Pixel Code jatimnow.com

Warga di Mojokerto Keluhkan Kualitas Beras BPNT: Jelek dan Berkutu

Editor : Narendra Bakrie Reporter : Achmad Supriyadi
Beras yang diterima KPM di Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto berkutu (Foto: Achmad Supriyadi/jatimnow.com)
Beras yang diterima KPM di Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto berkutu (Foto: Achmad Supriyadi/jatimnow.com)

Mojokerto - Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Desa Mojodadi, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto mengeluhkan kualitas beras yang diterimanya.

Salah satu KPM, D mengatakan, dirinya mengambil beras 30 kilogram, telur 2 kilogram dan beberapa bahan pangan lain dari besaran Rp400 ribu di agen beda desa pada Jumat (19/8/2022) setelah menggesek kartu ATM.

"Saya datang ke agen, kemudian kartunya digesek. Setelah digesek baru dikasih tahu kalau barangnya habis, disuruh kembali besok lagi. Ada dua pilihan. Pertama yang harga Rp10.000 dan Rp10.500, tapi yang Rp10.500 ribu tidak ada. Berasnya ya begini, remek (remuk)," jelas D saat ditemui, Senin (22/8/2022).

Tampak beras yang diterima wanita itu bermerek Kendil dengan kondisinya remuk dan jelek.

"Saya kan dapat 30 kilogram (kg) beras. Yang 25 kg satu sak utuh, mereknya beda bukan yang ini. Yang 5 kg dikemas dalam sak ini. Saya biasa beli di pasar, kalau kayak gitu harganya sekitar Rp8.500. Kalau harga beras Rp10.000 itu, harusnya berasnya bagus, tidak apek begini," sambung wanita berusia 25 tahun itu.

Selain D, warga lain berinisial L juga mengeluhkan kualitas beras yang diterimanya tersebut buruk dan berkutu. Dirinya menerima BPNT sebanyak 30 kg dengan kemasan 25 kg sak dan 5 kg.

Dari lokasi, beras yang dikemas dalam sak berukuran 25 kg itu bermerek Raja Lele dan yang 5 kg hanya dimasukkan plastik bening. Sekilas, beras dalam sak kemasan 25 kg tampak kusam. Sementara beras 5 kg yang berada di plastik bening kondisi berkutu.

Dua bulan ini ke agen karena kalau di e-waroeng kemarin antrenya banyak. Saya milih ke agen karena dekat, tapi ternyata kualitas berasnya remek gini, tidak saya masak," ungkapnya.

Baca juga:
Temuan Beras BPNT Tak Layak Konsumsi, Begini Aturannya Menurut Dinsos Jombang

D maupun L mengaku enggan melapor ke pendamping program. Mayoritas para KPM ini takut dan khawatir dicoret dari daftar penerima bantuan.

"Kita tidak berani mas, nanti dikira cerewet sudah diberi bantuan tidak terimakasih," ujarnya.

Sementara Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Mojokerto, Tri Raharjo Mardianto menjelaskan, masih belum menerima laporan terkait buruknya kualitas beras yang diterima sejumlah KPM di Kecamatan Kemlagi.

"Saya tadi dapat laporan dari Kemlagi juga, tapi bukan soal itu. Kalau begitu, saya turun saja ke sana. Nanti kalau tidak ada sampling komoditasnya, saya cek langsung," terang Tri.

Baca juga:
Cerita Sukatmi, Warga Tulungagung saat Terima Dana BPNT yang 'Hilang' 4 Tahun

Tri meminta agar KPM melapor ke petugas kecamatan atau langsung ke pendamping sosial Dinsos Kabupaten Mojokerto.

"Kalau memang dibutuhkan agar hak-haknya KPM terjamin, bisa lapor tikor kabupaten atau ke dinas sosial," sambungujar Tejo.

Ditanya terkait dugaan kecurangan dimana Agen BPNT Mojokumpul mencairkan saldo KPM namun tidak dibarengi dengan penyerahan bantuan bahan pokok dan baru menyerahkan keesokan harinya, Tejo menyatakan hal itu masuk kategori pelanggaran.

"Itu salah sudah. Jadi mekanismenya melakukan cek kuota dulu, setelah itu menentukan sendiri apa yang menjadi kebutuhannya sesuai permintaan KPM, terhadap barang-barang yang ditentukan Kemensos," pungkasnya.

Peristiwa

Mengenal Siklus dan Gejala Erupsi Semeru

"Siklus erupsi gunung api aktif bermacam-macam. Bisa satu tahun sekali, setiap bulan, bahkan setiap hari," kata Pakar Geologi ITS, Amien Widodo.