Pixel Code jatimnow.com

Pendapatan Kota Surabaya Berpotensi Anjlok akibat Wabah Corona

Editor : Narendra Bakrie Reporter : Zain Ahmad
Balai Kota Surabaya
Balai Kota Surabaya

jatimnow.com - Virus Corona atau Covid-19 berdampak pada anjloknya pendapatan asli daerah (PAD) Kota Surabaya. Sebab sejumlah sektor penyumbang PAD di Kota Pahlawan juga 'terkapar' akibat wabah ini.

Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Pajak Daerah (BPKPD) Kota Surabaya Yusron Sumartono mengatakan, pada Tahun 2019, PAD terealisasi 100 persen dari target Rp 4 triliun.

Menurut Yusron, PAD Tahun 2019 itu mencapai target 100 persen lantaran adanya inovasi digital dari layanan pembayaran pajak daerah. Juga disertai gencarnya sosialisasi kepada masyarakat wajib pajak.

"PAD tahun lalu, 26 persen disumbang oleh pajak bumi dan bangunan (PBB), bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB) 25 persen dan sektor lain seperti hotel menyumbang Rp 296 miliar, restoran Rp 536 miliar," beber Yusron saat dihubungi jatimnow.com, Sabtu (2/5/2020).

Menurutnya, pajak restoran lebih besar dari pada hotel karena memang objeknya semakin banyak dan berkembang di Surabaya. Hotel juga tercatat tumbuh. Hanya saja masih perlu terus didorong agar okupansinya meningkat.

Dengan pemenuhan 100 persen target PAD Tahun 2019 itu, Pemkot Surabaya sempat percaya diri untuk meningkatkan PAD pada Tahun 2020 hingga Rp 4,3 triliun.

Namun target itu mulai tergerus seiring banyaknya rumah makan, restoran, depot hingga hotel merugi akibat Virus Corona yang mulai mewabah di Surabaya pada Maret 2020.

Baca juga:
Muncul Lagi Subvarian Omicron Baru BA.2.75

Apakah Pemkot Surabaya akan merivisi target perolehan PAD 2020 atau tetap yakin dengan target semula Rp 4,3 triliun akan terpenuhi?

Yusron menyatakan bahwa dari dampak Covid-19 serta pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Surabaya, akan memukul pajak dari sektor rumah makan dan hotel yang bisa berdampak pada anjloknya PAD 2020.

"Pastinya akan berkurang. Sekarang semuanya sepi. Seperti hotel, rumah makan, restoran dan depot. Pemasukan dari pajaknya pasti akan turun drastis, karena hampir tidak ada penghuni hotel dan rumah makan atau restoran tidak seramai sebelum Covid-19. PBB juga diprediksi berkurang pendapatannya," papar Yusron.

Baca juga:
Kasus Positif Covid-19 di Indonesia Naik Hingga 620 Persen

Meski demikian, Yusron berharap masyarakat juga tetap membayar PBB. Sebab pajak tersebut juga untuk membantu masyarakat yang tidak mampu yang diapliksikan melalui pemberian bantuan paket sembako oleh pemkot.

"Tapi untuk tahun ini PAD-nya belum kita ketahui, realisasinya berapa, karena belum dihitung. Mungkin baru bula depan. Yang pasti akibat Covid-19 ini, pendapatan akan berkurang," tandasnya.