Pixel Code jatimnow.com

Sakralnya 7 Mata Air di Bojonegoro: Menambah Aura Kecantikan, Sucikan Waranggono

Editor : Narendra Bakrie Reporter : Misbahul Munir
Prosesi Jamasan Waranggono di Sendang Bedander, Bojonegoro (Foto-foto: Misbahul Munir/jatimnow.com)
Prosesi Jamasan Waranggono di Sendang Bedander, Bojonegoro (Foto-foto: Misbahul Munir/jatimnow.com)

Bojonegoro - 36 seniman tayub ikuti prosesi jamasan waranggono yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro di kawasan pesanggrahan Sendang Bedander, Kecamatan Dander, kabupaten setempat, Kamis (25/8/2022).

Staf ahli bidang kemasyarakatan dan SDM Pemkab Bojonegoro, kepala OPD, forkopimca, serta para tamu undangan yang hadir terlihat hikmat menikmati tari gamyong parianom dan alunan gamelan yang mendayu membuat nuansa budaya adat jawa semakin kental terasa.

Sebelum prosesi jamasan waranggono dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan pengambilan 7 mata air dari lokasi berbeda.

7 mata air itu diambil dari Sendang Giling Wesi Desa Jono, Kecamatan Temayang; Sendang Sampang Desa Buntalan, Kecamatan Temayang; Sendang Sumberarum Desa Sumberarum, Kecamatan Dander; Sendang Cancung Desa Cancung, Kecamatan Bubulan; Sendang Ngembak Desa Setren, Kecamatan Ngasem, Sendang Grogolan Desa Ngunut, Kecamatan Dander dan Sendang Bedander, Desa/Kecamatan Dander.

Masyarakat percaya bahwa kesakralan dari 7 mata air tersebut dapat mensucikan waranggono dan menambah aura kecantikannya.

Kesan sakral pun mulai terasa saat 7 mata air tersebut dijadikan satu pada gentong besar dilanjutkan prosesi pemotongan rambut dan siraman jamasan waranggono oleh Staf Ahli bidang Kemasyarakatan dan SDM didampingi Kepala Disbudpar kepada seluruh peserta.

Prosesi Jamasan Waranggono di Sendang Bedander, BojonegoroProsesi Jamasan Waranggono di Sendang Bedander, Bojonegoro

Kepala Disbudpar Bojonegoro, Budiyanto mengatakan, jamasan waranggono merupakan agenda rutin yang dilakukan dinasnya dalam upaya pelestarian tradisi budaya dan kesenian tradisional.

"Jamasan waranggono ini untuk melestarikan aktualisasi adat budaya daerah, menumbuhkan rasa cinta terhadap seni tradisi dan budaya daerah, mengenalkan budaya jamasan waranggono sebagai bagian tradisi di Kabupaten Bojonegoro. Juga memberikan fasilitas kepada para seniman," ujar Budiyanto.

Budiyanto menambahkan, dipilihnya Sendang Bedander sebagai lokasi prosesi jemasan waranggono karena memiliki nilai historis dan kesakralan.

Dia mengungkapkan, dahulunya kawasan Sendang Bedander merupakan daerah yang dituju Maha Patih Gajah Mada untuk pengamanan Raja Jaya Negara dari Kerajaan Majapahit, saat terjadi pemberontakan perang Nambi. Di mana pada masa itu masyarakat wilayah Bedander sangat loyal dan mencintai raja Majapahit.

Dahulu, sesuai dengan keyakinan agama saat itu, wilayah Bedander dianggap tempatnya para dewa pelindung (trimurti) berkumpul. Yang mana di kawasan Sendang Grogolan Desa Ngunut merupakan tempat berkumpulnya sapi yang pada saat itu dianggap sebagai perwujudan Dewa Siwa.

Sedangkan di Sendang Bedander, ada ikan sakral sebagai perwujudan Dewa Wisnu dan ada kayangan api sebagai perwujudan Dewa Brahmana.

"Sehingga sang raja pun merasa aman saat berada di sini (Bedander). Karena Bender ini merupakan tempat yang sakral dan mempunyai nilai historis. Oleh karena itu daerah ini memiliki sebutan tersendiri dari Bupati Bedander The Conner of majapahit," pungkasnya.