jatimnow.com

Kelaparan, 69 Juta Orang Arab Kekurangan Gizi

Editor : REPUBLIKA.co.id Reporter : REPUBLIKA.co.id
Ilustrasi (Foto: Pixabay) 🔍
Ilustrasi (Foto: Pixabay)

jatimnow.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (16/12) menunjukkan sebuah laporan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), bahwa sebanyak 69 juta orang di bangsa Arab mengalami kelaparan pada 2020. Jumlah kekurangan gizi di dunia Arab ini, naik 4,8 juta orang menjadi 69 juta, hampir 16 persen dari populasi.

"Sepertiga orang di dunia Arab yang berpenduduk 420 juta orang tidak memiliki cukup makanan," kata PBB dilansir dari Alarabiya, Jumat (17/12/2021).

Menurut FAO, peningkatan tingkat kekurangan gizi telah terjadi di semua tingkat pendapatan, di negara-negara yang terkena dampak konflik maupun non-konflik.

Loading...

“Selain itu, hampir 141 juta orang tidak memiliki akses ke pangan yang cukup pada 2020, meningkat lebih dari 10 juta orang sejak 2019," terang FAO.

Menurutnya, pandemi Covid-19 memperparah kondisi tersebut, di mana jumlah orang kurang gizi di wilayah tersebut meningkat 4,8 juta dibandingkan dengan 2019.

Misalnya saja Somalia dan Yaman yang dilanda konflik tetap menjadi negara yang terkena dampak terburuk tahun lalu, dengan hampir 60 persen warga Somalia kelaparan dan lebih dari 45 persen warga Yaman kekurangan gizi.

“Yaman memiliki prevalensi anemia tertinggi pada 2020, mempengaruhi 61,5 persen wanita usia reproduksi,” katanya.

FAO mengatakan kelaparan telah meningkat sebesar 91,1 persen di dunia Arab selama dua dekade terakhir. Peningkatan angka kekurangan gizi ini juga berdampak pada kenaikan angka stunting pada anak-anak.

“Angka stunting (20,5 persen) dan kelebihan berat badan (10,7 persen) di antara anak-anak di bawah usia lima tahun tinggi pada 2020,” kata FAO.

Angka obesitas mengalami peningkatan pada orang dewasa, terutama di negara-negara Arab yang lebih kaya. Data menunjukkan bahwa 28,8 persen populasi orang dewasa mengalami obesitas, yaitu lebih dari dua kali lipat rata-rata global 13,1 persen.

“Negara-negara berpenghasilan tinggi menunjukkan prevalensi obesitas dewasa tertinggi di kawasan ini, sedangkan negara-negara berpenghasilan rendah memiliki tingkat terendah," kata FAO.

Lihat Artikel Asli

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama jatimnow.com dengan Republika.co.id. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab Republika.co.id