Pixel Code jatimnow.com

Sate Kelinci Telaga Sarangan Magetan, Kuliner Khas Sejak 1930

Editor : Sofyan Cahyono Reporter : Mita Kusuma
Sate kelinci.(Foto: Mita Kusuma)
Sate kelinci.(Foto: Mita Kusuma)

Magetan - Berwisata ke Telaga Sarangan di Kabupaten Magetan tak lengkap jika belum mencicipi sate kelinci. Sajian khas itu sudah ada sejak 1930.

Berada di ketinggian 1200 mdpl dengan suhu 15-16 derajat celcius, kiranya pas untuk menikmati sajian sate kelinci yang dibakar langsung sebelum disajikan. Pedagang sate kelinci pun dengan mudahnya ditemui di Telaga Sarangan. Harganya juga masih ramah dikantong. Yakni sekitar Rp18 ribu untuk 10 tusuk sate kelinci beserta lontongnya.

Saat disajikan, aromanya langsung mengunggah selera. Pada gigitan pertama, jika bukan penyuka sate, bakal mengira daging ayam. Tapi bila lebih dicermati, daging sate kelinci lebih lembut daripada sate ayam. Untuk sambalnya memang sama dengan sate ayam. Bumbu kacang, ada pedas dan manisnya. Aromanya tidak khas seperti sate kambing.

Eits, tapi jangan salah, sate kelinci dapat menjadikan tubuh terasa hangat. Kolestrol yang terkandung pada daging kelinci juga sangat rendah.

"Dipercaya bisa meningkatkan stamina," ujar salah satu penjual sate kelinci, Rimin (56) sambil tertawa.

Dia mengaku telah berjualan sejak 1984. Saat itu usianya masih 18 tahun. Rimi menjual sate kelinci mulai harga Rp500 per 10 tusuk. Kemudian naik menjadi Rp750 perak, Rp1.000, Rp1.250, hingga kini Rp15 ribu per 10 tusuk.

Baca juga:
Cendol Dawet Tetap Eksis di Tengah Gempuran Boba dan Teman-temannya

Menurutnya, mencari daging kelinci di Kabupaten Magetan tak sulit. Sebab di Desa Ngerong, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan ada pusat peternakan kelinci. Satu hari, Rimin mengaku bisa menghabiskan 8 ekor kelinci. Adapun 1 ekor kelinci bisa menjadi 100 tusuk sate.

Sementara jika ditarik sejarah, ternyata pedagang sate kelinci di Telaga Sarangan sudah ada sejak 1930. Fakta tersebut terungkap dari foto yang dipajang di Gedung Kantor Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Magetan. Dalam jejak sejarahnya, terlihat dua pedagang sate kelinci. Salah satunya menggunakan pikulan untuk berdagang sate. Sementara satu pedagang ibu-ibu dengan 2 buah meja yang juga berjualan makanan.

Latar belakang foto tersebut juga masih sederhana. Telaga Sarangan tidak seperti sekarang. Dalam foto itu, Telaga Sarangan masih sangat sederhana dan belum memiliki tanggul keliling. Telaga Sarangan juga belum memiliki jalan lingkar di sekeliling telaga karena kedua pedagang terlihat berjualan di bibir telaga.

Baca juga:
Nikmatnya Nasi Gulung, Kuliner Khas Kawasan Tambang Minyak Tua di Bojonegoro

Arsiparis Muda Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Magetan Sri Rahayu menjelaskan, foto arsip yang dimiliki Pemkab Magetan diambil dari Arsip Nasional Republik Indonesia Jawa Timur.

"Dari data yang kami miliki dari ANRI, KIT Jawa Timur foto tersebut diambil 1930,” terangnya.