jatimnow.com
Ponpes NU Sepakat Dukung PTM Terbatas dengan Prokes Ketat

Logo Nahdlatul Ulama (Foto: Istimewa)

jatimnow.com - Pesantren yang bernaung pada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendukung proses pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Pesantren siap menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat untuk mendukung metode belajar itu.

Dukungan disampaikan Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama KH. Abdul Ghaffar Rozin dan Sekretaris Jenderal LPI Ma'arif NU Harianto Oghie. RMI NU beranggotakan hampir 24.000 persantren, sementara LPI Ma'arif menaungi hampir 22.000 sekolah.

Gus Rozin dan Harianto mengungkapkan, dukungan itu dalam istighosah dan doa bersama, yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kemendikbudristek, KPCPEN, PB IDI dan PBNU.

Gus Rozin menyebut, RMI bersama seluruh elemen NU terus berusaha menerapkan protokol kesehatan untuk mendukung pembelajaran tatap muka secara terbatas di lingkungan pesantren. RMI NU tidak ingin pesantren menjadi pusat penyebaran baru Covid-19.

Dia juga menyebut bahwa selama ratusan tahun, pesantren memiliki tradisi menggelar pendidikan secara tatap muka dan berkelompok.

"Hampir seluruh kegiatan santri sejak bangun tidur dilakukan secara berkelompok," tambah Gus Rozin seperti diterima jatimnow.com, Jumat (1/10/2021).

Pandemi membuat hampir 24.000 pesantren yang dinaungi RMI NU mengubah tradisi berabad-abad itu. Sebagian santri terpaksa diliburkan sehingga proses pendidikan tidak berjalan baik.

Sebab proses pendidikan di pesantren, terutama soal akhlak dan budi pekerti, dilakukan lewat pembiasaan sehari-hari di lingkungan pesantren.

Pendidikan akhlak dan budi pekerti memerlukan proses pembelajaran tatap muka agar optimal. Proses belajar dengan interaksi langsung guru dan murid juga akan lebih meningkatkan pemahaman murid.

Kepatuhan pada protokol kesehatan juga diterapkan di hampir 22.000 lembaga pendidikan Ma'arif, jaringan sekolah yang berafiliasi dengan NU.

"Mencegah kemudaratan diutamakan daripada mengambil manfaat," sambung Sekretaris Jenderal (Sekjen) LPI Ma'arif NU Harianto Oghie.

Menurutnya, penerapan protokol kesehatan di pesantren memang punya peluang dan tantangan.

"Pesantren lingkungan terbatas. Jadi perlu membatasi interaksi dengan orang di luar dan di dalam pondok," jelas Guru Besar Fakultas Kedokteran UI, Prof. Dr. dr. Soedjatmiko.

Dia mengingatkan, Covid-19 hanya butuh 10 detik untuk masuk ke saluran pernafasan lalu berkembang biak dan menginfeksi organ tubuh lebih luas. Infeksi bisa terjadi kala orang berkumpul dan tidak memakai masker dengan benar.

Sementara Direktur Sekolah Dasar Dirjen PAUD Kemendikbudristek, Dr. Sri Wahyuningsih mengatakan, pembelajaran tatap muka secara terbatas sudah diizinkan secara selektif.

"Hanya di zona hijau boleh tatap muka secara terbatas," ujarnya.

Loading...

Dia menambahkan, sudah ada sejumlah panduan pelaksanaan pembelajaran tatap muka secara terbatas. Salah satunya adalah sekolah bisa memakai dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk membeli peralatan yang dibutuhkan dalam penerapan protokol kesehatan.

Orangtua juga berhak memilih metode pembelajaran bagi anaknya, apakah tetap metode jarak jauh (PJJ) atau tatap muka (PTM). Hal yang harus diingat, keamanan proses pembelajaran tatap muka adalah tanggungjawab semua pihak. Orangtua juga berperan dalam proses itu.

 

Berita Terkait