Pixel Code jatimnow.com

Kisah Misteri Dam Peninggalan Belanda di Turipinggir Megaluh Jombang

Editor : Sofyan Cahyono Reporter : Elok Aprianto
Bangunan dam yang dibangun pemerintah kolonial Belanda di Desa Turipinggir, Kecamatan Megaluh.(Foto: Elok Aprianto)
Bangunan dam yang dibangun pemerintah kolonial Belanda di Desa Turipinggir, Kecamatan Megaluh.(Foto: Elok Aprianto)

Jombang - Sebuah bangunan pintu air atau dam era kolonial Belanda meninggalkan sejumlah kisah misteri. Dam dibangun pada 1926. Lokasinya di sebelah Sungai Brantas, tepatnya di Dusun Doyong, Desa Turipinggir, Kecamatan Megaluh, Jombang. Bangunan ini lebih dikenal masyarakat dengan sebutan bok mata tiga.

Bangunan dam memiliki aura mistis jika dilihat di sekitar lokasi. Bangungan semakin terlihat menyeramkan karena kondisi yang sudah rusak dan terbengkalai. Banyaknya rumput-rumput yang menutupi area bangunan semakin membuat orang yang ingin mendekat menjadi merinding. Di dalam bangunan terdapat sebuah lori kereta pengangkut tebu yang juga dipenuhi dengan rumput.

"Bangunan itu peninggalan Belanda yang dibangun pada 1926. Warga sering menyebutnya bok mata tiga karena pintu airnya ada tiga," ujar Kepala Desa Turipinggir Gunasir Wibowo, Rabu (13/7/2022).

Gunasir menyebutkan, banyak cerita mistis yang beredar di kalangan masyarakat. Bahkan ada sosok-sosok misterius sering menampakan diri di hari-hari tertentu.

"Kalau cerita misterius memang sangat banyak yang beredar di kalangan masyarakat," katanya.

Konon, warga masyarakat sekitar ada yang pernah melihat sosok menyerupai manusia. Hanya saja sosok tersebut bisa berjalan di atas sungai. Selain itu, ada juga penampakan sosok bertubuh besar yang juga sering dijumpai warga di sekitar lokasi bangunan.

Baca juga:
Truk Tabrak Pohon di Lamongan, Sopir: Mata Saya Ditutup Makhluk Gaib

"Kalau penampakannya tidak sering, hanya waktu-waktu tertentu saja," terangnya.

Dikatakan Gunasir, bangunan yang dulunya digunakan sebagai pengatur air untuk keperluan pengairan sawah para warga itu memang kondisinya sudah terbengkalai dan tidak berfungsi. Pihak desa berencana melakukan sedikit perbaikan.

"Rencana kami benahi. Kami bangun atapnya. Karena itu merupakan bangunan peninggalan sejarah yang harus kami rawat," paparnya.

Baca juga:
Kisah Barongan Tua Reog Ponorogo, Kembali ke Pemilik Setelah Dijual

Saat ini, bangunan dam sering digunakan tempat berfoto para muda-mudi. Karena memang lokasinya cukup bagus untuk foto.

"Kalau sekarang sering dibuat foto sama anak-anak muda," pungkas Gunasir.