Pixel Code jatimnow.com

Melestarikan Banyolan Khas Jawa Timuran Lewat Republik Ludruk Indonesia(3-Habis)

Editor : Sofyan Cahyono Reporter : Farizal Tito
Suasana sederhana Ludrukan Charity di Kafe Kita Surabaya, Kamis (7/7/2022).(Foto: Fahrizal Tito)
Suasana sederhana Ludrukan Charity di Kafe Kita Surabaya, Kamis (7/7/2022).(Foto: Fahrizal Tito)

Surabaya - Bulan lalu, penggemar Ludruk dikejutkan dengan kabar kurang sedap, Cak Sapari. Salah satu legenda hidup Ludruk Jawa Timur itu sakit parah dan terbaring di rumah sakit.

Erland dan sejumlah rekannya pun tergugah untuk empati. Salah satunya dengan mengadakan pementasan bertajuk Charity for Sapari. Kegiatan itu berawal dari para pegiat ludruk yang mencoba untuk peduli terhadap para seniornya, Kartolo, Sapari, dan Beni.

"Kebetulan, saat ini Pakde Sapari ini sakit 8 bulan ini, tapi tidak ada perhatian dari pihak terkait. Kemudian, kita melihat tergerak untuk melakukan kepedulian terhadap beliau dan juga karena merupakan salah satu guru kita," paparnya.

Erland mengaku sudah berguru tentang ngeludruk sejak 2009 kepada Sapari Cs. Hingga kini, ia mengaku sudah menganggap sebagai orang tuanya sendiri. Maka dari itu, sejak mengetahui Sapari sakit parah dalam 8 bulan terakhir, ia dan sejumlah seniman ludruk sedih. Padahal sebelumnya mereka pernah berkunjung ke sana.

"Awalnya, saya kira sakit biasa karena sudah tua, ternyata semakin parah. Karena semakin parah, kami buat aksi untuk berobat, sebelumnya kami bawa dokter untuk memeriksa penyakitnya apa. Ternyata ada infeksi paru-paru. Bukan hanya komplikasi, tapi juga ada infeksi paru-paru, itu yang menyebabkan makannya jadi nggak bisa teratur dan masuk, semakin kurus, lalu harus dirawat di rumah sakit," ujar dia.

Berdasarkan keterangan dokter, sakit yang diderita Sapari kian parah lantaran terlalu banyak tidur dengan posisi terlentang. Kemudian, ada cairan, kuman, hingga bakteri mengendap dan menjadi penyakit.

Baca juga:
Melestarikan Banyolan Khas Jawa Timuran Lewat Republik Ludruk Indonesia (2)

"Awalnya, kami sampaikan ke salah satu media, ditanggapi, dan disampaikan ke wali kota. Lalu ada tayangan dari wali kota yang nggak mau warganya sakit dan susah, akhirnya ditanggapi dengan baik dan ditanggapi. 8 bulan lalu (tahu Sapari sakit), lalu kami gelar aksinya sejak 18 Juni sampai 5 Juli 2022 kemarin," bebernya.

Dari situ, ia dan sejumlah rekannya menggelar pementasan dari 1 kafe ke kafe untuk amal. Selain manggung, mereka juga menggelar saweran dari para penonton, baik secara konvensional mau pun transfer donasi.

"Awalnya gak sampai buka donasi, hanya main ludruk biasa, lalu sawerannya kami sumbangkan. Karena antusias penikmat Ludruk, terlebih dari Luntas, awalnya 2 tempat, akhirnya kami buka di beberapa tempat, yakni di Mbah Cokro, Kayoon, Boncafe, dan di Kafe Kita," katanya.

Baca juga:
Melestarikan Banyolan Khas Jawa Timuran Lewat Republik Ludruk Indonesia (1)

Untuk 5 kali pementasa, ia mengaku telah menerima donasi dan saweran lebih dari Rp42 juta. Berawal dari Ludruk Charity itulah, ternyata antusiasme masyarakat begitu banyak.

Oleh karena itu, ia dan sejumlah punggawa ludruk merasa, charity itu harus berlangsung secara kontinyu. Mengingat ada pada legenda hidup ludruk dan keluarga yang harus dibantu secara ekonomi.

"Ya dibantu untuk mengurus BPJS, pengobatan, kesehatan, dan lain sebagainya. Makannya, kami berusaha untuk lebih peduli makannya kami akan bikin dewan Ludrukan Surabaya yang lebih ke arah pergerakan sosial, kepedulian, khususnya seniman ludruk dan masyarakat umum, terutama bantuan untuk seniman Ludruk yang tua-tua dan tidak ada penghasilan," jelas dia.