jatimnow.com
Sekolah SPI Kota Batu Juga Dilaporkan Terkait Kasus Kekerasan

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Batu, Fuad Dwiyono (kemeja putih) saat mendampingi korban kekerasan Sekolah SPI Kota Batu.

Batu - Kepala Asrama Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu, Ahmad Akhiyat dilaporkan ke pihak kepolisian terkait dugaan tindak kekerasan.

Akhiyat dilaporkan oleh Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Batu, Fuad Dwiyono, ke Polres Batu setelah mendapatkan bukti kuat dugaan kekerasan terhadap korban berinisial AM asal Jakarta.

Terlapor merupakan suami dari Risna Amalia, mantan Kepala Sekolah SPI Kota Batu. Kasus ini, berbeda dengan kasus yang menyeret JE, pemilik sekolah SPI yang sudah ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus dugaan pelecehan seksual.

Hotel Sahid Surabaya 2222 Best Wedding Dates

"Sebenarnya ini adalah bagian dari kekerasan-kekerasan yang banyak terjadi di SPI. Harapan kami polisi bisa bekerja secara maksimal untuk mengusut kasus yang dilaporkan kali ini," kata Fuad, Rabu (17/11/2021).

Fuad berharap kasus ini dituntaskan seadil-adilnya karena dugaan tindak kekerasan telah lama terjadi di sekolah tersebut. LPA mendesak kepolisian bergerak cepat menangani kasus di SPI.

"Pasalnya kasus ini berada di wilayah hukumnya. Kemudian, ini bisa menjadi momentum untuk membangun marwah kepolisian Kota Batu," imbuh Fuad.

LPA Batu akan terus mendalami informasi terkait kasus-kasus kekerasan di SPI. Fuad meyakinkan kepada korban agar tidak takut melapor bila mengalami hal serupa.

"Kami akan terus kawal dan melindungi. Korban jangan takut melapor," tegasnya.

Kepada jatimnow.com, AM yang ditemui di Polres Batu didampingi LPA menceritakan dirinya sering menerima tindak kekerasan berupa pemukulan oleh terlapor.

"Alasan pemukulan itu setelah saya dituduh menyebarkan informasi tidak benar. Padahal saya tidak mengatakan atau mengetahui seperti yang dituduhkan ke saya," katanya.

Aksi pemukulan terjadi pada 3 Mei 2021. Saat itu, Risna masih menjabat sebagai Kepala Sekolah SPI. Dimana semua pelajar diminta berkumpul di tempat bernama BP Cinema. Di BP Cinema, korban bersama seorang rekannya dipukul oleh Akhiyat di hadapan pelajar lainnya dan Risna Amalia.

"Sebelumnya, kepala sekolah dulu yang bicara kepada saya, lalu kepala asrama. Tidak lama, saya dituduh lalu dipukul di situ," bebernya.

Akibat pemukulan itu, korban merasakan sakit di bagian belakang kepalanya. Ia membutuhkan waktu tiga hari untuk kembali pulih.

"Setelah kejadian itu saya juga dikeluarkan dari lingkungan SPI dan disuruh mengikuti pembelajaran online," imbuhnya.

Selain kekerasan fisik, korban juga mengaku pernah mendapat kekerasan verbal. AM yang didampingi temannya berinisial Y, juga mengakui hal yang sama.

"Saya kan seorang anak yatim piatu. Suatu ketika atas kesalahan yang ia lakukan, seorang pembina di situ mengeluarkan perkataan yang tidak pantas. Mereka berkata begini, kamu kan anak yatim piatu, memang bisa apa? Anaknya orang mati mana bisa sukses," jelas Y menirukan ucapan terlapor.

Y bahkan mengaku pernah dipaksa memakan cabe rawit pada pagi hari, sementara dirinya belum sarapan.

Loading...

"Pernah itu dulu pagi-pagi. Tidak hanya kami yang sering dianiaya, murid lain juga. Sering kali dipukul dan dipekerjakan tidak wajar. Di sana kami malah jarang belajar, bekerja yang pasti bahkan pernah saya tidak tidur selama 24 jam," tuturnya.

Sementara itu, Kuasa Hukum AM, Kayat Harianto membenarkan bila laporan itu sudah masuk ke Polres Batu, Selasa (16/11/2021) dan diterima dengan nomor laporan STTLP/B/121/XI/2021/SPKT/POLRES BATU/POLDA JATIM/.

"Benar Kepala Asrama SPI sudah kami laporkan ke Polres Batu terkait dugaan kekerasan yaitu pemukulan," tegasnya.

Hingga saat ini Sekolah SPI Kota Batu belum merespon ketika dikonfirmasi terkait pelaporan ke Polres Batu.

Berita Terkait