Pixel Codejatimnow.com

Carok Butuh Revitalisasi jadi Produk Kebudayaan Suku Madura

Editor : Zaki Zubaidi  
Ketua DPD RI AA La Nyalla Mahmud Mattalitti. (Foto: Din for jatimnow.com)
Ketua DPD RI AA La Nyalla Mahmud Mattalitti. (Foto: Din for jatimnow.com)

jatimnow.com - Tragedi carok massal di Bangkalan ternyata dinilai lebih layak disebut perkelahian bersenjata. Sebab carok dalam tradisi Suku Madura tidak seperti yang terjadi dalam peristiwa merenggut 4 nyawa itu.

Hal itu diungkapkan Ketua DPD RI AA La Nyalla Mahmud Mattalitti. Ia sangat menyayangkan tragedi tersebut.

"Menurut saya itu perkelahian bersenjata. Bukan murni carok. Carok itu memang ada dalam tradisi Suku Madura, yang sekarang memang sudah jauh berkurang. Carok itu janjian bertemu, saling membawa senjata, lazimnya di tempat yang sepi atau jauh dari keramaian publik. Umumnya terkait dengan persoalan yang menyangkut harga diri yang serius," kata La Nyalla, dikutip dari siaran pers, Senin (15/1/2024).

La Nyalla juga berharap tradisi carok di Madura direvitalisasi. Sehingga menjadi produk budaya dan senjata celuritnya bisa menjadi heritage, atau warisan kebudayaan Suku Madura. Sehingga celurit khas Madura yang dulu kerap dibuat carok, dapat menempati posisi seperti keris di Jawa.

"Dan kisah-kisah atau sejarah tentang carok dapat menjadi khazanah literasi budaya Indonesia,” tegas dia.

Baca juga:
Kondang Kusumaning Ayu - La Nyalla - Agus Rahardjo Bersaing Ketat di Kediri

"Dengan begitu nilai yang dikedepankan adalah nilai kebudayaannya. Bukan nilai aksinya. Sehingga tidak lagi dilakukan, tetapi dilestarikan nilai kebudayaannya sebagai pengetahuan, warisan budaya dan nilai-nilai sejarah kearifan lokal yang dijadikan produk budaya. Ini juga bisa mengundang potensi wisata, sebagai sebuah pengetahuan sejarah,” lanjut La Nyalla.

Menurutnya, jika tradisi carok diteruskan pada skala aksi, maka akan merugikan pada jangka panjang. Karena, masyarakat di Pulau Garam semakin plural dan majemuk.

Investasi dunia usaha dan dunia industri juga diharapkan semakin banyak. Sehingga kenyamanan, ketentraman dan keamanan menjadi syarat utama. Tetapi kalau dilestarikan sebagai produk budaya, justru bisa mendatangkan nilai ekonomis.

Baca juga:
La Nyalla Nyoblos Ning Lia di Kertas Suara DPD RI, Lho?

Menurutnya, ada banyak tradisi serupa seperti carok di berbagai daerah lainnya. Masyarakat Bugis-Makassar memiliki tradisi sigajang laleng lipa, yang merupakan tradisi untuk mempertahankan harga diri dan martabat. Namun saat ini, tradisi tersebut justru menjadi budaya yang memiliki nilai tambah masyarakat dalam konteks pariwisata.

"Tradisi tersebut justru menjadi pendukung pariwisata. Dia disajikan dalam pertunjukkan-pertunjukkan pameran seni-budaya Bugis-Makassar dalam konteks pariwisata," ujar pria berdarah Bugis tersebut.