jatimnow.com

Dugaan Pelecehan Seksual Terjadi di Ponpes Modern Al Izzah Batu

Editor : Zaki Zubaidi Reporter : Galih Rakasiwi
SMA Al Izzah yang berada di Ponpes Al Izzah Kota Batu. (Foto: Galih Rakasiwi/jatimnow.com) 🔍
SMA Al Izzah yang berada di Ponpes Al Izzah Kota Batu. (Foto: Galih Rakasiwi/jatimnow.com)

Batu - Dugaan kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan pendidikan kembali terjadi di Kota Batu. Kali ini terjadi di pondok pesantren modern SMA Al Izzah Kota Batu.

Orang tua korban menceritakan, putranya yang duduk di kelas 10 menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual oleh temannya. "Awalnya saya curiga karena putra saya ada perubahan tingkah laku. Setelah saya tanya dia pun mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya," .

"Dulu sekolah di sana anak saya, sekarang tidak. Keluarga kami pun menyerahkan penyelesaian kasus ini kepada pihak yang berkompeten untuk menangani, yaitu lembaga di bawah naungan Pemkot Batu," ujarnya beberapa waktu lalu.

Dirinya mengaku mementingkan terlebih dahulu keselamatan anaknya dan membawanya pulang serta memindahkannya ke sekolah yang lain. Kecewanya ketika dia menyampaikan kepada pihak sekolah, ia menilai ada kesan pembiaran terhadap pelaku.

Loading...

“Saya merasa kejadian ini tidak hanya menimpa anak saya, pasti banyak yang belum berani bilang. Jadi kami serahkan, dasarnya untuk kebaikan sekolah, kami minta untuk ditelusuri. Kami maunya tabayun, cuma sepertinya dari pihak sekolah membiarkan, tidak gerak cepat,” ungkapnya.

Bahkan dia mendapat keterangan dari putranya bila ada tujuh pelaku pelecehan seksual. Mereka semua mengakui perbuatannya. Saat dipanggil orang tua wali, hanya empat orang tua wali saja yang datang.

"Peristiwa pelecehan seksual itu terjadi 14 kali, tentu ada korban lain selain anaknya.
Pelaku ini adalah satu angkatan dengan anak saya," bebernya.

Untuk kondisi putranya, dia mengaku sekarang dalam keadaan tertekan dan sangat stres. Setiap kali mendengar kata Kota Batu dia nampak takut, padahal masih 9 bulan sekolah di SMA Al Izzah.

"Jadi setiap membayangkan atau mendengar Kota Batu ia sangat takut. Traumatis yang dia alami mungkin karena dari tempat yang didambakan menjadi tempat yang mengecewakan," paparnya. Sekarang setiap kali temannya yang di Al Izzah menanyakan kabar putranya enggan menjawab atau membalasnya.

"Harapannya permasalahan ini bisa diketahui publik agar ada penangganan serius dan tidak ada korban-korban lain," ujarnya.

Kepala SMA Al Izzah, Adnan Yakub saat memberikan keterangan didampingi Bagian Kesiswaan, M Saifuddin (kanan). ((Foto: Galih Rakasiwi/jatimnow.com)Kepala SMA Al Izzah, Adnan Yakub saat memberikan keterangan didampingi Bagian Kesiswaan, M Saifuddin (kanan). ((Foto: Galih Rakasiwi/jatimnow.com)

Menanggapi itu, Kepala SMA Al Izzah, Adnan Yakub mengakui bila memang ada kekerasan fisik di SMA Al Izzah. Kekerasan fisik itu seperti pemukulan dan catatan kasus perundungan lainnya seperti sekolah lainnya.

Sedangkan pelecehan seksualnya, Adnan menyebut itu adalah penyimpangan orientasi seksual oleh pelaku. Bahkan menurutnya kasus sudah diselesaikan secara kekeluargaan.

"Kalau kami menyebutnya bukan korban ya. Dan dia sudah pindah sekolah, sedangkan pelaku masih berada di Al Izzah. Dalam penyelesaian kami juga dibantu oleh Pemprov Jatim, Pemkot Batu, dan KPAI," jelasnya saat ditemui, Senin (21/12/2021) kemarin.

Adnan menyebut, pelaku telah diberi sanksi berupa pemanggilan orangtua dan pemberian surat peringatan. Surat peringatan itu berisi ancaman akan dikeluarkannya pelaku dari sekolah jika kembali melakukan pelanggaran serupa.

"Kalau untuk penyintas kami dari sekolah tidak banyak mengetahui kondisinya soalnya dia memutuskan keluar dari sekolah setelah kasusnya diketahui dan ditangani," ucap Adnan.

Menurutnya peristiwa tersebut dikatakan Adnan terjadi pada 2020. Dilaporkan serta diselesaikan pada pertengah 2021. Pada 9 Juli, pihak keluarga penyintas dan pelaku bertemu.

"Disitulah terjadi perdamaian sehingga pihak sekolah menganggap kasus telah selesai. Jadi bikan pelecehan seksual ya, saya tegaskan lagi cuma penyimpangan orientasi seksual," tegasnya.

Bahkan dia menyebut apa yang terjadi pada kasus tersebut merupakan ujian terhadap kedua orangtua penyintas dan pelaku.

“Sebetulnya itu bukan kasus, tapi ujian terhadap kedua orangtua,” katanya.

Dirinya pun juga membantah bila kejadian berulang beberapa kali, sejauh ini, ditegaskan Adnan ada satu korban dan pelaku.

Terhadap pelaku, pihak sekolah masih memberikan kesempatan untuk tetap berada di lingkungan sekolah dengan pemantauan ketat. Bahkan dikatakan Adnan, pelaku justru menunjukan perubahan dan berhasil masuk 10 besar siswa berprestasi.

"Justru dia berprestasi dan masuk 10 besar. Siswa ini sudah lebih baik. Dia juga menjadi anggota organisasi Badan Dakwah Masjid di sekolah ini," tukasnya.

Loading...