jatimnow.com - Ada kalanya sejarah menghadirkan pola yang terasa terlalu presisi untuk disebut kebetulan. Para sufi menyebutnya sirr al-qadar, rahasia ketentuan Ilahi yang sesekali menampakkan diri melalui pengulangan sejarah.
Dalam perspektif ini, menarik mencermati dua sosok yang dipisahkan oleh rentang satu abad: KH Hasan Gipo dan Gudfan Arif Ghofur (Gus Gudfan).
Pada 1926, ketika Nahdlatul Ulama baru berdiri, KH. Hasan Gipo, seorang saudagar keturunan Sunan Ampel dipercaya menjadi Ketua Umum Tanfidziyah pertama.
Seratus tahun kemudian, menjelang abad kedua NU, muncul Gus Gudfan, Bendahara Umum PBNU, juga seorang saudagar sekaligus keturunan Sunan Ampel. Keduanya memiliki kesamaan yang tidak hanya bersifat genealogis, tetapi juga historis dan simbolik.
Sunan Ampel merupakan salah satu poros utama Wali Songo. Dari garis keturunannya lahir tokoh-tokoh besar seperti Sunan Drajat dan memiliki hubungan erat dengan Sunan Giri.
Gus Gudfan mewarisi garis keturunan tersebut melalui dua jalur sekaligus, sehingga secara genealogis berada dalam mata rantai keluarga besar Sunan Ampel.
Sementara itu, KH. Hasan Gipo juga dikenal sebagai bagian dari trah Ampel yang dipercaya memimpin organisasi pada masa-masa awal NU.
Namun, yang lebih menarik bukan sekadar soal nasab, melainkan kesamaan profesi. Keduanya adalah saudagar. Dalam sejarah Islam, saudagar bukanlah identitas yang terpisah dari kepemimpinan spiritual.
Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang, demikian pula Khadijah RA, Abu Bakar, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf. Kekuatan ekonomi menjadi salah satu penopang utama dakwah Islam sejak masa awal.
Hal itu pula yang tampak pada KH. Hasan Gipo. Ketika NU masih berjuang membangun organisasi, dibutuhkan figur yang mampu menopang kebutuhan logistik dan ekonomi.
Para kiai pendiri memilih seorang saudagar sebagai Ketua Umum Tanfidziyah bukan tanpa alasan. Mereka memahami bahwa perjuangan membutuhkan kemandirian ekonomi selain kekuatan spiritual.
Kini, satu abad kemudian, NU menghadapi tantangan yang berbeda. Organisasi sebesar NU dituntut membangun kemandirian ekonomi melalui pengelolaan aset, investasi, hingga sumber daya strategis.
Dalam konteks itu, Gus Gudfan hadir dengan pengalaman sebagai pengusaha di sektor energi, minyak, gas, petrokimia, dan pertambangan, sekaligus dipercaya mengelola berbagai agenda ekonomi PBNU.
Di sinilah muncul paralelisme sejarah. Jika KH. Hasan Gipo mewakili model saudagar yang menopang kelahiran NU, Gus Gudfan dipandang sebagian kalangan sebagai representasi saudagar yang dapat menopang transformasi NU memasuki abad keduanya. Kesamaannya bukan sekadar profesi, tetapi juga posisi strategis dalam organisasi.
Baca juga:
Video: Keturunan Sagipoddin Apresiasi Machfud Arifin
Dalam perspektif filsafat sejarah, pengulangan semacam ini dapat dipahami sebagai kesinambungan, bukan pengulangan mekanis. Pola lama hadir kembali dalam bentuk yang lebih sesuai dengan tantangan zaman.
Jika dahulu perdagangan menjadi penyangga organisasi, kini penguatan ekonomi kelembagaan menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.
Tradisi NU sendiri tidak pernah memisahkan dimensi spiritual dan rasional dalam memilih pemimpin. Selain mempertimbangkan kapasitas organisasi, para kiai juga memperhatikan rekam jejak, akhlak, integritas, serta kemaslahatan bagi jam'iyah.
Karena itu, figur yang memiliki kemampuan manajerial sekaligus diterima secara kultural sering memperoleh perhatian lebih.
Di sisi lain, masyarakat NU juga akrab dengan pembacaan simbolik terhadap sejarah. Kesamaan antara KH. Hasan Gipo dan Gus Gudfan dapat dipahami sebagai inspirasi untuk membaca kembali perjalanan NU, bukan sebagai kepastian tentang arah masa depan organisasi.
Sejarah memberi pelajaran, tetapi keputusan tetap berada di tangan para pemegang amanah melalui mekanisme organisasi. Makna penting dari kisah KH. Hasan Gipo sesungguhnya terletak pada teladan bahwa seorang saudagar dapat menjadi pelayan umat.
Kekayaan bukan tujuan, melainkan instrumen perjuangan. Dalam tradisi Islam, perdagangan yang dijalankan dengan amanah merupakan bagian dari ibadah dan sarana menghadirkan kemaslahatan.
Baca juga:
Keturunan Sagipoddin Apresiasi Machfud Arifin Hidupkan Langgar Gipo
Nilai inilah yang relevan bagi NU memasuki abad kedua. Organisasi membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga keseimbangan antara otoritas keagamaan dan kemandirian ekonomi. Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa keduanya tidak harus dipertentangkan.
Apakah sejarah akan kembali menghadirkan seorang saudagar dari trah Sunan Ampel sebagai pemimpin NU? Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan. Itu sepenuhnya menjadi wilayah ikhtiar organisasi dan kehendak Allah SWT.
Namun, jejak KH. Hasan Gipo memberikan pengingat bahwa sejak awal NU dibangun bukan hanya oleh para ulama, melainkan juga oleh saudagar yang mengabdikan kemampuan ekonominya bagi kepentingan umat.
Karena itu, paralelisme antara KH. Hasan Gipo dan Gus Gudfan layak dibaca sebagai refleksi sejarah, bukan sekadar romantisme. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah organisasi besar sering kali lahir dari pertemuan antara spiritualitas, kepemimpinan, dan kemandirian ekonomi.
Wallhu a'lam bi al-shawb.
Penulis: Rizal Haqiqi
Alumni UIN Sunan Ampel Surabaya
URL : https://jatimnow.com/baca-86072-membaca-ulang-jejak-kh-hasan-gipo-dan-resonansi-seabad-gus-gudfan