Pixel Code jatimnow.com

Keren! Mahasiswa ITS Bikin Abon dari Limbah Kulit Pisang

Editor : Narendra Bakrie Reporter : Farizal Tito
Mahasiswa ITS penggagas produk S&S Abon, (dari kiri) Sri Irna Solihatun Ummah, Fadhila Rosyidatul 'Arifah dan Intan Mey Setyaningrum menunjukkan gambaran produk inovasi timnya (Foto: Humas ITS/jatimnow.com)
Mahasiswa ITS penggagas produk S&S Abon, (dari kiri) Sri Irna Solihatun Ummah, Fadhila Rosyidatul 'Arifah dan Intan Mey Setyaningrum menunjukkan gambaran produk inovasi timnya (Foto: Humas ITS/jatimnow.com)

Surabaya - Abon berbahan dasar daging tentu sudah lazim dijumpai, tapi bagaimana dengan abon dari kulit pisang? Inilah ide inovasi produk makanan yang ditawarkan tim Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Memiliki efek anti depresi, abon kulit pisang ini dikenalkan dalam berbagai rasa yang enak.

Ketua tim Fadhila Rosyidatul 'Arifah menerangkan bahwa timnya memilih kulit pisang sebagai bahan baku abon dikarenakan melihat banyaknya penumpukan sampah kulit pisang sisa industri makanan berbahan baku pisang.

Banner Morula IVF Landscape

"Kami melakukan seleksi terhadap kulit pisang yang akan digunakan sehingga memiliki nutrisi yang baik, masih segar dan layak diolah," jelas Fadhila, Kamis (12/5/2022).

Mahasiswa Departemen Teknik Material dan Metalurgi ini juga mengungkapkan alasan lain memilih kulit pisang sebagai bahan baku. Menurutnya, kulit pisang diketahui mengandung banyak nutrisi, salah satunya adalah serotonin.

"Kandungan yang disimpan dalam bentuk vitamin B6 ini sendiri mampu mengurangi efek depresi," ungkapnya.

Untuk menggaet target pasar yang lebih luas, tim yang menamakan usahanya S&S Abon ini menginovasikan abon kulit pisang dengan berbagai rasa. Adapun rasa yang tersedia yaitu coklat, red velvet, matcha, rumput laut, ayam, sapi dan ikan bakar.

Abon dari limbah kulit pisang bikinan mahasiswa ITSAbon dari limbah kulit pisang bikinan mahasiswa ITS

"Dengan banyaknya rasa yang tersedia, S&S Abon diharapkan mampu bertahan dengan banyaknya selera konsumen," ujarnya.

Selain rasa, lanjut Fadhila, timnya juga memikirkan aspek pengemasan S&S Abon. Abon ini dikemas dengan kemasan ziplock berhias gambar maskot S&S Abon dengan warna yang menarik. Meski demikian, S&S Abon tetap memiliki harga yang relatif terjangkau, yaitu Rp 10 ribu untuk kemasan 100 gram.

Dalam rancangan pemasaran produk sendiri, tim ini berencana memanfaatkan media penjualan daring dan media sosial. Inovasi ini pun berhasil mengantarkan Fadhila dan dua rekannya, yaitu Intan Mey Setyaningrum dari Teknik Fisika dan Sri Irna Solihatun Ummah dari Departemen Matematika, menyabet medali perak dalam ajang Business Model Canvas Competition (BMCC) di Universitas Brawijaya, beberapa waktu lalu.

Loading...

Ke depan, tim yang dibimbing oleh dosen Erna Septyaningrum tersebut berharap produk ini dapat diuji lebih lanjut dan dapat diedarkan ke pasaran.

"Harapannya, produk ini dapat memberikan manfaat kepada masyarakat dan dapat dipasarkan dalam skala nasional hingga internasional," tandasnya.

Loading...