jatimnow.com

Alasan PT Freeport Indonesia Bangun Smelter di Gresik

Editor : Arina Pramudita Reporter : Sahlul Fahmi
Vice President PT Freeport Indonesia Riza Pratam (Foto: Sahlul Fahmi/jatimnow.com) 🔍
Vice President PT Freeport Indonesia Riza Pratam (Foto: Sahlul Fahmi/jatimnow.com)

Gresik - Pembangunan smelter PT Freeport Indonesia di kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) yang berlokasi di Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, dinilai sangat tepat, Hal itu disampaikan oleh Vice President PTFI Riza Pratam.

Banyaknya perusahaan di Kabupaten Gresik yang dapat menyerap berbagai limbah dari produk karoda tembaga yang dihasilkan PTFI menjadi alasan utama pembangunan smelter di JIIPE.

“Limbah yang dihasilkan smelter bisa menjadi bahan dasar pabrik lain. Misal limbah asam sulfat bisa digunakan untuk bahan dasar pupuk, dan di Gresik ada perusahaan pupuk nasional. Kemudian terak tembaga juga bisa untuk bahan dasar semen, dan di Gresik juga ada perusahaan semen nasional. Tidak ada materiil yang akan dibuang sembarangan,” kata Riza Pratam, Jumat (26/11/2021) malam.

Loading...

Riza juga mengungkapkan alasan PTFI lebih memilih membangun smelter di Gresik dari pada di Papua karena efisiensi biaya.

"Kalau membangun smelter di Papua tentu biayanya jauh lebih tinggi karena di sana tidak ada perusahaan yang dapat menyerap limbah smelter,” ungkapnya.

Untuk permasalahan limbah, Riza menegaskan jika pengelolaan smelter berbeda dengan pengelolaan PTFI di Mimika Papua. Hal itu karena produksi yang dihasilkan smelter dan PTFI memang berbeda. Riza menjamin jika limbah smelter adalah industri, bukanlah perusahaan tambang seperti PTFI.

“Dan sebagai perusahaan profesional, kami memiliki pengolahan limbah yang baik,” ucap Riza.

Riza menambahkan, saat ini pembangunan smelter di JIIPE yang dikerjakan oleh PT Chiyoda Internasional Indonesia tersebut telah mencapai 8 persen.

“Tahap pembangunan smelter itu memang lama. Sebab, sebelum pembangunan smelter, rekanan terlebih dahulu akan meratakan dan memadatkan tanah hingga mencapai standar yang ditentukan,” jelasnya.

Adapun tiang pancang yang ditanam di lahan seluas 100 hektar itu, membutuhkan 1800 tiang. Pengerjaan bangunan dalam skala besar akan dimulai pada tahun 2022 dimana diprediksi akan ada sekitar 40 ribu orang tenaga kerja.

“Kami target tahun 2024 smelter sudah beroperasi. Sedang tenaga kerja yang kami butuhkan nanti mencapai 1000 orang yang memiliki skill metalurgi. Mengenai spesifikasi SDM yang kita butuhkan nanti akan kami share ke Pemkab Gresik,” pungkas Riza.