Kasihan...Bencana Tanah Gerak Memaksa Pengungsi Tidur Berdesakan

Editor: Erwin Yohanes / Reporter: Mita Kusuma

Kondisi warga saat berada di pengungsian

jatimnow.com - Bencana tanah gerak di Desa Senepo dan Desa Slahung, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, kian mengkhawatirkan.

Apalagi jika hujan turun, pasti muncul bunyi gemuruh yang kian membuat takut warga.

Karena kondisi tersebut, mau tidak mau mereka harus rela tidur berdesakan dengan sesama pengungsi lain.

Mereka sadar hal itu lebih baik daripada tidur di rumahnya sendiri yang berada pada lingkaran garis tanah gerak.

Selain berbagi tempat tidur, para pengungsi juga terpaksa berbagi fasilitas lain. Salah satunya dapur umum yang hingga saat ini masih menggunakan milik Winarto.

"Masaknya jadi satu di sini, ibu-ibu gantian jadwalnya masak,’’ ujar Winarto.

Sampai saat ini memang belum ada tempat khusus dapur umum yang di bangun pemkab untuk para pengungsi. Winarto mengaku hanya mendapat bantuan logisik berupa bahan makanan maupun peralatan makan dan minum.

Sisanya mereka menggunakan peralatan sendiri. Kendati harus berbagi tempat tinggal dengan puluhan warga lain, Winarto mengaku tak masalah.

"Selama ini tidak ada masalah, semuanya sudah cukup,’’ sebutnya.

Hanya saja, yang warga harapkan saat ini mengenai kepastian kondisi di wilayah yang terdampak bencana tanah gerak tersebut.

Sebab, bagi warga mengungsi bukan menjadi persoalan. Namun yang mereka resahkan saat ini karena sudah berdampak pada kehidupan ekonomi warga.

Mereka mengaku takut untuk pergi ke ladang atau hutan untuk bekerja lantaran belum ada kejelasan mengenai kondisi pergerakan tanah tersebut.

"Katanya mau ada kajian, tapi sampai sekarang belum. Yang diharapkan warga sekarang itu (kajian) sebenarnya,’’ ungkapnya.

Selepas petang warga dipastikan berduyun-duyun mendatangi tempat pengungsian. Di antara mereka ada yang membawa selimut dan bantal.

Untuk aktifitas selama malam hari, warga lebih banyak menghabiskan waktu melihat televisi atau bercengkerama dengan sesama pengungsi lain.

Kondisi berbeda dialami sekitar 29 warga yang mengungsi di tenda oval BNPB tepatnya di Dukuh Jeruk, Dusun Genuk, Senepo. Mereka bukan hanya harus tidur bareng di bawah atap terpal tebal tenda.

Setiawan mengaku tempat tinggalnya tidak masuk dalam lingkaran tanah gerak, tapi juga ikut terancam lantaran lokasinya berada di bawah wilayah tanah gerak.

Berbeda dengan tempat pengungsian di Dukuh Salam, tempat Setiawan mengungsi tidak ada fasilitas lain kecuali tenda dan lampu. Pukul 20.00 wib  mereka sudah banyak yang tidur.

"Kalau malam ya sudah berkumpul di sini semua. Sebelum tidur hanya hanya bisa ngobrol dan bercanda saja,’’ ungkapnya.

Sebenarnya, selain di Salam dan Jeruk ada satu titik pengungsian lain yakni di Dukuh Mbolo, Dusun Kowang, Senepo yang terdapat sekitar 54 jiwa.

Namun, menurut warga untuk pengungsian di dusun tersebut lebih mudah aksesnya. Beda dengan di Salam dan Jeruk, di mana warga yang ingin mencapai lokasi pengungsian harus menempuh jalan terjal sekitar 4,5 kilometer dari jalan raya.

Berikut data pengungsi akibat bencana tanah gerak di Ponorogo:

78 jiwa Jumlah pengungsi di Dukuh Salam, Dusun Gembes, Slahung

29 jiwa Jumlah pengungsi di Dukuh Jeruk, Genuk, Senepo

54 jiwa Jumlah pengungsi di Dukuh Mbolo, Kowang, Senepo

12 Maret Pengungsian pertama dilakukan setelah kondisi tanah gerak di Dusun Salam mengalami perkembangan

 

Reporter: Mita Kusuma

Editor: Erwin Yohanes


jatimnow.com menyajikan pemberitaan di daerah Jawa Timur dan sekitarnya, menyajikan berita yang dikemas dengan apik tanpa mengabaikan nilai-nilai jurnalisme.

Jalan Jimerto No. 17a Surabaya

Call:  (031) 99248116

Email: jatimnow@gmail.com

Newsletter