Pixel Code jatimnow.com

DPRD Surabaya Catat Sejumlah PR Kepemimpinan Eri Cahyadi - Armuji

Editor : Ni'am Kurniawan  
Yona Bagus di Kantor DPC Gerindra Surabaya (foto: Yona for jatimnow.com)
Yona Bagus di Kantor DPC Gerindra Surabaya (foto: Yona for jatimnow.com)

jatimnow.com - Ketua Komisi A DPRD Surabaya Yona Bagus Widyatmoko menilai satu tahun kepemimpinan Wali Kota Eri Cahyadi dan Wakil Wali Kota Armuji menyisakan sejumlah pekerjaan rumah, khususnya di sektor hukum, keamanan, dan kebijakan strategis. 

Dia menyebut pentingnya evaluasi agar potensi risiko dan kendala dapat diantisipasi sejak awal memasuki tahun kedua pemerintahan.

“Sebagai figur yang bergerak di bidang hukum dan pemerintahan, saya mencatat adanya beberapa kejadian menonjol yang berpotensi menggoyang stabilitas jika tidak segera dibenahi,” kata Yona, di sela agenda donor darah di DPC Gerindra Surabaya, Sabtu (31/1/2026). 

Wakil Ketua DPC Gerindra Surabaya ini menyampaikan, meski kinerja pelayanan publik menunjukkan hasil yang cukup baik, persoalan hukum masih menjadi celah besar yang perlu perhatian serius. 

Isu-isu yang bersentuhan langsung dengan masyarakat bawah disebut menjadi titik rawan yang harus dikelola dengan hati-hati.

“Meski sektor pelayanan publik sudah menunjukkan performa yang cukup apik, namun celah di bidang hukum gapnya masih sangat besar,” katanya.

Ia mengungkapkan adanya sejumlah rapor merah dalam satu tahun perjalanan pemerintahan Eri–Armuji. 

Salah satunya berkaitan dengan kebijakan hukum dan minimnya pelibatan publik dalam proses pengambilan keputusan.

“Ada sejumlah rapor merah, khususnya terkait kebijakan hukum dan minimnya pelibatan publik dalam pengambilan keputusan,” kata dia.

Baca juga:
Reses DPRD Surabaya: CCTV dan Bansos Jadi Pembahasan Krusial

Ia juga menyinggung beberapa kebijakan dan program pemerintah kota yang sempat memicu polemik di masyarakat. Mulai dari survei DTSEN, penanganan organisasi kemasyarakatan, pembentukan satgas, hingga program kampung tematik dan pengelolaan aset daerah.

“Beberapa kasus sempat viral dan kontraproduktif di masyarakat, ini tentu harus menjadi bahan evaluasi,” katanya. 

Menurut dia, persoalan sengketa tanah, dinamika ormas, dan tata kelola parkir menjadi pemicu utama kerawanan instabilitas politik di Surabaya. Penyelesaiannya dituntut tidak hanya cepat, tetapi juga tepat secara regulasi dan inklusif.

“Masalah-masalah ini harus diselesaikan dengan pendekatan hukum yang benar agar tidak menimbulkan gejolak lanjutan,” katanya.

Baca juga:
Data Kependudukan Siluman di Surabaya Turun, DPRD Targetkan Akhir Maret Selesai

Yona juga mengkritik pola komunikasi Pemerintah Kota Surabaya yang dinilai kerap berjalan tanpa koordinasi awal dengan DPRD. Akibatnya, legislatif baru dilibatkan saat masalah sudah muncul di lapangan.

“Kami di legislatif sering kali tidak diajak diskusi di awal. Tapi ketika dijumpai kendala baru kemudian melibatkan legislatif dan juga APH untuk mencari solusi,” ujarnya.

Dia menyarankan setiap rencana pembangunan ke depan wajib melalui kajian yang melibatkan partisipasi publik serta pembahasan matang bersama DPRD sejak tahap perencanaan. Dia meyakini sinergi antarlembaga menjadi kunci perbaikan.

“Saya yakin Eri dan Armuji memiliki kapasitas untuk melakukan perbaikan. Sinergi yang lebih erat antara pemerintah dan masyarakat diharapkan mampu membawa Surabaya keluar dari bayang-bayang instabilitas hukum dan politik,” pungkas Yona.