Pixel Code jatimnow.com

Pengakuan Istri Pelaku Pembunuhan Sadis Ibu dan Anak di Madiun

Editor : Yanuar D   Reporter : Bramanta Pamungkas
Martha Amalia Iflahah, istri Dwi Bagus Martono yang menjadi tersangka pembunuhan sadis di Madiun, akhirnya angkat bicara. (dok. jatimnow.com)
Martha Amalia Iflahah, istri Dwi Bagus Martono yang menjadi tersangka pembunuhan sadis di Madiun, akhirnya angkat bicara. (dok. jatimnow.com)

jatimnow.com - Martha Amalia Iflahah, istri Dwi Bagus Martono yang menjadi tersangka pembunuhan sadis di Madiun, akhirnya angkat bicara. Didampingi kuasa hukumnya, Martha menggelar konferensi pers di Hotel Mercure, Senin (2/11/2026), untuk menjelaskan hal-hal yang diketahuinya terkait kasus tersebut.

Dalam keterangannya, Martha mengaku tidak pernah mengetahui ataupun mencurigai tindakan keji yang dilakukan suaminya terhadap DH dan AG. Padahal, salah satu lokasi pembunuhan berada di halaman belakang rumah yang selama ini ditempatinya bersama Dwi Bagus.

Martha mengungkapkan, dirinya baru mengetahui adanya hubungan lain yang dijalani suaminya pada 10 Oktober 2026. Saat itu, Dwi Bagus mengaku telah menikah siri dengan DH selama dua tahun dan memiliki seorang anak bernama AG.

Pengakuan tersebut disampaikan di teras belakang rumah mereka, yang belakangan diketahui menjadi salah satu lokasi aksi pembunuhan terhadap para korban.

“Saya awalnya tahu di tanggal 10 oktober 2026, itu hanya suami saya menceritakan bahwa dia punya wanita lain sudah menikah siri selama 2 tahun, dia mengaku sudah nikah siri, saya masih mencerna, bahwa ada hubungan lain di atas rumah tangga saya, nah di saat itu juga suami saya menceritakan bahwasanya anak dan istri sirinya itu hilang, jadi awal info yang disampaikan adalah istri dan anaknya itu hilang,” ungkapnya.

Menurut Martha, setelah menyampaikan pengakuan tersebut, Dwi Bagus menangis hingga bersujud di hadapannya untuk meminta maaf. Meski demikian, ia mengaku terpukul karena harus menghadapi kenyataan tentang perselingkuhan suaminya sekaligus terseret dalam situasi hukum yang serius.

Baca juga:
Pembunuhan Ibu dan Anak, Lansia Tenggelam dan Parade Surabaya Juang 2026

“Kalau dibilang marah kecewa sedih, itu pasti nggih, karena saya merasa semuanya tiba-tiba hadir, tiba-tiba terjadi, bukan hanya luka pengkhianatan, bukan hanya luka ada perempuan lain, tapi saya tiba-tiba harus dihadapkan dengan kasus hukum yang bisa dibilang besar,” tuturnya.

Martha juga menegaskan dirinya tidak mengetahui pembunuhan tersebut saat terjadi. Sebagai seorang guru, ia mengaku berada di sekolah selama jam kerja, mulai pukul 07.00 WIB hingga 15.30 WIB.

“Saya merupakan seorang guru dengan jam kerja mulai jam 07.00 WIB sampai 15.30 WIB, jadi saya tidak tahu sama sekali peristiwa tersebut. Saya baru tahu adanya peristiwa di rumah ini setelah suami saya tertangkap,” terangnya.

Baca juga:
5 Fakta Pembunuhan Keji Ibu dan Anak di Madiun, Dipicu Pesan dari Istri Sah

Dalam konferensi pers itu, Martha turut menceritakan pesan yang disampaikannya kepada Dwi Bagus saat proses prarekonstruksi. Ia meminta suaminya menerima apa pun keputusan hukum yang nantinya dijatuhkan dan tidak mengakhiri hidupnya sendiri.

“Saya sampaikan, ‘Kamu jangan takut mati, semua manusia mati, aku pun. Aku mati lebih dulu itu juga mungkin terjadi, artinya apapun putusan hukumnya nanti, putusan-Nya nanti ya diterimalah, saya.’ Saya sampaikan juga, ‘Kamu jangan bunuh diri di sana, kalau kamu bunuh diri nanti kamu tidak akan terlahir kembali sebagai manusia, kamu masih punya kesempatan hidup untuk bertaubat,’” pungkasnya.