Pixel Codejatimnow.com

Menikmati Masakan Madura Berbahan Jerohan dan Daging, Cus ke Bangkalan

Editor : Rochman Arief  Reporter : Fathor Rahman
Menu andalan warung gang amboina. (foto: Fathor Rahman/jatimnow.com)
Menu andalan warung gang amboina. (foto: Fathor Rahman/jatimnow.com)

jatimnow.com - Mencari nasi khas Madura di kota-kota besar cukup mudah. Mulai dari kaki lima hingga restoran sudah mulai banyak dijajakan. Tapi, siapa sangka jika nasi khas Madura ini diperkirakan berasal dari Bangkalan.

Tepatnya warung Gang Amboina di Jalan KH. Moh. Kholil Gg. IX No.97A, Pasarkapok Timur, Demangan, Kecamatan/Kabupaten Bangkalan. 

Warung ini milik Hj Moh Dahlan atau akrab disapa Umik Matus. Di warung ini menyajikan masakan khas Bangkalan, yang berbahan dasar daging dan jeroan sapi yang diolah.

Daging dan jerohan yang diolah meliputi empal, usus, paru, hati, babat dan jerohan lain yang diolah dengan bumbu khas Bangkalan. Makanan di warung Gang Amboina ini menjadikan kuliner khas Bangkalan. 

"Di sini semua menu menggunakan bahan dasar daging sapi dan jerohan," kata Umik Matus, (1/2/2023).

Pada dasarnya makanan berbahan daging mudah dijumpai di warung-warung umum. Sebut saja nasi campur, nasi petis atau telur petis, rawon, soto babat dan nasi keringan.

Hal yang membedakan adalah nasi campur dan soto babat yang paling diburu pelanggan. Umik Matus menyebut setiap porsi rata-rata dijual dengan harga Rp22 ribu.

Untuk porsi nasi campur terdapat lauk berupa empal, dicampur paru goreng, telur bumbu petis (santan kental), usus, ditambah soun. Untuk soto babat ditambah campuran jerohan sapi, telur, dan sambal. Untuk kuah soto khas bangkalan," imbuhnya.

Baca juga:
Terekam CCTV, Pencuri Motor Beraksi di Toko Pesantren Darul Hikmah Bangkalan

Umik Matus tidak segan berbagi cerita cara memasak masakannya. Seluruh bahan (daging dan jerohan) dimasak dengan waktu cukup lama agar tidak alot.

Ia juga menggunakan bahan-bahan rempah cukup banyak, untuk menciptakan ciri rasa khas yang tidak dapat ditemukan di warung makan lainnya.

"Semua dimasak secara tradisional, menggunakan bahan dan bumbu yang berkualitas serta diproses dengan waktu yang lama agar tidak alot," imbuhnya.

Ia sengaja membuka warung setiap hari mulai pukul 05.00 hingga 17.00 WIB, untuk melayani tretan yang mencari sarapan. Tapi tidak sedikit pelanggannya yang berasal dari luar Pulau Garam.

Baca juga:
Mengenal Azera, Tradisi Masyarakat Bangkalan Kunjungi Jamaah Pulang Haji

"Rata-rata pelanggan kami banyak pegawai kantor di sektiar Bangkalan. Kadang-kadang menerima pesanan untuk rapat atau acara-acara lainnya," ucapnya.

Hingga kini warung Gang Amboina selalu ramai pembeli. Bahkan pemilik terus mengupgrade tempat makan agar lebih luas dan nyaman.

Pemilik juga menyatakan perluasan warung untuk menampung pembeli yang kerap terlihat antre. 

"Alhamdulillah selalu ramai setiap hari," pungkasnya.