Pixel Code jatimnow.com

Pengusaha Rajungan di Lamongan Terancam Bangkrut

Editor : Arina Pramudita Reporter : Adyad Ammy Iffansah
Salah satu tempat pengusaha rajungan sewaktu masih beroperasi. (Foto: Adyad Ammy Iffansah/jatimnow.com)
Salah satu tempat pengusaha rajungan sewaktu masih beroperasi. (Foto: Adyad Ammy Iffansah/jatimnow.com)

Lamongan - Pasar dagang rajungan berada pada titik terendah, harganya yang anjlok menghadapkan para pelaku bisnis dalam ancaman kolaps alias bangkrut.

Kondisi ini terus berlangsung, lantaran para eksportir menghentikan sementara pengiriman rajungan dari pengusaha di kawasan Kecamatan Paciran dan Brondong Lamongan.

Galih misalnya, pengusaha mini-plan atau penyuplai rajungan mengaku berhenti produksi. Jika biasanya pihaknya mengupas, kini tidak ada aktivitas lagi lantaran produknya tidak terjual sama sekali.

"Entah sampai kapan, di cold storage (tempat pendingin) saja masih ada 6 ton daging rajungan kupas belum terjual," ujarnya, Minggu (26/6/2022).

Dari total 6 ton yang dimilikinya, ia tidak berani melakukan produksi karena akan menambah biaya pengeluaran tanpa ada pemasukan.

Baca juga:
Sederet Ide Bisnis Dipresentasikan dalam Pemuda Wirausaha Take Off

"6 ton itu, kalau dirupiahkan Rp750 juta, kalau disimpan terus menerus bisa bangkrut," keluhnya.

Diceritakan Galih, kondisi ini juga dialami 7 pelaku usaha seperti dirinya. Selain itu, 20 pengepul rajungan lokal juga mulai terimbas dan terancam gulung tikar.

"Harga daging rajungan kupas saat ini masih Rp150 ribu per kilogram, di tingkat supplier. Serba pusing, semoga pihak terkait segera bersikap," harapnya.

Baca juga:
Cara Disperindag Lamongan Dorong Produk Lokal Naik Kelas

Kondisi ini juga turut menggugah, Ketua Himpunan Nelayan Tradisional Indonesia (HNTI) Lamongan Muchlisin Amar untuk bersuara.

"Harga rajungan ini anjlok, saat ini hanya Rp25 per kilogram. Masih kalah mahal dengan harga bekicot yang berada di angka Rp60 ribu per kilogram," ungkap Muchlisin.