jatimnow.com - Sudut pandang masyarakat terhadap apotek kerap terjebak pada urusan transaksi jual beli obat semata. Persepsi keliru tersebut coba didekonstruksi oleh apoteker komunitas asal Surabaya, apt. Rizal Umar Rahmadani, M.Farm.Klin.
Melalui jaringan Rafa Farma Group yang dirintisnya sejak 2012, alumnus Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (FF UNAIR) tersebut membuktikan bahwa kehadiran seorang farmasis di tengah pemukiman memegang kendali vital bagi keselamatan pasien.
Langkah konkret Rizal bermula dari kegelisahan melihat minimnya pemahaman warga urban terhadap fungsi obat yang mereka konsumsi. Dia memosisikan usahanya bukan sebatas tempat mendistribusikan produk kesehatan, melainkan ruang konsultasi terbuka.
Di gerai tersebut, pasien bisa berdiskusi secara bebas mengenai efek samping, risiko interaksi, hingga ketepatan dosis obat tanpa dipungut biaya.
"Wajah asli profesi kami berada di tengah pemukiman, saat interaksi langsung dengan warga terjadi setiap hari. Dampak kehadiran kami harus melampaui urusan dagang. Pasien wajib pulang membawa pemahaman medis yang benar, bukan cuma sekadar kantong belanjaan berisi obat," kata Rizal saat ditemui di Surabaya.
Rekam jejak pria yang menuntaskan seluruh jenjang akademik farmasinya di Kampus Perjuangan UNAIR tersebut membawanya ke tampuk kepemimpinan organisasi profesi.
Baca juga:
Maria Apriliani, Doktor Muda Alumni UNAIR yang Bersinar di Kancah Internasional
Rizal kini dipercaya menakhodai Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Cabang Kota Surabaya untuk periode 2022–2026.
Lewat posisi strategis tersebut, dia memperluas gerakan sosial dengan mendorong standardisasi layanan apotek di seluruh wilayah Surabaya agar lebih ramah warga dan solutif.
Di tengah kesibukan mengelola bisnis dan organisasi, Bendahara Alumni Farmasi Airlangga (ALFAS) tersebut rutin membagikan peta jalan wirausaha farmasi kepada para mahasiswa sebagai dosen tamu.
Baca juga:
Jangan Kalap! Ini Panduan Pola Makan Seimbang Saat Lebaran
Dia meyakini regenerasi sektor kesehatan harus dipersiapkan matang lewat transfer pengetahuan yang jujur, meliputi aspek regulasi hingga manajerial operasional.
Tantangan dunia kesehatan masa depan diprediksi bakal jauh lebih kompleks. Dinamika mutasi penyakit serta kemunculan jenis obat baru menuntut para calon apoteker muda untuk tidak cepat puas dengan gelar akademis yang disandang.
"Fakultas Farmasi UNAIR membekali kami integritas, moralitas, dan kerendahan hati. Namun saat terjun ke lapangan, modal utama untuk bertahan dan berguna bagi sesama adalah kemauan menjadi pembelajar sepanjang hayat," pungkasnya.
URL : https://jatimnow.com/baca-85612-rizal-umar-dobrak-stigma-apotek-ubah-gerai-obat-jadi-pusat-edukasi