Pixel Code jatimnow.com

Korban Perdagangan Orang Beber Pengakuan, Ceritanya Miris!

Editor : Rochman Arief Reporter : Moch Rois
Lokasi penyekapan korban human trafficking di Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. (foto Moch Rois/jatimnow.com)
Lokasi penyekapan korban human trafficking di Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. (foto Moch Rois/jatimnow.com)

jatimnow.com - Penggerebekan dugaan human trafficking atau perdagangan orang, yang dilakukan Tim Jatanras Polda Jatim dan Tim Renakta masih menyisakan beberapa fakta.

Hal ini disampaikan Handoko, salah satu tim keamanan kompleks ruko Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan.

Kepada jatimnow.com, ia turut menyelamatkan lima korban penyekapan dan pemaksaan wanita sebagai pramusaji dalam ungkap kasus perdagangan orang.

"Saya tidak tahu kalau lima perempuan itu dipaksa menjadi pramusaji. Saya tahunya ketika ada laporan dari orang tua salah satu korban dan polisi. Saat itu saya ikut penggerebekan," kata Handoko, Sabtu (19/11/2022).

Sebelumnya korban perdagangan manusia taku memberi pengakuan dan penyekapan. Korban selama ini dipaksa bekerja sebagai pramusaji di ruko berkedok warkop. Namun setelah diyakinkan, para korban bersedia membeber kisahnya.

"Selama berada di dalam ruko, mereka diawasi pengelola agar tidak kabur dan memberontak. Makan dikontrol, mandi juga dijaga. Tidak boleh kemana-mana. Untuk tidurnya di lantai dua ruko," lanjut Handoko.

Baca juga:
Video: Polisi Bongkar Perdagangan Wanita Berkedok Warkop di Pasuruan

Jika korban memberontak, penjaga warkop yang umumnya laki-laku tidak segan melakukan kekerasan. Menurut pengakuan korban kepada Handoko, pemukulan kerap dirasakan korban. 

"Mereka dihajar kalau berani memberontak. Saya juga meminta korban agar berteriak, supaya ada yang menolong. Tapi banyak yang takut dan tidak berani berteriak," ujarnya.

Dari pengakuan yang disampaikan, para korban ini adalah wanita memberontak dan menolak dijual. 

Baca juga:
Polda Jatim Tetapkan 5 Tersangka Perdagangan Wanita di Gempol, Ini Modusnya

"Korban bercerita saat direkrut dan ditampung di salah satu vila di Tretes, Kecamatan Prigen, terlebih dahulu. Nah, yang memberontak tidak mau dijual, mereka dikirim menjadi pramusaji di warkop WP GON. Untuk yang menurut dan mau dijual langsung berangkat," tandasnya.