jatimnow.com - Tidak semua peristiwa yang tampak sepele di ruang publik benar-benar ringan bagi pelakunya.
Kisah viral tentang seorang perempuan muda yang berpura-pura menjadi pramugari Batik Air justru membuka lapisan persoalan yang jauh lebih dalam: tekanan sosial, beban harapan keluarga, dan risiko psikologis yang kerap luput dari perhatian.
Alih-alih sekadar menghakimi, peristiwa ini seharusnya dibaca dengan kacamata yang lebih luas demi memahami tantangan generasi muda hari ini.
Kasus ini mencuat setelah seorang perempuan bernama Khairun Nisa kedapatan mengenakan seragam pramugari di kawasan Bandara Soekarno-Hatta. Pemeriksaan internal menunjukkan bahwa namanya tidak tercatat dalam sistem maskapai.
Fakta berikutnya terungkap: ia sebelumnya menjadi korban penipuan calo yang menjanjikan kelulusan seleksi pramugari dengan imbalan uang puluhan juta rupiah.
Terjebak rasa malu dan ketakutan mengecewakan orang tua, Khairun memilih berpura-pura telah bekerja. Ia bahkan membagikan foto berseragam pramugari di media sosial. Publik pun bereaksi cepat, ada yang tertawa, mencibir, hingga mengecam.
Namun di balik hiruk-pikuk itu, muncul pertanyaan yang lebih esensial: apa yang mendorong seseorang mengambil langkah berisiko demi menutupi harapan yang runtuh?
Harapan Sosial dan Rapuhnya Harga Diri
Psikologi perilaku menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Identitas personal kerap dibentuk bukan hanya oleh penilaian diri, tetapi juga oleh pandangan keluarga dan lingkungan.
Ketika ekspektasi keluarga terlalu tinggi, kegagalan tidak lagi dipersepsikan sebagai urusan pribadi, melainkan sebagai ancaman terhadap martabat keluarga.
Dalam budaya kolektivistik seperti Indonesia, tekanan untuk “tidak gagal” sering kali terasa lebih berat daripada kegagalan itu sendiri.
Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai social evaluation threat, kecemasan yang muncul ketika seseorang merasa akan dinilai negatif oleh kelompok yang dianggap penting, terutama keluarga atau komunitas terdekat.
Saat identitas individu dilekatkan pada capaian yang tampak di permukaan, kegagalan dapat memicu tekanan emosional yang sangat besar.
Baca juga:
Drama Ormas Madas-Armuji Berakhir Damai di Meja Rektor Unitomo
Dalam konteks ini, Khairun sejatinya bukan sekadar berbohong, melainkan sedang berjuang mempertahankan harga diri di tengah tuntutan sosial yang menuntut pembuktian tanpa henti.
Takut Gagal dan Pilihan yang Menyimpang
Ketakutan akan kegagalan sering kali mendorong perilaku ekstrem. Fenomena seperti impostor phenomenon, perasaan tidak layak atau takut dianggap “penipu” bila tidak memenuhi standar tertentu dapat memperkuat dorongan untuk menyamarkan kenyataan.
Berbagai studi psikologi menunjukkan bahwa tekanan semacam ini meningkatkan risiko stres, kecemasan, serta pengambilan keputusan yang buruk, yang sesungguhnya tidak mencerminkan kapasitas asli seseorang.
Karena itu, kasus Khairun tidak semestinya dipersempit sebagai sekadar persoalan kriminal. Ia perlu dibaca sebagai peringatan sosial tentang kompleksitas harapan, terutama ketika ekspektasi tinggi berhadapan dengan kenyataan pahit.
Mengolok, mengejek, atau memberi label negatif bukan hanya tidak menyelesaikan masalah, tetapi juga berpotensi memperdalam luka psikologis seseorang yang sudah rapuh.
Ketika masyarakat terlalu cepat menyematkan cap “memalukan” atau “tidak realistis”, ruang refleksi justru tertutup, padahal pertanyaan terpentingnya adalah: apa yang sebenarnya dialami individu di balik tindakannya?
Baca juga:
Pelaku Penganiayaan di SPBU Sembayat Diamankan Polsek Manyar Gresik
Empati dalam konteks ini bukan berarti membenarkan perbuatan yang jelas keliru, melainkan upaya memahami akar persoalan: kegagalan harapan yang intens, tekanan sosial yang berat, serta minimnya dukungan emosional yang sehat.
Pelajaran untuk Masa Depan
Kasus ini seharusnya tidak berhenti sebagai bahan viral atau hiburan sesaat. Ia perlu menjadi pemicu refleksi bersama: bagaimana kita membangun masyarakat yang memberi ruang aman untuk gagal tanpa menghilangkan harga diri, serta bagaimana negara dan komunitas menciptakan ekosistem peluang yang adil, transparan, dan suportif.
Pada akhirnya, kualitas seseorang tidak hanya ditentukan oleh deretan prestasi, tetapi juga oleh cara ia memaknai kegagalan, menerima dukungan, dan bangkit kembali.
Dan bagi anak-anak muda yang ingin membanggakan keluarganya, penting untuk diingat: cinta dan penerimaan yang sejati tidak diukur dari seragam yang dikenakan, melainkan dari perjalanan jujur menuju kedewasaan dan tanggung jawab.
Oleh: Ulul Albab
URL : https://jatimnow.com/baca-81703-saat-harapan-berubah-menjadi-tekanan