Pixel Code jatimnow.com

Pupuk Bersubsidi Terbatas, Petani di Bojonegoro Diimbau Olah Pertanian Organik

Editor : Arina Pramudita Reporter : Misbahul Munir
Kabid Sarpras Dan Perlindungan Tanaman DKPP Bojonegoro, Ratno. (Foto: Misbahul Munir/jatimnow.com)
Kabid Sarpras Dan Perlindungan Tanaman DKPP Bojonegoro, Ratno. (Foto: Misbahul Munir/jatimnow.com)

Bojonegoro - Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro menyebut Kabupaten Bojonegoro mendapat alokasi pupuk subsidi sebanyak 125.211 ton pupuk an-organik, 40.260 ton pupuk organik dan 28.563 liter pupuk organik cair, pada 2022.

Akibat terbatasnya pupuk bersubsidi itu, petani diharapkan mengembangkan lahan pertanian organik.

Kabid Sarpras dan Perlindungan Tanaman DKPP Bojonegoro, Ratno mengatakan, untuk musim tanam 1 dan 2 tahun ini ada 5 jenis pupuk subsidi yang beredar yaitu pupuk NPK, Urea, ZA, SP 36 dan Organik.

"Sampai dengan akhir Agustus 2022 pupuk subsidi yang sudah tersalurkan, untuk musim tanam 1 dan 2, yakni untuk jenis pupuk anorganik sudah tersalurkan berkisar 60 sampai 70 persen, sedangkan untuk pupuk organik jenis granul 34,49 persen dan pupuk organik cair 24,12 persen," bebernya, Kamis (15/9/2022).

Ratno menjelaskan, berdasarkan Permentan nomor 10 tahun 2022 jumlah jenis pupuk subsidi hanya tinggal 2 yaitu NPK dan Urea.

Baca juga:
Jelang Panen, Petani Melon di Jombang Dihadapkan Rasa Cemas

"Nantinya hanya ada dua jenis pupuk yang disubsidi yakni Urea dan NPK," tandasnya.

Dengan pegurangan jenis pupuk subsidi yang beredar, peruntukannya pun juga terbatas. Hanya ada 9 komoditas tanaman yang dapat memakai pupuk bersubsidi, di antaranya 3 jenis komoditas tanaman pangan seperti padi, jagung dan kedelai; 3 tanaman hortikultura seperti semua jenis cabai, bawang merah dan bawang putih serta 3 tanaman perkebunan yaitu kopi rakyat, tebu rakyat dan kakao rakyat.

Baca juga:
Pemkab Sampang dan KP3 Kompak Maksimalkan Pengawasan Distribusi Pupuk

Untuk itu, dengan terbatasnya alokasi pupuk bersubsidi dan mahalnya pupuk non subsidi, Ratno mengimbau kepada kelompok tani untuk mengimbangi dengan menggunakan pupuk kandang atau mengolah limbah pertanian dan limbah ternak menjadi kompos organik. Hal tersebut disamping lebih ekonomis juga ramah lingkungan.

"Terbukti lahan yang menggunakan pupuk organik untuk hasil panennya lebih bagus dibanding dengan lahan yang banyak menggunakan pupuk kimia," tandasnya.