Pixel Code jatimnow.com

Driver Ojek Online di Kediri Resah, Tarif Naik dan Penumpang Sepi

Editor : Sofyan Cahyono Reporter : Yanuar Dedy
Para pengemudi ojek online mangkal di kawasan Jalan Hayam Wuruk.(Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)
Para pengemudi ojek online mangkal di kawasan Jalan Hayam Wuruk.(Foto: Yanuar Dedy/jatimnow.com)

Kediri - Driver ojek online di Kota Kediri resah. Kenaikan tarif dampak meningkatnya harga BBM justru membuat penumpang sepi. Penurunan penumpang ojek online di Kota Kediri mencapai 30-70 persen.

Seperti halanya dialami Nugroho, salah satu pengemudi ojek online yang biasa mangkal di kawasan pusat perbelanjaan Jalan Hayam Wuruk, Kota Kediri. Sejak Kementerian Perhubungan mengumumkan kenaikan tarif per Minggu 11 September 2020 (00.00 WIB), penumpangnya turun. Dia mengaku penurunan mencapai 30 persen.

“Sejak 2 hari ini sepi,” kata Nugroho, Senin (12/9/2022).

Selain Nugroho, Eko juga merasakan hal yang sama. Penurunan penumpangnya bahkan mencapai 70 persen.

“(Penurunan) Sampai 70 persen,” tegas Eko.

Baca juga:
Dukung PKB Gratis, Polres Ponorogo Sosialisasi ke Sopir Mikrolet dan Ojek Online

Sebenarnya para pengemudi tidak meminta perusahaan menaikkan tarif meski terjadi kenaikan harga BBM. Mengingat dampaknya justru memberatkan penumpang. Jika seperti ini, pendapatan para pengemudi ojek online bisa menurun drastis karena sepinya order.

Di perusahaan Nugroho dan Eko, terjadi kenaikan tarif sebesar Rp1.000. Sebelumnya untuk jarak 1-4 km, perusahaan menggunakan tarif Rp11.000 dan pengemudi menerima Rp7.200. Sekarang untuk jarak 1-4 km, tarif yang dikenakan Rp12.000 dan pengemudi mendapat Rp8.000. Potongan itu menurut pengemudi terlalu besar. Persentasenya lebih dari 20 persen.

Baca juga:
Gubernur Jatim Berikan Pembebasan PKB untuk Angkutan Umum dan Ojek Online

“Sebenarnya nggak naik nggak apa-apa. Yang kami inginkan penurunan potongan dari aplikasi,” tandas Eko.