jatimnow.com - Deru pesawat Super Air Jet kembali memecah sunyi Bandara Internasional Dhoho Kediri, Senin (10/11/2025). Rute Kediri–Jakarta resmi dibuka, membawa kembali harapan yang sempat meredup di bandara yang digadang-gadang sebagai gerbang udara kawasan selatan Jawa Timur. Namun, di balik optimisme pembukaan rute ini, jejak-jejak kegagalan masa lalu belum sepenuhnya sirna.
Bagi warga Kediri dan sekitarnya, penerbangan langsung ke Jakarta adalah mimpi lama. Selama ini, perjalanan darat berjam-jam menuju Surabaya menjadi pilihan yang melelahkan. Kehadiran Bandara Dhoho menawarkan janji efisiensi, sebagai alternatif dari Bandara Juanda yang jaraknya relatif jauh bagi masyarakat wilayah Selingkar Wilis.
“Sebenarnya ini sangat membantu. Tapi jujur saja, kami juga khawatir. Soalnya dulu pernah ada, terus berhenti,” ujar Andi, pekerja swasta asal Pare, Kabupaten Kediri.
Kekhawatiran itu beralasan. Bandara milik PT Gudang Garam Tbk yang diresmikan pada 2024 tersebut sebelumnya sempat melayani penerbangan reguler. Namun, tingkat keterisian penumpang tak sesuai harapan. Biaya operasional yang tinggi tak sebanding dengan jumlah kursi terisi. Maskapai pun memilih angkat kaki.
Catatan Suram Bandara Dhoho
Juni 2025 menjadi periode paling suram bagi Bandara Dhoho. Bulan itu menandai penerbangan terakhir Citilink rute Jakarta–Kediri pulang-pergi sebelum menghentikan operasionalnya. Sepanjang bulan tersebut, bandara hanya mencatat 107 pergerakan penumpang—50 penumpang datang dan 57 penumpang berangkat—melalui 18 penerbangan (9 kedatangan dan 9 keberangkatan). Rata-rata, hanya lima hingga enam penumpang per penerbangan.
Angka itu menjadi yang terendah sepanjang tahun. Padahal, pada Januari 2025, bandara pertama di Indonesia yang dibangun sepenuhnya oleh swasta ini sempat mencatat 2.244 pergerakan penumpang dari 28 pergerakan pesawat. Februari mencatat 1.647 penumpang dari 22 penerbangan. Tren sempat kembali positif pada April dengan 1.871 penumpang dari 30 penerbangan, sebelum kembali turun pada Mei dan Juni.
Sebelumnya, Super Air Jet juga sempat menghentikan rute Balikpapan–Kediri pulang-pergi, diduga akibat rendahnya minat penumpang, meski sebenarnya rute tersebut baru dibuka.
Kegagalan rute-rute ini bukan disebabkan satu faktor tunggal, melainkan akumulasi persoalan: jadwal terbatas, minimnya konektivitas lanjutan, serta kebiasaan masyarakat yang belum sepenuhnya beralih dari transportasi darat.
Bandara Besar, Aktivitas Terbatas
Di hari-hari tanpa penerbangan, Bandara Dhoho kerap kembali sunyi. Petugas menunggu di balik konter kosong, area parkir tak penuh, dan gerai usaha berjalan pelan. Bagi pelaku usaha kecil, seperti swalayan dan angkringan di area bandara, buka-tutup rute berarti buka-tutup harapan. Ketika penerbangan berhenti, omzet ikut menurun. Bandara yang megah justru terasa terlalu luas untuk aktivitas yang terbatas.
Masuknya kembali Super Air Jet dengan rute Kediri–Jakarta membawa pendekatan berbeda. Segmen penumpang muda dan harga yang lebih kompetitif menjadi andalan. Jadwal disusun untuk memungkinkan perjalanan bisnis satu hari. Untuk pertama kalinya juga, Super Air Jet menghubungkan Bandara Dhoho dengan Terminal 2E Bandara Soekarno–Hatta (CGK).
Lebih dari sekadar penerbangan perdana, momentum ini menjadi simbol kolaborasi antara regulator, pemerintah daerah, pelaku industri, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan membuka akses baru, menggerakkan perekonomian, memperkuat sektor pendidikan, serta menghidupkan pariwisata di kawasan Lingkar Wilis.
Rute Jakarta–Kediri dilayani menggunakan Airbus A320-200 dengan frekuensi tiga kali seminggu, yakni Senin, Rabu, dan Jumat. Penerbangan IU-356 berangkat dari Jakarta pukul 10.20 WIB dan tiba di Kediri pukul 11.50 WIB. Penerbangan balik IU-357 berangkat dari Kediri pukul 12.30 WIB dan mendarat di Jakarta pukul 14.00 WIB.
Seremoni penyambutan penerbangan perdana berlangsung meriah dan dihadiri perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Kediri, PT Surya Dhoho Investama, jajaran pimpinan Lion Group dan Super Air Jet, serta PT Angkasa Pura Indonesia.
Direktur Utama Super Air Jet, Ari Azhari, menyatakan bahwa pembukaan rute Jakarta–Kediri merupakan langkah konkret untuk memperkuat konektivitas udara di wilayah dengan pertumbuhan ekonomi, pendidikan, dan pariwisata yang dinamis.
“Melalui rute ini, kami ingin menghadirkan akses perjalanan yang lebih mudah, efisien, dan bernilai bagi masyarakat,” ujarnya saat menyambut pendaratan pertama Super Air Jet dari Jakarta.
Ia menambahkan, masyarakat Selingkar Wilis kini dapat terhubung dengan lebih dari 30 destinasi domestik dan internasional melalui Jakarta, termasuk Singapura, Kuala Lumpur, Penang, Perth, hingga Jeddah untuk perjalanan umrah.
PT Angkasa Pura Indonesia juga menyatakan komitmennya menjaga kualitas layanan dan memastikan operasional bandara berjalan aman dan berstandar tinggi agar Kediri dapat tumbuh sebagai pusat ekonomi baru di Jawa Timur.
Menuju Episentrum Baru Jawa Timur
Baca juga:
Mbak Vinanda Pacu Konektivitas dan Investasi Kota Kediri Melalui Bandara Dhoho
Komitmen tersebut diperkuat dengan digelarnya Market & Connectivity Opportunity oleh PT Surya Dhoho Investama (SDHI) di Bandara Dhoho, Kamis (11/12/2025). Forum ini dihadiri pejabat pemerintah provinsi, kepala daerah dari 13 kabupaten/kota, perwakilan kementerian, maskapai domestik dan internasional, serta mitra logistik, menegaskan peran Bandara Dhoho sebagai episentrum baru konektivitas, ekspor, dan pariwisata di Jawa Timur.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyebut Bandara Dhoho sebagai infrastruktur strategis yang melayani lebih dari 10 juta jiwa di kawasan barat daya Jawa Timur. Menurutnya, proses menghidupkan bandara bukanlah pekerjaan instan.
“Langkah pertama sudah dimulai. Tantangannya adalah menjaga konsistensi dan membangun ekosistem penerbangan,” ujarnya.
Ia optimistis keberadaan Bandara Dhoho akan mendorong lahirnya rute-rute baru, pergerakan barang, investasi, serta ekosistem bisnis yang berkelanjutan.
Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa, yang turut hadir dalam forum itu menegaskan bahwa keberadaan Bandara Dhoho memiliki efek pengganda besar terhadap perekonomian daerah. Menurutnya, bandara ini tidak hanya berfungsi sebagai simpul mobilitas penumpang, tetapi juga sebagai pintu gerbang ekspor dan penggerak sektor strategis lainnya.
“Bandara Dhoho membuka peluang besar bagi ekspor daerah. Selain itu, keberadaannya juga mendukung pengembangan pariwisata dan membuka peluang pendirian lembaga pendidikan tinggi, baik negeri maupun swasta,” ujarnya.
Ia memastikan pemerintah daerah terus mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung bandara, mulai dari jalan tol Kediri–Tulungagung hingga Kediri–Kertosono yang masuk proyek strategis nasional. Konektivitas tersebut diperkuat dengan moda transportasi antardaerah menggunakan layanan Damri dan PO Harapan Jaya.
“Dengan dukungan infrastruktur ini, akses masyarakat menuju Bandara Dhoho semakin mudah. Kami optimistis bandara ini akan menjadi simpul pertumbuhan baru di Jawa Timur bagian selatan,” kata Dewi.
Nyala harapan Bandara Dhoho juga dijaga oleh daerah sekitar. Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menegaskan komitmen Pemerintah Kota Kediri dalam mendukung ekosistem bandara dan pembangunan ekonomi kawasan melalui sinergi lintas daerah.
“Kami terus berkomunikasi dengan Bupati Kediri dan Bupati Trenggalek. Masing-masing daerah memiliki potensi yang berbeda-beda dan bisa saling melengkapi,” ujar Vinanda.
Baca juga:
Bandara Dhoho Kediri Jadi Episentrum Baru Konektivitas dan Ekspor Jatim
Ia mencontohkan Kabupaten Trenggalek yang memiliki potensi wisata pantai, dipromosikan agar wisatawan memanfaatkan transportasi udara. Sementara Kota Kediri mengandalkan potensi Gunung Klotok dan Sungai Brantas sebagai destinasi wisata unggulan.
“Kota Kediri memang tidak punya pantai, tetapi kami punya Gunung Klotok dan Sungai Brantas yang sangat potensial. Itu yang terus kami promosikan dan optimalkan,” terangnya.
Vinanda menegaskan Bandara Dhoho merupakan gerbang utama keluar masuk orang dan barang di kawasan Selingkar Wilis. Karena itu, setiap daerah perlu mengoptimalkan potensi masing-masing sekaligus memperkuat promosi bandara.
“Kami para kepala daerah rutin berdiskusi dan berkoordinasi. Selain itu, kami juga selalu meminta arahan dari Gubernur (Khofifah Indar Parawansa) agar langkah yang diambil selaras,” tegasnya.
Keberadaan bandara juga dinilai membuka peluang nyata bagi percepatan pertumbuhan ekonomi daerah, terutama melalui peningkatan konektivitas distribusi produk unggulan. Vinanda mencontohkan produk kuliner khas Kota Kediri, tahu takwa, yang memiliki keterbatasan masa simpan apabila dikirim melalui jalur darat.
“Dengan adanya bandara, pengiriman bisa lebih cepat sehingga kualitas produk tetap terjaga,” jelasnya.
Selain mempercepat distribusi barang, Bandara Dhoho juga dinilai berpotensi besar menarik minat investor. “Akses yang mudah sangat penting bagi investor. Ini momentum bagi kami untuk membuka peluang investasi yang lebih luas,” tandas Vinanda.
Bandara Internasional Dhoho Kediri kini kembali mencatatkan denyut kehidupan. Namun, sejarah mengajarkan bahwa penerbangan perdana bukanlah garis akhir, melainkan titik awal. Menjaga nyala harapan di gerbang udara baru Jawa Timur membutuhkan lebih dari sekadar pesawat yang lepas landas. Ia menuntut konsistensi kebijakan, keterjangkauan layanan, serta perubahan kebiasaan masyarakat.
Di antara landasan yang panjang dan terminal yang luas, Bandara Dhoho masih menunggu satu hal paling penting: kepercayaan. Risiko kembali menjadi monumen sunyi dari harapan yang pernah terbang selalu ada. Namun, dengan kolaborasi semua pihak, bukan mustahil bandara ini benar-benar menjelma sebagai pintu baru Jawa Timur, bukan hanya megah, tetapi juga hidup dan dipercaya.
URL : https://jatimnow.com/baca-81773-menjaga-nyala-harapan-di-gerbang-udara-baru-jawa-timur-selatan