jatimnow.com - Pendidikan karakter tidak bisa hanya bersandar pada dinding kelas yang kaku. Kesadaran inilah yang mendorong Ashoka Indonesia melalui program JAYCA (Jawa Timur Young Changemaker Academy) memperkuat ekosistem anak dan remaja yang inklusif di Jawa Timur.
Lewat forum bertajuk “Reality Check” di Jember, Senin (16/2), para penggerak akar rumput sepakat bahwa perubahan nyata dimulai saat anak muda berhenti jadi objek dan mulai menjadi subjek perubahan.
Zahwa dan Qonita, dua remaja anggota JAYCA, menjadi bukti nyata bagaimana metodologi belajar di alam terbuka mampu meruntuhkan sekat kecemasan.
Mereka tidak sekadar duduk mendengarkan teori, tetapi terjun langsung mendaki gunung, meriset lingkungan, hingga belajar diplomasi lewat presentasi ide.
"Belajar di alam itu memicu kedekatan emosional yang tidak bisa didapat lewat layar Zoom. Kami ditantang membentuk ide aksi yang berdampak langsung untuk Jawa Timur," ungkap Zahwa.
Keberanian berpendapat yang ia miliki sekarang adalah buah dari proses panjang simulasi kepemimpinan di lapangan.
Senada dengan itu, pendiri Sekolah Alam Raya Jember, Riadi, melempar kritik tajam terhadap sistem pendidikan konvensional.
Berdasarkan pengalamannya selama tiga dekade, ia melihat banyak siswa kehilangan minat belajar karena materi sekolah tercabut dari realitas sosial mereka.
Riadi mendorong pendekatan yang lebih organik. Di sekolahnya, memasak dan berdiskusi reflektif adalah instrumen untuk mengasah kemampuan berpikir kritis. Namun, ia mengingatkan bahwa sekolah bukan satu-satunya penanggung jawab karakter anak.
Baca juga:
Hebat! Sekolah di Kepulauan Bawean Sabet Juara 2 Lomba Iklim Jatim 2025
"Kunci perilaku anak ada pada keluarga. Kita harus memprioritaskan pendidikan orang tua di rumah agar selaras dengan apa yang dipelajari anak di luar," tegas Riadi.
Isu perlindungan anak juga mendapat sorotan dari Cici, tokoh senior dari Tanoker Ledokombo. Di usianya yang ke-70, ia masih konsisten menyuarakan konsep "pengasuhan gotong royong".
Baginya, menjaga anak bukan hanya tugas orang tua biologis, melainkan tanggung jawab kolektif lingkungan.
"Prinsipnya sederhana: anakku adalah anakmu, dan anak kita bersama. Ruang aman hanya bisa tercipta jika komunitas bergerak serentak melindungi hak-hak mereka," kata Cici.
Baca juga:
Pelajar Terlibat Kerusuhan, Pengamat Sebut Blitar Darurat Pendidikan Kebangsaan
Aksi organik dari komunitas ini menemukan momentumnya saat bersinergi dengan kebijakan publik. Perwakilan DP3AK Jawa Timur menyatakan bahwa isu hak anak, inklusivitas, dan lingkungan masuk dalam rencana strategis provinsi lima tahun ke depan.
Pemerintah membuka pintu lebar bagi sinergi antara JAYCA dengan Forum Anak daerah, termasuk penguatan program Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA).
Ara dari Ashoka Indonesia menutup sesi dengan optimisme bahwa kolaborasi ini adalah investasi jangka panjang.
JAYCA bukan sekadar wadah mentoring, melainkan sebuah gerakan untuk memastikan anak muda Jawa Timur memiliki ruang tumbuh yang adil, sehat, dan berdaulat atas masa depan mereka sendiri.
URL : https://jatimnow.com/baca-82401-jayca-cetak-changemaker-muda-jatim-lewat-pengasuhan-gotong-royong