jatimnow.com - Untuk mengasah kemampuan public speaking mahasiswa, Wakil Rektor III UIN KHAS Jember, Dr. Khoirul Faizin memberikan pelatihan bagi penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS Dalam Negeri (BCN-DN) angkatan 6 dan 7. Hadir dalam pelatihan tersebut, Kabag dan Kasubag Akademik, memberi dukungan penuh bagi 24 siswa yang memperoleh kesempatan langka tersebut.
Suasana yang hangat namun akademik menjadi pembuka yang ideal bagi sesi mentoring yang tidak hanya memuat dorongan moral, tetapi juga materi yang sangat relevan dengan kebutuhan mahasiswa masa kini.
Awal pelatihan, Dr. Faizin memberikan dorongan motivasi yang menjadi landasan penting bagi mahasiswa penerima beasiswa. Ia mengingatkan penerima BCB-DN tidak hanya berarti memperoleh bantuan pembiayaan studi, tetapi juga menerima amanah untuk menjadi pribadi yang unggul.
Ia mendorong mahasiswa agar terus semangat akademik, memanfaatkan kesempatan belajar seoptimal mungkin, serta mengembangkan kompetensi diri melalui berbagai aktualisasi ruang. Menurutnya mahasiswa penerima beasiswa harus mampu tampil lebih siap, lebih berkarakter, dan lebih produktif, karena mereka mempunyai harapan besar untuk menjadi wajah kemajuan kampus dan bangsa.
Dr. Khoirul Faizin beralih pada materi utama, yakni public speaking, sebuah keterampilan yang menurutnya merupakan “modal penting mahasiswa abad ini.” Penyampaiannya mengalir dan komunikatif, sesekali disajikan contoh situasional yang membuat para siswa merasa dekat dan terlibat.
Ia membuka materinya dengan menjelaskan bahwa public speaking adalah seni menyampaikan gagasan secara efektif di hadapan audiens.
“Berbicara di depan umum bukan hanya soal berani berbicara. Tetapi bagaimana kata-kata itu tepat, emosinya terjaga, dan suasana yang kita bangun mampu membuat pendengar menangkap maksud kita," jelasnya.
Menurut Dr. Faizin, kemampuan berbicara di depan umum membutuhkan lebih dari sekadar keberanian. Ia menekankan bahwa ketepatan pesan dan kepekaan terhadap karakter audiens menjadi syarat utama.
“Kita harus tahu kepada siapa kita berbicara,” katanya, “karena pesan yang baik adalah pesan yang sampai.”
Ia kemudian menjelaskan tujuan public speaking yang menurutnya berkaitan dengan tiga ranah penting yakni menyampaikan informasi secara terang dan terstruktur, menginspirasi penonton melalui cerita dan gagasan yang menggerakkan, serta mempersuasi pendengar agar memahami bahkan mengikuti ajakan yang disampaikan.
Baca juga:
Jajaki Kolaborasi Riset, UIN KHAS Jember Kunjungi KBRI Ankara Turki
Tujuan ketiga ini, katanya, harus dapat dirangkai oleh seorang pembicara agar komunikasi yang terjadi bukan sekedar formalitas, melainkan proses pemindahan gagasan secara utuh dari pikiran pembicara ke pikiran pendengar.
Dalam materinya, Dr. Faizin juga memaparkan betapa besar manfaat public speaking bagi mahasiswa. Kemampuan berbicara di depan umum bukan hanya menambah kepercayaan diri, tetapi juga membentuk kapasitas kepemimpinan, kecakapan berpikir runtut, dan kemampuan menyusun pesan yang efektif.
Ia menggambarkan public speaking sebagai keterampilan yang mampu membuka pintu-pintu peluang, dari dunia akademik hingga profesional, sebab mereka yang mampu berbicara dengan baik cenderung lebih mudah meyakinkan, lebih mudah dipahami, dan lebih mudah diterima dalam berbagai konteks sosial.
Faizin menekankan pentingnya penguasaan suara sebagai fondasi awal. “Intonasi, tempo, dan volume itu bukan hiasan, melainkan penentu seberapa kuat pesan kita diterima audiens," pesannya.
Ia kemudian berbicara tentang kontak mata yang ia sebut sebagai “jembatan psikologis” antara pembicara dan pendengar. Menurutnya, gestur tubuh juga harus hadir sebagai penguat makna.
Baca juga:
Delegasi UIN KHAS Jember Ikuti The 2nd International Summer Class 2025 di DPR RI
Di bagian lain, ia menekankan pentingnya struktur pesan yang teratur, mulai dari pembukaan yang memikat, isi yang logis, hingga penutup yang kuat dan membekas.
“Kalau awalnya tidak menarik, orang sudah kehilangan Anda sebelum Anda mulai,” sambil tersenyum. Di sela-sela materinya, ia kembali menegaskan bahwa storytelling adalah elemen yang membuat public speaking memiliki nyawa.
“Manusia itu lebih mudah dibaca oleh cerita daripada konsep yang abstrak. Oleh karena itu, pembicara yang baik bukan hanya menyampaikan, tetapi menghidupkan pesannya," ujarnya.
Dr. Faizin merangkum seorang pembicara ideal adalah mereka yang mampu menyampaikan, menginspirasi, dan mempersuasi. Baginya, tiga unsur ini merupakan inti dari public speaking yang efektif.
Sebuah pidato, presentasi, atau percakapan publik yang baik tidak henti-hentinya menyampaikan informasi, tetapi juga menggerakkan hati dan pikiran pendengar. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa public speaking bukanlah bakat bawaan, melainkan keterampilan yang diasah melalui keberanian, latihan berulang-ulang, dan kemauan untuk berkembang.