Mahasiswa UWKS Peraih Medali Emas PON XX Papua Disambut Apresiasi

Tiga mahasiswa UWKS meraih medali pada ajang PON XX 2021 di Papua.

jatimnow.com - Tiga mahasiswa Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) berhasil meraih medali pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX 2021 di Papua.

Mereka adalah Ananda Rigi Aditya (cabor bermotor) mahasiswa Fakultas Kedokteran peraih medali emas, Raffiuddin Helmi (cabor sepatu roda) mahasiswa Fakultas Pertanian peraih medali emas, dan Mochamad Andhy Yusuf Kusnari (cabor polo air) mahasiswa Fakultas Ekonomi peraih medali perak.

Civitas akademika menyambut kedatangan ketiganya dengan antusias. Tak hanya itu, mereka unjuk kebolehan dengan menunjukkan keahlian bermotor dan bermain sepatu roda di lapangan kampus setempat.

Rektor UWKS, Prof Widodo Ario Kentjono menyatakan rasa bangganya kepada 3 mahasiswa tersebut. Widodo mengapresiasi ketiganya dengan memberikan pembebasan SPP dan beasiswa.

"Bagi peraih medali emas juara 1 di PON 20 Papua dari Fakultas Kedokteran (Rigi) sesuai dengan peraturan rektor, dibebaskan SPP selama 18 bulan senilai Rp 90 juta. Lalu, dari Fakultas Pertanian (Raffiuddin) mendapat pembebasan SPP selama 18 bulan juga senilai Rp 27 juta. Yang ketiga (Yusuf) mendapat beasiswa CSR," kata Widodo, Selasa (12/10/2021).

Beberapa hari jelang pemberangkatan atlet, lanjut Widodo, pihaknya optimis para mahasiswa bisa menyabet emas mewakili kontingen Provinsi Jatim. Terlebih prestasi ketiganya tidak diragukan lagi, mengingat sebelum lolos mengikuti PON XX, mereka telah berprestasi di kancah nasional dan internasional dengan memenangkan medali emas.

UWKAS juga memberikan uang pembinaan kepada para Atlet yang berangkat ke PON XX Papua.

"Kami sangat bangga dan bersyukur atas prestasi yang ditorehkan mahasiswa kami. Jadi, kami beri beberapa kemudahan sampai pendidikan mereka selesai," jelasnya.

Raffiuddin Helmi mengaku perjuangannya tak mudah dalam mendapatkan medali emas. Sebab, ia harus giat berlatih meski minim fasilitas.

"Yang sulit itu fasilitas ya, kalau kemarin di PON Papua ada trek yang standar internasional, kalo di Jatim belum ada," tuturnya.

Meski senang, bukah hal yang mudah untuk bertarung melawan atlet dari seluruh daerah di Indonesia. Raffiuddin harus beradaptasi trek dengan waktu yang minim.

"Jadi, kalau penyesuaian trek itu minimal 1 bulan lah. Nah kemarin pas di Papua, cuma 2 hari saja," katanya.

Atlet cabor sepatu roda dari setiap daerah merupakan saingan beratnya. Terutama, dari Provinsi Kalimantan Timur, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

Persiapannya selama 2 tahun untuk berlaga di Pon Papua tak sia-sia.

"Kami gak menyangka (bisa menang), karena gak sesuai target dan kebanyakan meleset (waktu latihan). Meskipun, sebelumnya (PON XIX Jawa Barat) sebelumnya dapat 2 emas," jelasnya.

Senada dengan rekannya, Ananda Rigi Aditya mengaku bangga bisa mengharumkan nama kampus, kota, dan provinsi. Mengingat, cabor yang diikutinya adalah yang pertama kali sejak PON digelar.

Loading...

Atlet bermotor 125cc itu mengutarakan, ada serangkaian pengalaman panjang nan menarik saat berlatih hingga bertanding dalam sirkuit PON. Durasi warming up (pemanasan) dengan sirkuit sangat singkat nan terbatas.

"Sirkuitnya sangat panjang dan beda dari Jatim, tentu ada penyesuaian, harus cepat adaptasi, karena kontur tanah, jumping, dan lain sebagainya beda, lebih panjang dan tinggi, sekitar 28 meter," tutur dia.

Meski begitu, mahasiswa yang kini menjalani semester 4 kedokteran itu mengaku senang. Sebab, baru pertama kali mengikuti cabor bermotor dan berhasil memenangkan emas untuk Jatim dan Surabaya.

"Ini PON yang pertama kali, saya ikut di 125cc kategori regu dan perorangan, ini emas saya pertama kali juga," tutupnya.

Berita Terkait