Pixel Code jatimnow.com

Minyak Goreng di Jombang Langka, Kadisdagrin Sebut Ada Fenomena Panic Buying

Editor : Narendra Bakrie Reporter : Achmad Supriyadi
Rapat Disdagrin Jombang dengan distributor minyak goreng (Foto: Elok for jatimnow.com)
Rapat Disdagrin Jombang dengan distributor minyak goreng (Foto: Elok for jatimnow.com)

Jombang - Panic buying disebut menjadi pemicu kelangkaan minyak goreng yang di Kabupaten Jombang. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin) Jombang Hari Oetomo.

Hari mengatakan, setelah adanya kelangkaan minyak goreng di pasar, pihaknya melakukan pemantauan terhadap distribusi minyak goreng dari hulu ke hilir.

"Dijumpainya permasalahan seperti masih adanya kesulitan orang mencari minyak goreng dan masih ditemui tingginya harga minyak di pasar. Untuk itu kita pantau rantai distribusi, mulai dari produsen, distributor sampai ke bawah, sampai ke market," ungkap Hari, Kamis (24/2/2022).

Banner Morula IVF Landscape

Hari menambahkan, untuk mengantisipasi panic buying, dirinya menggelar rapat dengan 7 distributor minyak goreng yang ada di Jombang. Dan hasilnya diketahui, untuk harga masih normal, sesuai dengan aturan Permedag Nomor 6 Tahun 2022.

"Untuk minyak goreng curah itu harganya masih Rp 11.500,-, kemudian kemasan sederhana masih di harga Rp 13.500,-. Untuk yang premium itu harganya Rp 15.000 dan itu sudah masuk dalam sistem, yang kami update setiap hari, artinya di Jombang tidak ada masalah," terang dia.

Menurutnya, hasil rapat yang digelar dengan distributor, diketahui ada fenomena panic buying yang terjadi di masyarakat.

"Suplier atau distributor ini mengeluhkan ada punic buying, karena banyak masyarakat yang beli secara langsung di distributor. Solusinya adalah masyarakat diharapkan menjual atau membeli minyak seperlunya. Jangan panic buying. Tentunya kami akan membuat surat pada distributor agar mereka menjual hanya pada mitra mereka," papar dia.

Saat ditanya apakah dari distributor memang ada kuota minyak yang dikurangi oleh produsen, Hari menjelaskan jika para distributor memang sempat menyampaikan ingin mendapat tambahan kuota minyak.

"Mereka berharap ada tambahan kuota minyak dari produsen. Kayak Pak Cing tadi meminta tambahan 10.000, sampai 20.000 liter. Selama ini mereka jual sesuai kuota tapi habis, tapi permintaan masih banyak," ungkapnya.

Dia menegaskan bahwa Disdagrin Jombang diharapkan menjual minyak kepada pelanggannya. Sehingga dinas mampu memantau distribusi minyak goreng.

"Kalau bisa kita kendalikan, maka kita akan mengetahui berapa konsumsi kebutuhan minyak setiap harinya. Saat ini, memang ada panic buying dan diharapkan memang ada penambahan dari produsen sehingga ada kestabilan," tambahnya.

Dia menyebut, dalam waktu dekat Disdagrin akan menggandeng sejumlah pihak untuk melakukan pengecekan ke beberapa gudang. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi penimbunan minyak goreng.

"Kami akan berkoordinasi dengan polres dan satgas pangan. Namun sebelum itu, kita akan melakukan pemantauan secara internal terlebih dahulu," tegasnya.

Sementara Tjandra Irwanto (Pak Cing) mengatakan, selama ini dirinya mendapat suplai minyak curah untuk dikemas dari PT Mega Surya Mas dan Smart.

"Dari Mega Surya itu sekitar 420 drum minyak curah untuk dikemas, kedua dari smart 420 drum dan untuk Mega Surya itu untuk mencukupi Jombang. Itu satu drum sekitar 200 liter," tutur Pak Cing.

Saat ditanya adakah pengurangan dari pihak produsen minyak, Pak Cing mengaku jika selama ini memang untuk kuotanya dikurangi.

Loading...

"Ada sedikit pengurangan kuota, karena sekarang langka," tukasnya.

Dia mengaku hanya melayani para pelanggan dan tidak dijual ke pihak luar.

"Yang penting langganan saya, saya cukupi. Kalau bukan langganan saya tidak saya layani. Untuk wilayah penjualan saya ada di Jombang, Nganjuk dan Mojokerto, dengan merek buah bapel," tandasnya.

Loading...