Pixel Code jatimnow.com

Truk Bermuatan Tiang Listrik Mogok, Jalur Ponorogo-Pacitan Tutup 4 Jam

Editor : Arif Ardianto   Reporter : Mita Kusuma
Truk mogok di Jalan Raya Ponorogo-Pacitan
Truk mogok di Jalan Raya Ponorogo-Pacitan

jatimnow.com - Truk bermuatan tiang listrik mogok di jalur Ponorogo-Pacitan. Badan truk melintang di tengah jalan, Senin (28/1/2019). Hal ini membuat arus lalu lintas di jalan itu terhenti selama 4 jam.

Truk bermuatan tiang listrik tersebut diketahui berangkat dari Surabaya dan mengalami kerusakan mesin di Jalan Raya Ponorogo-Pacitan tepatnya di Dusun Dondong, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan.

Dari informasi yang dihimpun jatimnow.com, truk pembawa tiang listrik, bernopol L 8684 UU dikendalikan Basuki, warga Tuban. Truk berjalan dari Surabaya ke Pacitan.

Saat di lokasi, diduga truk tidak kuat menanjak dan mengalami kerusakan mesin hingga mogok.

"Iya, sepertinya ada masalah di mesin dan mogok," kata sopir truk, Basuki kepada jatimnow.com di lokasi.

Baca juga:
Somasi atas Mutasi Kepsek Belum Dijawab Gubernur, Ribuan Guru di Ponorogo Gelar Aksi



Mogoknya truk dengan posisi body melintang di jalan tersebut cukup lama, sekitar 4 jam. Hal ini diakrenakan menunggu mekanik yang memperbaiki truk dari Madiun.

"Nunggu mekaniknya juga cukup lama. Kan perjalanan Madiun ke lokasi sekitar 1.5 jam," jelasnya.

Kapolsek Tegalombo, AKP Sumarno mengatakan, truk mogok ini mengakibatkan kemacetan yang panjang.

"Kemacetan sampai 4 km," ujarnya.

Untuk sedikit mengurai kemacetan, petugas berupaya mengevakuasi truk agar jalan dapat dilewati. Polisi memberlakukan sitem buka tutup jalan.

"Ini masih buka tutup. Sementara, kendaraan besar kami alihkan. Dari Pacitan lewat Binade, Ngrayun. Untuk Ponorogo lewat Tahunan Baru, Bandar," pungkasnya.

 

Baca juga:
Wagub dan Kapolda Jatim Apresiasi Bumi Reog Berdzikir 2025

Saat Harapan Berubah Menjadi Tekanan
Catatan atas Kasus Viral “Pramugari” Khairun Nisa

Saat Harapan Berubah Menjadi Tekanan

Kisah viral tentang seorang perempuan muda yang berpura-pura menjadi pramugari Batik Air justru membuka lapisan persoalan yang jauh lebih dalam