Nikmatnya Pecel Punten Kuliner 'Berisik' Khas Kediri

Pecel 'Berisik' khas Kota Kediri

jatimnow.com - Berkunjung ke Kota Kediri tak lengkap rasanya mengincipi beragam kuliner khas daerah ini, salah satunya pecel punten yang terletak di Jalan Totok Kerot, Kelurahan Ketami, Pesantren, Kota Kediri.

Ya kuliner pecel ini cukup tersohor di tengah pecinta kuliner Kediri karena citra rasa dan pelayanannya yang terbilang unik.

Loading...

Pemilik warung Sumiyati mengungkapkan berawal dari ingin mengkonsumsi makanan yang mengeyangkan di tengah deraan sakit kencing manis yang ia derita. Sumiyati berinovasi membuat punten dari campuran kelapa dan sedikit beras sendiri. Namun makanan tersebut hanya dikonsumsi sendiri dan berefek berkurangnya penyakit yang ia derita.

Perlahan namun pasti sejak tahun 1995 Sumiyati akhirnya menjual kreasi kulinernya ke masyarakat dan ternyata penikmat kuliner pun juga tergoda dengan citra rasa dari punten pecel ini.

"Berawal dari penyakit kencing manis yang tidak boleh makan nasi akhirnya saya berinovasi membuat pecel punten ini. Akhirnya saya sembuh lalu menjual ini bersama suami dan anak," ungkap Sumiyati ditemui jatimnow.com, Senin (27/8/2018).

Nama punten sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti maaf, maksudnya saat melayani penjualan kepada konsumennya tentu ada ketidapuasan dan ada yang terlewatkan sehingga meminta maaf.

Ya punten sendiri di komposisi kuliner ini sendiri dengan rasa seperti nasi gurih yang dicampur santan dan kelapa yang dikenyalkan. Punten tersebut disajikan dengan tambahan beragam sayuran, seperti kecambah, sawi, kacang panjang, kangkung serta daun kenik.

"Kalau kelapa dan santannya habis berapa saya tidak hitung, kalau berasnya biasanya habis setengah kwintal," terangnya.

Punten itu disiram bumbu pecel pada umumnya yang terbuat dari kacang tanah dipadu bumbu rempah kemudian dihaluskan dan diberi sedikit air.

Dalam sehari Sumiyati dan karyawannya mampu menjual setidaknya 1.000 porsi pecel punten dengan satu porsinya cukup dihargai Rp 5.000. "Keuntungan kotor bisa capai sekitar Rp 10 juta per hari," lanjutnya.

Selain menu andalan pecel punten, warung yang terletak di tengah sawah ini juga menyediakan menu kuliner lainnya seperti nasi jagung, nila goreng, sawut atau sredek, tiwul, dan lodeh.

Keunikan lain dapat dirasakan saat pelayanan para pegawainya terhadap para konsumen yang hadir. Teriakan - teriakan dari pegawai mungkin akan mengejutkan anda yang berkunjung.

Ya, secara bersamaan para karyawan pecel punten akan langsung meneriakkan kalimat yang sama untuk para konsumen usai menikmati hidangan.

"Matur suwun, mbenjeng mriki maleh nggih" (terima kasih, besok ke sini lagi ya)," teriak para karyawan kompak tanpa dikomando sesaat setelah konsumen akan meninggalkan lokasi.

"Makanya warung ini dinamai warung Mewah Mbenjeng Mriki Maleh. Disebut 'mewah' itu karena tempatnya memang mepet sawah," tambah Sumiyati sambil tersenyum.

Salah seorang pengunjung Muhammad Sarwono mengatakan sudah berkali-kali dirinya menyempatkan diri menikmati sajian kuliner pecel punten.

"Puntennya memang cukup menggoyang lidah. Penyajiannya juga unik sambil teriak - teriak. Itu yang membedakan penyajian di sini," ungkap pengunjung asal Tulungagung ini.

Nah bila anda penikmat kuliner tertarik menikmati kuliner ini, catat warung ini buka sejak pukul 07.00 WIB, namun pecel punten baru tersedia pukul 08.00 WIB hingga tutup pada pukul 17.00 WIB setiap harinya.

Rasa kuliner yang menggoda dan penyajiannya yang unik membuat sejumlah penikmat kuliner datang dari beragam penjuru Indonesia, seperti dari Jakarta, Bali, Yogyakarta, bahkan ada yang dari Kalimantan.

"Ada dari macam - macam daerah. Kemarin ada yang jauh - jauh dari Yogyakarta pesan tempat untuk makan pecel punten di sini," pungkas Sumiyati.

Reporter : Avirista Midaada

Editor: Erwin Yohanes

 

Berita Terkait