jatimnow.com — Di balik megahnya arsitektur ibu kota dan riuk-pikuk keputusan politik di lantai parlemen, ada sebuah jeritan sunyi yang kerap terabaikan: kondisi bumi kita.
Pembangunan gedung-gedung tinggi dan angka pertumbuhan ekonomi sering kali dibayar mahal dengan kerusakan alam yang menyisakan beban bagi generasi yang belum sempat lahir.
Berangkat dari kesadaran mendalam itulah, peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-22 Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) tidak sekadar menjadi perayaan seremonial biasa.
Forum Senator Menyapa bertema "Dari Aspirasi Daerah Menuju Kebijakan Negara" yang digelar di Jakarta pada Kamis (5/11/2026) berubah menjadi panggung penyatuan visi demi menyelamatkan masa depan bangsa.
Sebuah gagasan besar dilontarkan oleh Ketua DPD RI, Sultan Bachtiar Najamudin: Demokrasi Hijau (Green Democracy).
Bukan Sekadar Angka Pertumbuhan
Bagi Sultan, kemajuan Indonesia hari ini tidak bisa lagi hanya diukur dari megahnya pendapatan nasional atau pesatnya pembangunan infrastruktur.
Ada harga mahal yang sering kali ditumbalkan untuk kelestarian alam dan keadilan sosial bagi rakyat di daerah.
"Pembangunan ekonomi tidak boleh mengorbankan lingkungan, pertumbuhan hari ini tidak boleh mewariskan utang ekologis, dan keputusan politik tidak boleh menjauh dari keadilan sosial," tegas Sultan di hadapan para peserta forum.
Mengutip kalimat legendaris sang Proklamator, Bung Hatta, Sultan mengingatkan kembali esensi penataan negeri ini dari pinggiran.
"Indonesia akan bercahaya bukan hanya karena cahaya besar di ibu kota, melainkan juga karena lilin-lilin kecil di desa dan di daerah-daerah," ucapnya.
Suara dari desa, wilayah pesisir, hingga pelosok perbatasan bukan lagi sekadar tumpukan kertas laporan.
Baca juga:
Pasar Murah dan Donor Darah Warnai HUT ke-22 DPD RI di Jawa Timur
Dari 10.880 aspirasi masyarakat yang berhasil diserap DPD RI, sebagian besar kini melangkah ke meja pembahasan bersama DPR dan Pemerintah, memastikan bahwa pembangunan nasional tidak menggilas hak-hak masyarakat daerah.
Melawan Greedy Economics Bersama Gen Z dan Gen Alpha
Gema demokrasi hijau tersebut menemukan gaungnya pada sosok Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama. Senator yang akrab disapa Ning Lia ini menyambut hangat komitmen kepemimpinan DPD RI.
Bagi Ning Lia, gagasan green democracy harus dibumikan menjadi aksi nyata yang menyentuh jiwa generasi muda.
Ancaman terbesar saat ini, menurut Ning Lia, adalah greedy economics—sebuah keserakahan ekonomi pragmatis yang merusak ekosistem demi meraup keuntungan sesaat.
"Generasi muda harus menjadi tonggak untuk melawan greedy economics. Kita perlu merawat kelestarian dan keberlanjutan," ujar Ning Lia.
Baca juga:
Senator Lia Istifhama Dorong Lingkar Wilis Jadi Motor Pembangunan di Jatim
Aksi ini bukan sekadar wacana di meja seminar. Ning Lia mencontohkan bagaimana langkah-langkah kecil, seperti yang ia gaungkan dalam talkshow di EXO Mangrove Surabaya beberapa waktu lalu, bisa menjadi gerakan besar.
Menanam pohon mangrove, menjaga kebersihan lingkungan sekitar, dan merawat ekosistem pesisir adalah benteng pertahanan nyata melawan ketakutan akan utang ekologis di masa depan.
Melalui pendekatan yang hangat, ia mengajak Gen Z hingga Gen Alpha untuk tumbuh tidak hanya sebagai pribadi yang cerdas dan adaptif secara teknologi, tetapi juga memiliki kepekaan nurani terhadap bumi yang mereka pijak.
Menatap Masa Depan yang Adil
Memasuki usia ke-22 tahun, DPD RI menegaskan posisinya bukan hanya sebagai penyalur suara daerah, tetapi juga pelindung masa depan bangsa. Kolaborasi antara kebijakan pemerintah, perjuangan parlemen, serta keterlibatan aktif perempuan dan generasi muda menjadi kunci utama.
Green democracy dan perlawanan terhadap greedy economics pada akhirnya bermuara pada satu janji sederhana. Yakni memastikan anak-cucu kita kelak masih bisa menikmati udara segar, meminum air bersih, dan menghirup kehidupan di tanah air yang lestari. Sebab menjaga bumi hari ini, adalah cara terbaik mencintai masa depan Indonesia.