindhito Himawa Pramono (Mas Dhito) saat melihat kondisi sapi yang diternak kelompok tani (Foto-foto: Dok Humas Pemkab Kediri)

Kediri - Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana atau Mas Dhito mengapresiasi keberhasilan kelompok tani (poktan) program pengembangan desa koorporasi sapi yang mampu mengolah limbah kotoran menjadi pupuk dan biogas.

Hal itu dilakukan untuk menekan banyaknya limbah yang ditakutkan dapat mencemari lingkungan di sekitar kandang.

Pengolahan kotoran ini sudah mulai digalakkan lima poktan yang menjalankan program pengembangan desa koorporasi sapi. Salah satunya adalah Kelompok Banjarsari, Desa Banjarejo, Kecamatan Ngadiluwih yang sudah membuat biogas untuk gas kompor, lampu hingga magic jar.

Banner Morula IVF Landscape

"Saya mengapresiasi keberhasilan teman-teman kelompok tani yang sudah dapat mengolah limbah kotoran menjadi biogas dan pupuk," ujar Mas Dhito, Sabtu (12/3/2022).

Meski demikian, orang nomor satu di Kabupaten Kediri ini meminta kepada kelompok tani untuk terus berinovasi dan mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki.

Dari 200 sapi yang didapatkan tiap kelompok tani, Mas Dhito berharap harus ada kerja keras dan ide kreatif untuk mengatur segala aspek yang dimiliki.

Selain mengolah limbah kotoran ini, kelompok tani juga diharapkan mampu membagi kerja di setiap unit sehingga dapat memanaje sapi-sapi yang didapatkan agar lebih berkembang.

"Selain mengolah limbah, harus juga dipikirkan bagaimana mendapatkan off taker untuk hasil dari pengembangan desa koorporasi sapi," tambah Mas Dhito.

Bupati Kediri, Hanindhito Himawa Pramono (Mas Dhito) saat melihat kondisi sapi yang diternak kelompok taniBupati Kediri, Hanindhito Himawa Pramono (Mas Dhito) saat melihat kondisi sapi yang diternak kelompok tani

Sementara Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih menyebut bahwa limbah terbesar dari budidaya sapi adalah kotoran. Katanya, setiap kandang komunal per-hari bisa mencapai 20-25 kilogram kotoran yang dihasilkan.

"Bisa dibayangkan dari ratusan sapi harus benar-benar difikirkan pengolahannya, seperti yang dikatakan oleh Mas Dhito. Sehingga tidak akan terjadi polusi di masyarakat sekitar," tutur Tutik.

Tutik menerangkan, di koorporasi sapi ini sudah disediakan instalasi biogas. Sedangkan untuk limbah padat yang dihasilkan, kelompok tani akan memproses limbah tersebut untuk diolah menjadi pupuk organik.

Selain memberikan pendampingan, Pemkab Kediri juga memfasilitasi kelompok-kelompok tani di program pengembangan desa koorporasi sapi ini untuk mendapatkan pelatihan pemanfaatan limbah yang dihasilkan. Ke depan, limbah ini akan terus diolah sehingga menjadi nilai tambah bagi peternak.

"Hasil dari biogas ini dapat menunjang kegiatan mereka saat di kandang," sambung dia.

Ketua Kelompok Tani Banjarsari, Bahrul Basith menerangkan, di kelompoknya telah terbagi menjadi beberapa unit kerja termasuk unit kerja pengolahan limbah.

Loading...

Menurutnya, dari 17 anggota di kelompok, diterapkan sistem shifting sehingga lebih efisien. Namun ketika sapi ada yang dinyatakan bunting, pengecekan dilakukan lebih ekstra. Bahkan setiap dua jam sekali memastikan sapi-sapi bunting ini dalam keadaan baik.

"Kita ini dituntut untuk terus berinovasi mengolah limbah-limbah ini sehingga bisa menjadi berkah," pungkasnya.

(ADV)

Loading...