jatimnow.com
Kisah Mbah Husen, Jasa Reparasi Gitar di Gresik yang Terimbas Pandemi

Mbah Husen dikenal sebagai Mbah Gitar (Foto: Sahlul Fahmi/jatimnow.com)

jatimnow.com - Papan nama bertuliskan Mitra Musik menjadi penanda jika rumah mungil yang terletak di timur Jalan Raya Desa Klampok, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik itu merupakan tempat servis, tukar tambah dan jual beli gitar.

Redaksi jatimnow.com yang kebetulan lewat di jalan tersebut berhenti sejenak mampir di rumah yang juga menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari mulai dari gula pasir, mi instan, hingga gas elpiji.

Setelah mengetuk pintu dan berucap salam, terdengar suara lirih seorang laki-laki tua menjawab salam. Ia yang sebelumnya berbaring di lantai beralaskan tikar kemudian duduk bersandar di tembok. Laki-laki tua itu kemudian mempersilahkan masuk ke rumahnya.

Hotel Sahid Surabaya 2222 Best Wedding Dates

Ya, itulah Mbah Husen seorang tukang servis gitar yang cukup dikenal di kawasan tersebut. Saat berbincang, Mbah Husen selalu terihat tersenyum.

Ia pun menceritakan perjalanan hidupnya hingga namanya dikenal sebagai Mbah Gitar.

Pria berusia 83 tahun yang kini tinggal seorang diri itu mengisahkan dirinya dulunya berjualan tahu tek di Pasar Benjeng.

Saat di tahun 1983, ia dihampiri seorang pengamen muda yang menawarkan gitar bututnya kepada Mbah Husen.

"Pengamen itu mau pulang tapi tidak punya uang, karena itu ia menawarkan gitarnya," kata Mbah Husen, Rabu (6/10/2021).

Sebenarnya Mbah Husen tidak membutuhkan gitar tersebut. Apalagi kondisi gitar itu sudah tidak terlalu bagus. Namun hatinya tergerak, ia merasa iba.

"Saya merasa kasihan. Akhirnya saya beli gitarnya seharga Rp 40 ribu," kenangnya.

Seusai momen itu Mbah Husen hanya menaruh gitar tersebut di sudut ruang tamu layaknya hiasan rumah. Gitar itu praktis menganggur sebab Mbah Husen tidak sedikitpun punya keahlian bermain gitar.

Hari-hari berlalu, hingga suatu hari Mbah Husen libur berjualan. Seharian di rumah membuat pikirannya usil. Matanya lantas tertuju pada gitar yang telah berdebu di sudut ruang tamu.

"Tiba-tiba saja saya ingin memperbaikinya," ujar Mbah Husen.

Mbah Husen lantas membawa gitar tersebut ke teras rumahnya. Ia pun mulai mempelajari konstruksi gitar akustik itu.

Dengan penuh kesabaran Mbah Husen mulai memperbaiki gitar tersebut hingga bentuknya terlihat lebih menawan.

"Selain memperbaiki bagian yang rusak. Saya juga mengecat ulang seluruh bagian gitar. Senarnya juga saya ganti baru," jelasnya.

Ternyata selama proses pengerjaan perbaikan gitar, Mbah Husen secara tidak sadar sedang diamati seorang anak muda tetangganya sendiri. Kebetulan anak muda itu juga memiliki gitar yang kondisinya sedang rusak.

Mengetahui Mbah Husen mampu memperbaiki gitar, anak muda tersebut lantas meminta tolong kepada Mbah Husen untuk memperbaiki gitarnya.

"Awalnya saya tolak karena saya merasa belum benar-benar mahir. Apalagi waktu saya terbatas karena harus berjualan tahu tek," kata Mbah Husen.

Namun karena anak muda tersebut terus merayu akhirnya Mbah Husen tak kuasa menolak. Setelah beberapa waktu, proses perbaikan gitar selesai. Gitar yang semula rusak kini terlihat bagus.

Anak muda pemilik gitar yang gembira kemudian mengabarkan hal ini kepada teman-temannya. Perlahan rumah Mbah Husen kemudian mulai ramai didatangi anak muda yang ingin memperbaiki gitarnya.

"Dari situ waktu saya lebih banyak untuk memperbaiki gitar," terangnya.

Seiring berjalannya waktu Mbah Husen merasakan bisnis jasa perbaikan gitar ini lebih menguntungkan. Naluri bisnisnya berjalan, jika sebelumnya ia hanya membuka jasa perbaikan gitar kemudian ia membuka jasa tukar tambah gitar bekas maupun baru.

Dengan modal yang ada Mbah Husen berbelanja gitar baru ke Surabaya. Gitar-gitar tersebut lantas dipajang di ruang tamu rumahnya.

Jika ada anak muda yang hendak memperbaiki gitar, ia menawarkan tukar tambah dengan gitar bekas maupun baru.

"Banyak anak muda yang tertarik dengan tawaran ini. Jika mereka servis tentu butuh waktu untuk menunggu. Tapi dengan tukar tambah mereka bisa langsung mendapat gitar pengganti yang lebih bagus," jelasnya.

Saat itu Mbah Husen mengaku dalam seminggu ia mendapat keuntungan rata-rata Rp 1 juta lebih. Pelanggannya tak lagi terbatas dari wilayah Gresik, namun juga dari Lamongan, Mojokerto bahkan Surabaya.

Loading...

Namun masa-masa indah itu telah surut. Sejak Pandemi Covid-19, jasa servis gitar dan jual beli gitarnya merosot. Kini Mbah Husen hanya mengandalkan pendapatan dari toko kelontong di rumahnya.

"Sekarang sebulan sekali belum tentu ada yang datang untuk servis gitar," ungkap Mbah Husen,

Belum lagi kondisi usia yang kian tua juga membuat Mbah Husen tidak segesit dulu. Tenaganya terbatas sehingga tak bisa lagi memperbaiki gitar dengan cepat dan maksimal.

"Ada satu gitar yang minta diperbaiki. Tapi belum bisa saya kerjakan karena saya belum fit," ujarnya lirih.

Di rumahnya ini Mbah Husen hanya tinggal seorang diri. Namun setiap pagi dan petang keponakannya datang menjenguk untuk mengantar makanan.

Meski kondisinya saat ini tak lagi seperti dulu Mbah Husen mengaku tetap bersyukur. Sebisa mungkin ia berusaha untuk mandiri dan tidak merepotkan orang lain.

"Apapun yang diberikan Allah SWT tetap harus disyukuri," pungkas Mbah Husen.

Berita Terkait