Pixel Codejatimnow.com

Rumah Budaya Malik Ibrahim Sidoarjo Gelar Diskusi Pergerakan Delta

Editor : Yanuar D  Reporter : Ahaddiini HM
Suasana diskusi di Rumah Budaya Malik Ibrahim Sidoarjo. (Foto: Ahaddiini HM/jatimnow.com)
Suasana diskusi di Rumah Budaya Malik Ibrahim Sidoarjo. (Foto: Ahaddiini HM/jatimnow.com)

jatimnow.com - Rumah Budaya Malik Ibrahim Sidoarjo menggelar diskusi bertajuk Pergerakan Delta dan Peradaban Kuno Surabaya Abad XI-XIX Masehi, Sabtu (1/6/2024).

Pegiat Sejarah, Seni dan Budaya Sidoarjo, Satriagama Rakantaseta menyampaikan bahwa Pergerakan Delta dan Peradaban Kuno Surabaya Abad XI-XIX Masehi menarik untuk diangkat dalam diskusi ini karena Surabaya dan Sidoarjo adalah kawasan delta Brantas dimana daratan delta sangat fluktuatif, dinamis bergerak dan bertambah secara terus-menerus.

"Dari pergerakan itu kami mencoba melakukan penelitian sehingga kami menemukan sampel dan perhitungan matematis dimana kita bisa menghitung rupa dari daratan kawasan Surabaya dimasa lalu, masa kerajaan Kahuripan, Jenggala sampai masa Hindia Belanda yang kita temukan dan yang sangat mengejutkan ketika kita hitung di masa 1000 tahun yang lalu di masa eksistensi kerajaan Kahuripan yang lahir di tahun 1019 ternyata pergerakan delta daratan Surabaya belum ada," terangnya.

Ia melanjutkan, ketika berbicara mengenai pelabuhan Hujung Galuh misalnya, yang muncul di jaman Kahuripan ataupun jaman Jenggala ternyata ada di wilayah Sidoarjo, bukan di Surabaya.

"Kita tidak sedang membuat klaim namun sebetulnya saya dan teman-teman Sidoarjo berusaha mengajak komunitas sejarah dan Pemerintah Sidoarjo dan Surabaya berkolaborasi untuk melakukan penelitian bersama mengenai sejarah masa lalu kawasan delta Brantas yang khusus Sidoarjo dan Surabaya," tegas Rakanta.

Lebih lanjut ia menambahkan bahwa sebelum tanggal 31 Januari 1859 ketika Sidoarjo dan Surabaya belum terpisah, otomatis sejarah kawasan menggunakan sumber-sumber yang sama.

"Maka dari itu kami berusaha hingga saat ini mengajak bersama dalam merumuskan sejarah yang terkait kedua belah pihak, tidak saling berebut tempat yang dianggap penting namun untuk kepentingan bersama," tutupnya.

Baca juga:
Rumah di Gedangan Sidoarjo Terbakar, 2 Balita dan 1 Wanita Sempat Terjebak

Pakar Geologi Sidoarjo Dr. Handoko Teguh Wibowo mengatakan bahwa Surabaya dan Sidoarjo merupakan morfologi bentang alam yang dipengaruhi oleh sistem delta.

"Ada 2 kali besar, yaitu kali Mas dan kali Porong dan itu berhulu di Das Brantas, jadi yang mengarah arah utara menjadi kali Mas yang akan mempengaruhi dinamika dari kota Surabaya karena ada material tertransport yang kemudian terendap menjadi sebuah daratan kemudian mengarah ke selatan dan timur adalah kali porong yang mempengaruhi morfologi bentang alam yang ada di Sidoarjo," ucapnya.

Ia melanjutkan, sistem delta akan mempengaruhi progadasi yaitu penambahan daratan sesuai dengan kapasitas aliran yang membawa material.

Baca juga:
Dinas Pangan dan Pertanian Sidoarjo Temukan Hewan Kurban Terindikasi PMK

"Semakin banyak material yang terbawa akan semakin cepat mengalami progadasi dan itu akan mempengaruhi eksistensi atau dinamika sebuah kerajaan yang eksis pada saat itu di permukaan," terangnya.

Menurut penjelasannya, selama das aktif mengalir dan membawa material, maka tentu ada konsekuensi penambahan daratan yang akan terus terjadi. 

"Pada saat ini ada upaya artifisial pembentukan bendungan, nyodet sebagai rekayasa engineering dimana untuk meminimalisasi pergerakan progadasi dari delta itu dan terus diupayakan sejak jaman Belanda, engineeringnya sudah jalan dan sekarang terus dilakukan untuk memaintance supaya blocking pembentukan daratan yang akan memblocking aliran-aliran itu tidak sampai terjadi," imbuh Dr. Handoko.