Pixel Code jatimnow.com

Bertemu Hafidz Cilik Difabel, Bupati Ipuk: Inspirasi Bagi Kita Semua

Editor : Sofyan Cahyono
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat bertemu Nadhif di acara Festival Alquran, Selasa (19/4/2022).(Foto: Humas Pemkab Banyuwangi)
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat bertemu Nadhif di acara Festival Alquran, Selasa (19/4/2022).(Foto: Humas Pemkab Banyuwangi)

Banyuwangi - Satu lagi talenta hebat muncul dari Kabupaten Banyuwangi. Seorang anak bernama Ahmad Nadhif sudah hafal Alquran. Proses menghafalnya pun tak sampai setahun. Nadhif sudah menghafal Alquran sejak usia tujuh tahun lebih dua bulan, dan sekarang berusia 8 tahun.

Nadhif sempat mengikuti lomba tahfidz di salah satu televisi nasional yang tayang Ramadan ini. Kehadirannya memukau banyak kalangan. Keterbatasan fisik dan gangguan pada suaranya, tak menyurutkan bocah asal Desa Tegaldlimo, Banyuwangi, itu untuk menghafal dan melantunkan kalam ilahi.

"Adik Nadhif ini menjadi motivasi dan inspirasi bagi kita semua. Bahwa Allah SWT selalu memberikan yang terbaik bagi kita, dalam situasi dan kondisi apapun," ungkap Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat bertemu Nadhif di acara Festival Alquran, Selasa (19/4/2022).

Banner Morula IVF Landscape

Saat bertemu, Ipuk terlihat mengobrol santai bocah kelas 2 Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyatus Syibyan Tegaldlimo itu. Keduanya tampak sangat akrab.

"Bisa dibuka maskernya, Bu?" pinta bocah kelahiran 1 April 2014 itu saat bertemu dengan Bupati Ipuk.

Ipuk yang disiplin mengenakan masker itupun menuruti.

"Ingin tahu wajahnya bunda, ya?" jawab Ipuk.

"Oke, karena sudah tak banyak orang, saya buka," imbuhnya yang senantiasa menjaga prokes tersebut.

Nadhif pun sumringah. Rasa penasarannya untuk melihat langsung wajah pemimpin Banyuwangi terwujud.

"Saya senang bisa di sini," ungkapnya polos.

Kiai Muhammad Thohir, ayahanda Nadhif, menceritakan bahwa anaknya mulai menghafalkan Alquran sejak berusia 6,5 tahun. Hampir setiap hari bisa menghafalkan beberapa lembar ayat-ayat suci Alquran.

"Kami menerapkan pola hafalan secara klasikal. Membacanya bersama-sama dan kemudian setoran satu per satu," ungkap ayahnya yang sekaligus sebagai pengasuh Pesantren Tahfidz Sunan Kalijogo, Tegaldlimo.

Thohir mengaku cukup memberikan kelonggaran pada putranya tersebut. Nyaris ia tak memaksakannya. Seperti halnya tatkala waktunya bermain, kedua orang tuanya mempersilakan buah hatinya untuk bermain.

"Tapi karena lingkungannya di pondok, banyak teman-teman seusianya yang menghafalkan Alquran. Jadi ya tetap kondusif untuk menghafalnya," ungkap kiai lulusan Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri itu.

Di pesantren yang diasuhnya, terang Thohir, ada sekitar 50 santri anak-anak yang tinggal untuk menghafal Alquran. Serta tak kurang dari 150 santri lainnya yang hanya belajar dan menghafal, tapi tinggal di luar pondok.

Loading...

"Terciptanya lingkungan inilah yang saya kira berpengaruh dalam mempercepat hafalan," ujar Thohir yang mulai merintis pesantren sejak empat tahun silam.

Saat ini di pesantren tahfidz, tak kurang dari 7 santrinya yang telah hafal 30 juz. Mereka rata-rata masih duduk di bangku kelas 5 hingga 6 sekolah dasar.

"Pada tahun kemarin, kami mulai merintis boarding school. Jadi nantinya bisa terintegrasi antara program tahfidz dan pendidikan formalnya," pungkas Thohir.

Loading...