jatimnow.com

Sejarah Munculnya Batik Ningrat Lasem yang Tersohor

Editor : Arina Pramudita Reporter : Zain Ahmad
Batik Tulis Lasem dari Ningrat Batik Lasem. (Foto: Sahlul Fahmi/jatimnow.com) 🔍
Batik Tulis Lasem dari Ningrat Batik Lasem. (Foto: Sahlul Fahmi/jatimnow.com)

Lasem - Batik Tulis Lasem dari Ningrat Batik Lasem, terkenal memiliki motif yang rumit dan khas. Budaya Tiongkok dan Jawa adalah perpaduan penting dalam pembuatan batik cantik itu.

Lantas, bagaimana sejarah munculnya batik dari kabupaten yang berjuluk The Cola of Java atau Little Tiongkok itu?

Rifa'i, owner Batik Tulis Lasem dari Ningrat Batik Lasem menjelaskan, Batik Tulis Lasem sudah terkenal sejak abad 13, saat masih menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit.

Loading...

"Motif batiknya dipengaruhi sangat kuat oleh budaya Cina karena pendaratan pasukan Cheng Ho saat itu. Lalu berpadu dengan budaya lokal sehingga motif dan warnanya unik," terang Rifai kepada jatimnow.com di rumah produksi batiknya di Desa Sumbergirang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Kamis (16/12/2021).

Menurut dia, perkembangan Batik Tulis Lasem dimulai sejak masa Na Li Ni, istri Bi Nang Un, seorang anggota ekspedisi Cheng Ho yang memperkenalkan teknik membatik pada abad ke-15.

Batik Tulis Lasem masa itu diekspor secara besar-besaran ke Singapura dan Sri Lanka. Meski demikian, ternyata pada 1970-an Batik Tulis Lasem sempat mengalami kemunduran.

Setelah batik diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 2009, Batik Tulis Lasem juga mulai bergairah kembali.

"Motif Batik Tulis Lasem itu biasanya naga, bunga teratai, digabung dengan motif lokal. Yang paling khas itu warna merahnya. Di sini disebut getih pitik (darah ayam). Merahnya khas karena bahan baku mineralnya hanya ada di Lasem," jelas pengusaha berusia 52 tahun itu.

Proses pembuatan Batik Tulis Lasem. Foto: Sahlul Fahmi/jatimnow.com)Proses pembuatan Batik Tulis Lasem. Foto: Sahlul Fahmi/jatimnow.com)

Kekhasan dan rumitnya motif Batik Tulis Lasem membuatnya dihargai tinggi.

"Harga Batik Tulis Lasem secara umum berkisar 150 ribuan rupiah hingga 50 juta rupiah. Tergantung proses pengolahan kainnya," sebutnya.

Rifai mengungkapkan, keberadaan Batik Tulis Lasem yang masih eksis hingga sekarang juga tak lepas dari peran PT Semen Indonesia atau Semen Indonesia Group (SIG).

"Sejak ada pabrik Semen Gresik di Rembang. Kami diberi pelatihan serta pembinaan apa yang dibutuhkan oleh pengrajin," ungkapnya.

Dirinya memulai usaha pengrajin batik ini sejak tahun 2011. Saat itu, usahanya biasa-biasa saja. Namun, sekarang banyak pesanan souvenir batik jika SIG ada tamu pejabat atau ada kegiatan.

Rifa'i menambahkan, Batik Tulis Lasem yang dikelolanya ini mempekerjakan banyak orang di sekitar lingkungannya. Ada 25 perajin batik harian, dan 100 orang yang kerja sampingan.

Salah satu pegawainya yakni Mukaromah, perajin batik yang sudah 15 tahun menekuni warisan budaya tersebut.

Mukaromah mangatakan rata-rata untuk menyelesaikan batik tulis membutuhkan waktu sampai satu bulan. Waktunya bisa lebih dan itu tergantung motifnya.

"Kalau yang motifnya biasa satu minggu bisa selesai. Tapi kalau motifnya banyak selesainya sebulan bahkan lebih," tandasnya.