Pixel Code jatimnow.com

Patilasan Panji Asmorobangun (1)

Mengulik Misteri Petilasan Panji Asmorobangun di Jombang

Editor : Arina Pramudita Reporter : Elok Aprianto
Petilasan Panji Asmorobangun di Dusun Bogem, Desa Grogol, Kecamatan Diwek, Jombang. (Foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)
Petilasan Panji Asmorobangun di Dusun Bogem, Desa Grogol, Kecamatan Diwek, Jombang. (Foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)

Jombang - Sebuah petilasan di bawah pohon asam besar yang ada dekat area persawahan di Dusun Bogem, Desa Grogol, Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang, diyakini warga sekitar memiliki kekuatan magis yang luar biasa.

Di sana bersemayam Panji Asmorobangun, atau putra mahkota dari Kerajaan Jenggala.

Saat memasuki area makam kuno, kesan mistis bisa dirasakan siapa saja yang mengunjunginya. Di sana, ada dua batu nisan tanpa nama tepat di bawah pohon asam yang usianya sudah ratusan tahun.

Masyarakat sudah hafal betul tentang kisah mistis di makam Panji Asmorobangun, seperti dikisahkan Kristanto (45) warga sekitar.

“Energi di sekitar makam memang luar biasa besarnya. Jika masuk di pagar makam, itu gak ada nyamuk yang menggigit, tapi kalau keluar dari pagar makam, wah nyamuknya langsung menyerbu,” ungkap Kristanto, Minggu (6/3/2022).

Sembari menunjukkan letak makam, Kristanto bercerita, warga sekitar lebih sering menyebut sosok yang bersemayam di area tersebut, dengan sebutan Mbah Bangu.

Warga meyakini jika Mbah Bangu atau Panji Asmorobangun ini, merupakan orang pertama yang membangun pemukiman di area tersebut, yang saat ini dikenal dengan sebutan Dusun Bogem.

“Warga biasanya menyebut itu makamnya Mbah Bangu. Yak arena ini makam yang babat alas (mendirikan pemukiman, red),” jelasnya.

Meski terkesan mistis, kemunculan mbah Bangu dipercaya membawa keberkahan bagi warga, khusunya petani yang memiliki lahan garapan di sekitar makam.

“Saya pernah melihat beliau berjalan melintas di atas hamparan sawah. Ya bersyukur sawah yang dilewati mbah Bangu, panen padinya lebih bagus hasilnya dari yang lain,” katanya.

Tak hanya itu, banyak warga yang akan mengadakan hajatan, nikahan, khitanan, mengirimkan doa terlebih dahulu ke makam Mbah Bangu.

“Kalau ada yang punya gae (hajatan) pasti menaruh cokbakal (sesajen) di makam Mbah Bangu. Ya tujuannya biar tambah dapat berkah acaranya,” pungkasnya.

Makam Mbah Bangu, pembabat alasa di Dusun Bogem, Desa Grogol. (Foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)Makam Mbah Bangu, pembabat alasa di Dusun Bogem, Desa Grogol. (Foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)

Sementara itu, Mahmud (51) Kepala Dusun Bogem membenarkan jika area makam kuno tersebut merupakan makam dari Panji Asmorobangun. Bahkan, ia menceritakan, berdasarkan cerita leluhur, Panji Asmorobangun dimakamkan di area tersebut dengan anak buahnya.

“Kalau menurut orang tua-tua dulu ya itu makamnya Panji Asmorobangun, dari Demak Kedaton. Dan orang-orang sini manggilnya Mbah Bangu, ya biar lebih singkat,” ucapnya.

Baca juga:
Mustika Kembang Kantil di Petilasan Panji Asmorobangun Jombang

Ia mengaku jika sosok mbah Bangu merupakan tokoh yang pertama kali membangun pemukiman di area tersebut, dan saat ini dikenal dengan sebutan Dusun Bogem, Desa Grogol.

“Ya cerita orang-orang Mbah Bangu yang membangun di sini, dan orangnya itu di sini beserta keluarga dan prajuritnya,” kata Mahmud.

Tak sedikit warga yang pernah dijumpai sosok Mbah Bangu pada malam hari.

“Ya sekitar jam 12 malam ke atas ada yang sering lihat Mbah Bangu keluar makam, dengan menggunakan dokar ada kudanya, beserta pengawalnya untuk berkeliling dusun,” ungkapnya.

Penampakan Mbah Bangu bukan untuk menakuti warga sekitar. Kemunculannya justru untuk menjaga dusun dari ancaman bahaya, atau orang yang berniat jahat di kampung tersebut.

“Kalau mengganggu tidak, mas. Masyarakat yang mau punya acara biasanya doa di situ, bawa kembang dan lain sebagainya. Biar aman jaga desa,” tegasnya.

Sosok Mbah Bangu atau Panji Asmorobangun digambarkan Mahmud sebagai sosok berbadan tinggi, muda, ganteng dan selalu menggunakan pakaian kerajaan.

“Orangnya masih muda, tinggi, dan ganteng, biasanya pake baju kebesaran kerajaan. Dan itu keliling setiap hari di atas jam 12 malam,” paparnya.

Baca juga:
Melihat Petilasan Syekh Siti Jenar di Banyuwangi

Kisah Mbah Bangu, tersohor hingga luar Jombang. Tak jarang beberapa orang sengaja datang dengan maksud tertentu. Mahmud mengaku, jika sekarang sudah tidak ada lagi pengunjung yang menjalani ritual pesugihan atau lain sebagainya di lokasi makam.

“Warga sini juga sering nyari togel. Tapi katanya sering masuk. Sekarang udah jarang orang ritual cari togel atau pesugihan,” sebutnya.

Di area makam kuno Mbah Bangu terdapat lebih dari 9 bangunan makam lainnya.

“Ada beberapa gitu, mas, sekitar 7 atau 9 yang ada satu lokasi. Kalau sebelah barat itu banyak tapi gak ada batu nisannya. Tapi kadang orang gali di situ nemukan tulang belulang,” tegasnya.

Mahmud menegaskan, selama ini belum ada warga atau anak-anak yang diganggu di sekitar makam, meski Mbah Bangu memiliki pengawal yang berwujud manusia dan hewan buas.

“Belum ada anak kecil yang kesurupan atau rewel setelah main dari makam itu,” bebernya.

“Ya kalau macan itu pengawalnya Mbah Bangu, mas,” tukasnya.