jatimnow.com
Mengenal Roni Siswanto, Kolektor Pusaka Kuno di Kota Probolinggo

Roni Siswanto menunjukkan pusaka kuno dan bersejarah yang dikoleksinya

jatimnow.com - Seorang pria di Kota Probolinggo menyimpan ratusan pusaka kuno yang ia dapat dari berbagai daerah di Indonesia. Pria bernama Roni Siswanto (46), itu menyimpan rapi koleksinya di rumahnya di Kelurahan Kanigaran.

"Kami mendapatkan keris keris ini sejak Rahun 2014 lalu dari masyarakat di wilayah Jawa Timur" kata Roni, Senin (16/11/2020).

Nama Roni sudah dikenal sebagai kolektor pusaka kuno dan bersejarah. Roni mengaku kerap kali didatangi sejumlah kolektor dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Bali, Jawa Tengah dan Jawa Timur sendiri.

"Ratusan jenis pusaka kuno mulai keris, tombak, pisau ini merupakan pusaka yang dipakai oleh masyarakat zaman kerajaan Mataram, Singosari, Tuban, Majapahit hingga Bali," ujar Roni.

Roni mengaku, koleksi pusaka yang ia miliki harganya bervariatif, mulai ratusan ribu sampai puluhan juta rupiah.

"Tergantung dari motif pusaka dan kuno tidaknya besi aji dari pusaka itu. Karena pusaka seperti keris atau sejenisnya itu, semakin kuno semakin mahal," papar Roni.

Roni dikenal dengan sosok yang nyentrik. Selain hobi mengoleksi pusaka kuno, pria ini juga banyak memakai beragam aksesoris yang terbuat dari batu akik mulai dari cincin hingga kalung.

"Saya cinta pada budaya bangsa dan ingin melestarikannya saja," jelasnya.

Selain itu, Roni menyebut bahwa masa Pandemi Covid-19 tidak berdampak terhadap usaha jual beli pusaka kuno yang ditekuninya. Dia mengaku kebutuhan ekonominya tetap tercukupi.

"Warga tetap saja mencari benda pusaka kuno. Jadi tidak pengaruh corona. Tetap laris," tegasnya.

Roni juga menerapkan sistem barter dalam usahanya tersebut.

"Yang penting harga keduanya sama-sama cocok, bisa tukar barang dengan pusaka saya miliki," jelasnya.

Loading...

Roni mengaku dirinya kerap kali diundang untuk mengikuti pameran benda pusaka. Bahkan beberapa waktu lalu dirinya sempat mengikuti kegiatan pameran di daerah Trowulan, Mojokerto.

"Sebelum mencintai budaya luar, kita wajib untuk mencintai kebudayaan asli Indonesia," tandasnya.

Berita Terkait