Pixel Code jatimnow.com

Ikan di Danau Ngebel Ponorogo Mabuk Akibat Fenomena Letupan Belerang

Editor : Arif Ardianto   Reporter : Mita Kusuma
Danau Ngebel Ponorogo
Danau Ngebel Ponorogo

jatimnow.com - Ikan-ikan di Telaga Ngebel Ponorogo mendadak muncul di permukaan dalam kondisi limbung atau kerap disebut mabuk. Tidak hanya ikan, namun juga beberapa hewan yang hidup di dalam danu tersebut, Senin (9/7/2018).

Hal ini dimungkinkan lantaran letupan belerang yang berada di bawah danau keluar yang dipicu oleh datangnya musim dingin.

Meletupnya belerang tahun ini dimulai pada Jumat (6/7/2018) lalu. Ikan dalam keramba warga pun banyak yang kelimpungan dan muncul kepermukaan.

"Sudah mulai Jumat lalu, dan sampai saat ini masih berlangsung. Ya biasanya seminggu mbak," kata Camat Ngebel, Suseno kepada jatimnow.com, Senin (9/7/2018).

Ia mengaku, meletupnya blerang itu hal yang wajar terjadi. Jika tahun sebelumnya terjadi hingga dua kali, pada tahun ini baru sekali.

"Kalau tahun-tahun sebelumnya dua sampai tiga kali, tahun ini baru sekarang. Ini karena dingin sekali, makanya blerangnya meletup," bebernya.

Baca juga:
Somasi atas Mutasi Kepsek Belum Dijawab Gubernur, Ribuan Guru di Ponorogo Gelar Aksi

Kendati demikian, lanjut ia, fenomena itu malah dimanfaatkan oleh para pencari ikan. Suseno juga mengungkapkan banyak pencari ikan yang berdatangan.

"Sebagian dari mereka pun mengatakan jika mengonsumsi ikan yang mabuk tersebut tak berbahaya, bahkan dapat digunakan untuk jamu," jelasnya.

Baca juga:
Wagub dan Kapolda Jatim Apresiasi Bumi Reog Berdzikir 2025

Di sisi lain, Plt Dinas Pariwisata, Sapto Djatmiko, mengungkapkan, fenomena belerang tidak berpengaruh minat pengunjung telaga.  

"Gak ada pengaruh. Tapi sebaiknya bagi pemilik resto menyiapkan stok ikan dari luar saja," pungkasnya.

Reporter: Mita Kusuma
Editor: Arif Ardianto
 

Saat Harapan Berubah Menjadi Tekanan
Catatan atas Kasus Viral “Pramugari” Khairun Nisa

Saat Harapan Berubah Menjadi Tekanan

Kisah viral tentang seorang perempuan muda yang berpura-pura menjadi pramugari Batik Air justru membuka lapisan persoalan yang jauh lebih dalam