Pengakuan Djaiti, Ibu yang Kepalanya Ditendang Anaknya Sendiri

Editor: Narendra Bakrie / Reporter: Arry Saputra

Djaiti, ibu yang ditendang kepalanya oleh Andri, anaknya sendiri di Surabaya

jatimnow.com - Djaiti (60), ibu yang ditendang kepalanya oleh Andri (21), anaknya, ternyata tengah mengidap penyakit paru-paru dan jantung. Meski begitu, Djaiti menyebut bila anaknya itu merupakan sosok yang baik.

Djaiti dan anaknya itu viral di media sosial setelah video keduanya diunggah kakaknya melalui akun Facebook. Dalam video itu, Andri menendang kepala ibunya Djaiti yang sedang berbaring di tempat tidurnya.

Ditemui di rumahnya di Jalan Kedondong, Surabaya, Djaiti telah diajak bekerja oleh kakak pertamanya, setelah sempat diamankan di Mapolsek Tegalsari pascaaksinya tersebut viral.

Djaiti tinggal di gang yang sempit yang hanya bisa dilalui satu motor. Ia tinggal di rumah berukuran 3x3 meter. Dengan keramahannya, Djaiti mulai menceritakan bagaimana keseharian Andri dan alasannya menolak anaknya untuk ditahan pada saat diamankan polisi.

Ia mengatakan bahwa Andri merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Menurutya, Andri tidak nakal seperti apa yang dibicarakan banyak orang setelah videonya tersebut viral. Hanya saja ketika kemauannya tidak dituruti, Andri sangat marah dan melakukan tindakan yang tidak baik kepada orangtuanya.

Baca juga:  Video Anak Tendang Kepala Ibunya di Surabaya Beredar Luas

"Anak saya tidak seperti itu sebenarnya, dia tidak pernah aneh-aneh, tidak pernah mabuk-mabukan juga. Setiap hari selalu pulang ke rumah. Tapi kalau minta uang tidak dikasih, itu terkadang melempar sandal, biasanya marah-marah waktu lapar, kalau tidak dikasih uang buat makan," terang Djaiti kepada jatimnow.com, Kamis (22/7/2019).

Menurut Djaiti, Andri sudah putus sekolah saat memasuki pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sebab Andri sudah tidak ingin belajar lagi dan memilih untuk bekerja.

"SMK putus sekolah, dia bilang kalau sudah tidak ada keinginan sekolah karena capek mikir. Kalau saya ya masih kepingin anaknya punya ijazah, ya kepingin. Tapi anaknya sudah nggak mau mikir berat-berat," paparnya.

Tapi, setelah putus sekolah, Andri tak kunjung bekerja. Ia masih bergantung kepada orangtuanya, meminta uang sekedar membeli makan dan rokok. Kondisi ekonomi keluarganya yang tidak cukup juga tidak bisa menuruti kemauannya. Sebab, kedua orangtua Andri sudah tidak bekerja dan hanya bergantung pada usaha jualan es yang tidak menentu penghasilannya.

Novi Dwi Cahyanti, anak Djaiti sekaligus kakak dari Andri

"Bapak nganggur sudah 71 tahun, ibu 60. Hanya jual es teh buat jajan anak. Siapa yang membutuhkan itu aja. Karena masih ada Andri ini, akhirnya masih jualan di rumah, buat anak yang satu ini. Kalau dia lapar, mau makan ya minta siapa, kalau bukan ibunya. Dia juga masih kewajiban biarpun nggak kerja dicariin uang," ucapnya.

Kemudian, Djaiti menceritakan bagaimana awal mula Andri sampai melakukan tindakan kekerasan kepada dirinya. Pagi hari itu, Andri meminta uang kepadanya untuk membeli makanan sebesar Rp 6 ribu dan diberi. Namun saat siang hari, ia kembali meminta uang Rp 10 ribu untuk membeli makanan dan rokok. Karena kemauannya tidak segera dituruti, ia marah dan menendang kepala ibunya.

"Kemarin itu pagi sudah meminta Rp 6 ribu sudah dikasih, siangnya minta 10 ribu, ya belum ada. Jualan juga sepi cuma jualan es. Waktu itu juga sempat dinasehati sama kakaknya, tapi melawan dan akhirnya terjadi seperti itu," beber Djaiti.

Perbuatan Andri tersebut direkam Novi Dwi Cahyanti, kakaknya hingga viral di media sosial. Sebagai orang tua, Djaiti merasa menyesal atas perbuatan yang dilakukan anaknya. Namun, sebagai orangtua ia tidak ingin anaknya ditahan dalam penjara, meski telah disakiti ia tetap menyayangi Andri.

"Sebenarnya menyesal mas, anak tidak tau tata krama dan sopan santun. Meski disakiti, ya namanya orang tua pasti sayang. Saya juga kasihan sama anak saya, tidak tega kalau ditahan, saya yang takut karena dia menangis," ungkapnya.

Djaiti pun berharap setelah anaknya sempat diamankan polisi, bisa menjadi pelajaran agar berbakti kepada orangtua. Ia hanya ingin keluarganya, kakak-kakak dan adiknya rukun dalam keluarga yang harmonis meski dalam kekurangan.

"Saya hanya berharap anak saya berubah dan tidak lagi berani sama orangtua. Kalau dia diamankan polisi jadi ada yang ditakuti. Saya nggak minta yang tinggi-tinggi, cuma keluarga bisa tentram damai. Itu mau saya. Bukan malah bertengkar, tidak marah-marah sama ibu," imbuhnya.

Sementara, Novi mengaku terpaksa mengunggah video aksi adiknya itu ke media sosial karena sudah geram dengan perilaku adiknya yang sering melawan ibunya.

"Posisi ibu juga sakit, ibu yang digituin aja bisa terima, orang se Indonesia ya pasti tidak terima. Ibu itu ya posisi sakit, ibu ikhlas banget anaknya dilepas," ungkap Novi.

Novi mengatakan, jika unggahan itu ia lakukan sebagai efek jera untuk adiknya supaya berhenti berperilaku durhaka kepada orang tua. Selain itu Novi juga tidak berniat untuk memviralkan videonya tersebut.

"Awalnya saya ndak ada niatan pengen memviralkan. Sebelum ada bukti itu sudah pernah lapor ke polsek terdekat tapi harus ada bukti visum. Karena juga dari polsek harus diselesaikan secara kekeluargaan. Video itu kemudian saya ambil dan posisi ibu saya mangkel (marah), saya juga sudah izin mosting itu. Gimana cara memberikan efek jera adek saya," tandasnya.


jatimnow.com menyajikan pemberitaan di daerah Jawa Timur dan sekitarnya, menyajikan berita yang dikemas dengan apik tanpa mengabaikan nilai-nilai jurnalisme.

Jalan Jimerto No. 17a Surabaya

Call:  (031) 99248116

Email: jatimnow@gmail.com

Newsletter