Pixel Code jatimnow.com

Blusukan ke Gang Sempit Jalan Tunjungan Surabaya, Ada Makanan Khas Jogja yang Autentik

Editor : Yanuar D  
Menu Pusaka Bunda, rumah makan khas Jogja di Jalan Tunjungan Surabaya. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)
Menu Pusaka Bunda, rumah makan khas Jogja di Jalan Tunjungan Surabaya. (Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)

jatimnow.com - Di tengah dominasi rawon, lontong balap, hingga rujak cingur yang identik dengan Surabaya, sebuah rumah makan sederhana justru memilih menghadirkan cita rasa Yogyakarta yang autentik. Berada nyaris tersembunyi di balik gang sempit kawasan Jalan Tunjungan, Pusaka Bunda juga menawarkan suasana yang homey, layaknya di rumah sendiri.

Rumah makan Pusaka Bunda ini bukan tipe restoran yang mudah terlihat dari jalan raya. Lokasinya benar-benar tersembunyi di dalam gang sempit kawasan Jalan Tunjungan. Meski demikian, mencarinya tidak sesulit yang dibayangkan. Justru sensasi blusukan itulah yang membuat pengalaman makan di sini terasa berbeda.

Begitu memasuki rumah makan ini, suasananya langsung terasa seperti bertamu ke rumah keluarga sendiri. Bangunannya sederhana, dengan ornamen khas rumah lama, berada di tengah permukiman warga, dan jauh dari hiruk pikuk jalan utama. Angin yang berembus dari halaman membuat makan siang terasa lebih nyaman.

“Berasa di rumah sendiri sih, homey banget,” kata Nikma, warga Kediri yang sengja mampir untuk menikmati menu-menu khas Jogja di Pusaka Bunda, Senin (20/7/2026).

Menu yang ditawarkan memang cukup beragam. Antara lain soto tangkar, garang asem, mangut lele, dan brongkos.

“Aku penasaran sama brongkos, sih. Enak, cita rasanya lebih ke manis,” terangnya, usai mencicipi Brongkos, hidangan sup tradisional khas Jawa Tengah dan Yogyakarta yang dipadukan potongan ayam, telur, tahu dan kacang tolo. Sensasi pedas keluar dari cabai rawit yang dibiarkan utuh.

Nama makanan ini mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang. Sekilas, sempat terbayang sebagai makanan berbungkus daun pisang seperti botok. Ternyata dugaan itu meleset.

Kuahnya berwarna cokelat kehitaman, sekilas memang mengingatkan pada semur. Bedanya, warna gelap itu bukan berasal dari kecap, melainkan dari kluwek, rempah yang juga menjadi ciri khas rawon. Kuah hangatnya terasa pas disantap di tengah badan yang lelah setelah berkeliling kota.

Selain brongkos, garang asem juga menjadi salah satu menu yang layak dicoba.

Berbeda dengan garang asem yang menggunakan santan, versi di Pusaka Bunda justru terasa lebih ringan. Kuahnya bening dengan sentuhan rasa asam yang menyegarkan. Gurih ayam kukusnya tetap dominan tanpa terasa berat.

Sebagai pelengkap makan siang, tersedia pula beberapa pilihan minuman yang cukup menarik.

Es teh kampul menjadi salah satu favorit. Minuman sederhana berupa teh manis yang dipadukan potongan jeruk nipis ini terasa begitu menyegarkan, terutama di tengah panasnya Surabaya.

Berdasarkan daftar menu yang terpampang di papan, pilihan makanan meliputi:

Baca juga:
Monsieur Spoon Prefere dan Dewata Buka Outlet Terbesar di Surabaya

• Soto Tangkar - Rp30 ribu

• Empal Gentong - Rp30 ribu

• Cumi Hitam - Rp28 ribu

• Cumi Cabe Ijo - Rp28 ribu

• Garang Asem - Rp25 ribu

• Mangut Lele - Rp25 ribu

Baca juga:
PAPI TITO MANGAN TOK : Pesta Kue Sampe Mbledooos

• Brongkos - Rp25 ribu

• Ayam Adhun - Rp28 ribu

Harga tersebut belum termasuk nasi.

Selain makanan utama, tersedia pula camilan seperti cireng, kentang goreng, rujak es krim, hingga donat es krim yang menjadi salah satu menu favorit pelanggan.

Pusaka Bunda menjadi bukti bahwa tempat makan yang berkesan tidak selalu berada di lokasi strategis atau bangunan mewah. Justru karena lokasinya tersembunyi di tengah gang permukiman, rumah makan ini menghadirkan pengalaman yang lebih hangat dan personal.

Suasananya tenang. Jauh dari kebisingan kendaraan maupun keramaian pusat kota. Bagi pencinta kuliner Nusantara, khususnya masakan khas Yogyakarta, Pusaka Bunda layak masuk daftar tujuan saat berada di kawasan Jalan Tunjungan Surabaya.