jatimnow.com

Rajut Kebersamaan, Banyuwangi Gelar Festival Kebangsaan

Editor : Arina Pramudita
Pemkab Banyuwangi menggelar Festival Kebangsaan di Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari. (Foto: dok Pemkab Banyuwangi/jatimnow.com) 🔍
Pemkab Banyuwangi menggelar Festival Kebangsaan di Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari. (Foto: dok Pemkab Banyuwangi/jatimnow.com)

Banyuwangi – Pemkab Banyuwangi menggelar Festival Kebangsaan di Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari. Gelaran terinspirasi dari keberagaman etnis, suku, ras, dan agama yang ada di Kabupaten Banyuwangi.

"Keberagaman yang ada di lingkungan kita ini, bukan menjadi alasan untuk saling membeda-bedakan. Tapi, justru untuk saling mengenal dan memperkuat persatuan," ujar Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, dalam keterangan resminya yang diterima redaksi, Kamis (30/12/2021).

Dengan kerukunan dan persatuan semua suku dan etnis tersebut, Ipuk berharap, Banyuwangi akan semakin aman dan nyaman.

Loading...

"Sehingga semua dapat bekerja dan beraktivitas dengan lancar. Memberikan yang terbaik untuk daerah. Semuanya menjadi sejahtera," ungkapnya.

Festival Kebangsaan kali ini menghadirkan berbagai etnis dan suku yang tinggal di Banyuwangi. Selain suku Osing yang merupakan penduduk asli, juga terdapat berbagai suku lain. Seperti Jawa, Madura, Bali, Mandar-Bugis, Minang sampai etnis Tionghoa dan Arab. Mereka mengenakan berbagai baju khasnya masing-masing.

"Jika melihat sejarah, seluruh suku dan etnis yang tinggal di Banyuwangi ini telah turut berkontribusi untuk membangun daerah kita tercinta ini. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk mengucilkan atau bahkan mendiskriminasi. Semua berhak untuk mengekspresikan dirinya di bumi Blambangan ini," ungkap Plt Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Banyuwangi Muhammad Lutfi.

Desa Patoman sengaja dipilih sebagai tuan rumah karena memiliki karakter keberagaman etnis dan agama. Di desa yang berbatasan dengan pantai ini, setidaknya ada empat suku yang tinggal. Selain Osing, juga ada suku Jawa, Madura dan Bali. Menariknya, masing-masing suku tersebut tetap mempertahankan budaya dan bahasanya.

"Semuanya hidup rukun dan saling berbaur dengan baik. Inilah yang kemudian menjadi alasan utama kegiatan ini diselenggarakan di sini. Desa ini juga bisa disebut Desa Kebangsaan," tambah Ketua Forum Pembauran Kebangsaan Banyuwangi Miskawi.

Ekspresi keberagaman dalam Festival Kebangsaan tidak hanya terlihat dari aneka jenis baju adatnya. Namun, juga terlihat dari tumpeng yang disajikan. Mulai tumpeng Osing, Jawa, Madura, sampai tumpeng kebuli khas Arab.

Selain itu, juga ditampilkan Tari Barong dari lintas suku dan etnis. Diawali dengan Tari Barong khas Bali yang diiringi dengan Rande dari Patoman. Kemudian disusul dengan Tari Barong Osing dari Gintangan dengan iringan gamelan. Kemudian ditutup dengan tari barongsai persembahan dari komunitas Tionghoa TITD Hoo Tong Bio, Banyuwangi.

"Keseniannya boleh sama, barong. Tapi, masing-masing punya kekhasannya sendiri. Inilah kekayaan dari keragaman budaya di Banyuwangi," terang Lutfi.