Pixel Codejatimnow.com

Promosikan Keripik Lewat TikTok, Warga Kota Batu Sukses Tembus Pasar Luar Negeri

Editor : Sofyan Cahyono  Reporter : Achmad Titan
Khamim Tohari, pengusaha keripik asal Kota Batu.(Foto: Galih Rakasiwi/jatimnow.com)
Khamim Tohari, pengusaha keripik asal Kota Batu.(Foto: Galih Rakasiwi/jatimnow.com)

Kota Batu - Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan. Perekonomian juga ikut lesu. Tak sedikit pemilik usaha makanan yang terkena dampak pandemi sejak 2020 lalu. Salah satunya Kendedes Selecta Fruit milik Khamim Tohari, warga Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

Khamim sudah merintis usaha sejak 8 tahun silam. Akibat pandemi, usahanya sempat tutup karena minim orderan. Terlebih tempat wisata maupun pusat oleh-oleh banyak yang tutup. Banyak pekerja di sana yang menganggur.

Dari situlah, Khamim akhirnya memutar otak mencari inovasi agar bisa tetap bertahan. Salah satu caranya melalui media sosial TikTok.

"Beberapa waktu lalu saat pandemi, toko oleh-oleh nggak ada pesanan. Wisatawan menurun dan kami kehilangan pendapatan. Sehingga sejak awal Covid-19 2020 sampai Oktober 2021 tutup. Tapi saya beranikan diri memulai usaha kripik pada November 2021. Khamim kemudian mulai menggunakan media sosial TikTok, aplikasi video musik yang bisa dilakukan secara live untuk memasarkan produk," ujarnya, Sabtu (12/3/2022).

Melalui akun @keripikkendedes1, beberapa produknya dipasarkan. Hampir setiap hari produknya dipromosikan lewat TikTok. Biasanya, Khamim lebih intensif melakukannya pada hari libur. Tak disangka, aksinya banyak yang melihat sehingga pesanan pun kembali mengalir.

"Kalau hari kerja, biasanya saya promosi lewat TikTok itu pukul 12.00 WIB sama sore hari. Terus kalau Minggu kadang lebih nggak kenal waktu, karena banyak orang libur jadi momen untuk usaha," katanya.

Saat ini, pemesan keripiknya juga dari luar negeri yang rata-rata merupakan pekerja migran asal Indonesia. Seperti di Hongkong, Thailand, Malaysia dan lainnya.

Baca juga:
Dinas Pendidikan Kota Batu Gelontor Rp13 Miliar untuk Bosda 2024

Namun, Khamim merasa kemahalan dengan ongkos kirim ke luar negeri. "Biasanya lebih dari 10 bungkus pesennya. Tapi, ongkos kirimnya juga lebih mahal. Seperti ke Malaysia itu Rp95.000 per kilonya, ke Thailand juga Rp110.000, kalau bisa murah," imbuhnya.

Produksi keripik buah yang beragam seperti apel, nangka, pisang, nanas dan salak, juga dipasarkan di berbagai daerah di Indonesia. Antara lain Malang, Jakarta, Surabaya dan Bandung.

Dalam sehari, Khamim bersama pekernya bisa memproduksi total 300 kilogram keripik. Setiap kilogram jenis keripik buah dijualnya dengan harga mulai Rp110 ribu hingga Rp140 ribu.

Baca juga:
Bawaslu Kota Batu Minta Keterangan 3 Orang soal Dugaan Money Politic

Proses pembuatan keripik buah dilakukan dengan higienis. Mulai dari pengupasan, pemotongan, penggorengan, penyortiran hingga pengemasan. Setiap pegawai selalu menggunakan masker dan sarung tangan. Total ada sekitar 20 pegawai yang dipekerjakannya. Para pekerja merupakan ibu-ibu di sekitar tempat usahanya.

"Untuk omzet perhari bisa Rp1 juta sampai Rp1,5 juta. Ini kondisi menurun pada Januari sampai Maret. Mudah-mudahan setelahnya permintaan pemesanan bisa naik karena menjelang Ramadan juga," ungkapnya.

Strategi pemasaran yang dilakukannya melalui TikTok justru membuatnya kualahan memenuhi permintaan. Untuk memenuhi kebutuhan, Khamim tidak jarang bekerja sama dengan industri keripik buah lainnya. "Walaupun begitu produksi sekarang kalau dibandingkan sebelum produksi ya lebih sedikit sih. Tapi sudah lumayan, asal jalan. Harapan saya, semoga pandemi lekas berakhir," tutupnya.